Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sederet Alasan yang Buat Xabi Alonso Dipecat Real Madrid

Jersey Real Madrid
potret jersey Real Madrid (unsplash.com/Simon Reza)
Intinya sih...
  • Alonso berkonflik dengan Vinicius dan Mbappe, serta pemain lainnya
  • Gaya kepelatihan Alonso dianggap kaku
  • Padahal, persentase kemenangan Alonso paling baik dibandingkan pelatih Madrid lainnya dalam 10 tahun terakhir
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemecatan Xabi Alonso oleh Real Madrid menjadi salah satu sorotan yang paling menarik perhatian. Sebab, banyak yang menduga jika Alonso didepak bukan karena hal teknis.

Sinyal itu terlihat karena Alonso kerap berselisih paham dengan sejumlah pemain Madrid. Mayoritas dari mereka, tak suka dengan metode Alonso dalam menangani tim dan membuat friksi yang berulang.

1. Konflik dengan Vinicius yang akut, merembet ke Mbappe

Alonso awalnya bentrok dengan bintang Madrid, Vinicius Junior. Kebijakan Alonso yang mulai berani merotasinya, membuat Vinicius berontak. Bahkan, dia sempat bereaksi keras di lapangan dan memprotes Alonso terang-terangan. Belakangan, Vinicius minta maaf ke fans dan mengaku bersalah.

Meski Alonso mengklaim kondisinya baik-bajk saja, ternyata masalah masih berlanjut. Vinicius mengancam cabut dari Santiago Bernabeu jika Alonso masih jadi pelatihnya.

Konflik ini ternyata melebar ke pemain lain, seperti Jude Bellingham, Fede Valverde, bahkan Kylian Mbappe, yang merupakan pemain favoritnya. Friksi Alonso dengan Mbappe terjadi usai final Piala Super Spanyol.

Alonso meminta para pemain Madrid memberikan guard of honor kepada Barcelona yang jadi juara. Tapi, Mbappe menolaknya diikuti pemain Madrid lainnya yang merasa hal tersebut merendahkan martabat Madrid.

2. Gaya kepelatihan yang dianggap kaku

Kepala Koresponden Sky Sports, Kaveh Solhekol, menyampaikan pendapatnya soal alasan Alonso tak bisa bertahan lama di Madrid. Menurut Solkehol, pelatih bukan unsur paling penting di Real Madrid.

"Yang salah adalah, pelatih Real Madrid sebenarnya hanyalah orang ketiga paling penting di klub. Orang paling penting adalah presiden yang sangat berkuasa, Florentino Perez. Setelah itu adalah para pemain, terutama yang punya ego besar, para superstar. Baru kemudian pelatih," kata Solkehol dalam video yang dibagikan Sky Sports.

Selain itu, Solkehol beranggapan pola latihan keras dan disiplin yang kerap diterapkan Alonso tak cocok dengan budaya santai yang nyaman untuk Los Blancos.

"Dan yang telah kita lihat adalah paling berhasil di Real Madrid adalah gaya kepelatihan ringan, tidak terlalu menekan, seperti Carlo Ancelotti,” kata Solkehol.

"Saya pikir masalah dengan Xabi Alonso, baru datang dan mencoba mengubah banyak hal. Dia memaksakan caranya sendiri kepada para pemain. Dia sedikit lebih disiplin. Dia menuntut lebih banyak tanggung jawab bertahan dari para pemainnya," lanjutnya.

3. Padahal, persentase kemenangan paling baik

Pemecatan Alonso sebenarnya begitu kontras dengan prestasinya di Madrid. Selama tujuh bulan di Madrid, Alonso mencatatkan persentase kemenangan paling tinggi dibandingkan dengan pelatih Madrid lainnya dalam 10 tahun terakhir. Alonso mencapai rataan kemenangan 71 persen, bahkan melampaui Zinedine Zidane dan Ancelotti.

Berikut catatan persentase kemenangan terbaik pelatih Real Madrid dalam 10 tahun terakhir:

1. Xabi Alonso (2025-2026): 71 persen

2. Carlo Ancelotti (2021-2025): 68,8 persen

3. Zinedine Zidane (2-19-2021): 60,5 persen

4. Santiago Solari (2018-2019): 68,8 persen 

5. Julen Lopetegui (2018): 42,9 persen

6. Zinedine Zidane (2016-2018): 69,8 persen

7. Rafael Benitez (2015-2016): 68 persen

8. Carlo Ancelotti (2013-2015): 74,8 persen

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana
Follow Us

Latest in Sport

See More

4 Gol Christopher Nkunku dalam 16 Laga Pertama untuk AC Milan

15 Jan 2026, 18:14 WIBSport