Didier Deschamps dan Asal Mula Istilah Gelandang "Pengangkut Air"

Moskow, IDN Times - Tingginya hanya 176 centimeter. Untuk ukuran Eropa, jelas tidak ideal. Tapi ia menutupinya dengan kinerja di lapangan yang tak kenal lelah. Bermain pada posisi gelandang bertahan figur kelahiran Bayonne, Prancis, 15 Oktober ini selalu bermain spartan, mempertahankan tiap jengkal wilayah operasinya dari gempuran lawan.
Didier Deschamps. Inilah sosok yang dimaksud. Figur yang kini menjadi pelatih Prancis.
1. Melalui permainan Deschamps-lah istilah gelandang pengangkut air mengemuka

Gaya main ulet. Mobilitas tinggi dan mau bekerja untuk tim membuat Deschamps dikenal sebagai tipikal gelandang pekerja keras. Ia orang pertama yang akan merusak irama lawan saat ditekan, orang yang akan mematikan lawan yang berada di dekatnya, dan juga sebagai poros permainan saat mengalirkan bola.
Lantaran gaya mainnya itu, mantan rekannya di Prancis Eric Cantona menjulukinya "pengangkut air". Deschamps membalas julukan itu melalui kepemimpinnya di timnas saat mengantarkan Prancis juara Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Pada dua ajang yang gemilang bagi Prancis tersebut Deschamps adalah kapten tim.
Istilah ini sekarang banyak disebut komentator sepak bola untuk menggambarkan pemain dengan tipikal seperti sosok yang kini berumur 49 tahun.
2. Mengawali karier di Nantes

Deschamps kecil sempat mencicipi rugbi sebelum akhirnya menekuni profesi sebagai pebola. Bakatnya terendus oleh pemandu bakat Nantes. Pada April 1983 ia meneken kontrak dengan klub negaranya itu. Karier profesionalnya mulai terangkat saat membela Marseille. Ia menjuarai Ligue 1 pada 1991 dan 1992 dan menjadi bagian dari tim yang menjuarai Liga Champions pada 1993. Dalam catatan sejarah, baru Marseille-lah satu-satunya tim Prancis yang merebut gelar itu. Lebih hebat lagi, Deschamps adalah kapten termuda yang mengangkat trofi.
3. Masa keemasan di Juventus

Pada 1994 Deschamps bergabung ke klub Italia, Juventus. Bersama klub asal Kota Turin ini ia memenangi tiga gelar Serie A, satu Coppa Italia, dua Piala Super Italia, titel kedua Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Intercontinental pada 1996. Bisa dibilang, di sinilah masa keemasan dalam karier profesionalnya.
4. Karier gemilang sebagai pelatih

Sukses di jalur pemain, Deschamps memutuskan jalur profesi pelatih seusai gantung sepatu. Kiprahnya diawali bersama klub AS Monaco. Bisa dikata, debutnya gemilang. Ia membawa Monaco memenangi gelar Piala Liga pada 2003 dan menembus final Liga Champions pada 2004. Monaco dikalahkan Porto yang saat itu ditukangi Jose Mourinho. Pemain-pemain andalan Deschamps di final Liga Champions saat itu di antaranya, Patrice Evra, Ludovid Giuly, Flavio Roma hingga Fernando Morientes.
5. Juru selamat Juventus di tengah keterpurukan

Sukses dengan Monaco, Deschamps mengakhiri karier setelah diisukan adanya perbedaan pendapat dengan manajemen. Pada Juli 2006, Deschamps menggantikan Fabio Capello di Juventus. Capello mengundurkan diri karena Juve tersangkut masalah pengaturan poin dan harus bermain di Serie B.
Tangan dingin Deschamps sukses mengangkat La Vecchia Signora kembali ke Serie A pada 19 Mei 2007 dengan kemenangan tandang 5-1 atas Arezzo. Juventus keluar sebagai juara Serie B.
Tetapi kebersamaan Deschamps tidak berlanjut. Pria asal Prancis itu memilih mengakhiri karier setelah kesuksesan tersebut. Banyak yang mempertanyakan keputusan ini. Sebab, Deschamps adalah salah satu sosok yang berhasil mengangkat lagi harga diri Juventus. Semestinya dia terus bersama tim di Serie A.
6. Kiprah di timnas Prancis

Sukses di level klub, Deschamps ditunjuk meenggantikan Laurent Blanc di pos pelatih timnas Prancis usai Piala Eropa 2012. Statistiknya sejauh ini terbilang bagus. Bersama Prancis Deschamps mencatatkan persentase 60 persen kemenangan. Meski gagal memberikan gelar Piala Eropa 2016 lalu saat menjadi tuan rumah, kalah dari Portugal 0-1, Deschamps tetap dipertahankan memimpin Les Bleus hingga saat ini.
Salah satu yang menarik dari kiprah manajerialnya di timnas Prancis adalah sikap membawa keberagamaan ke dalam olahraga ini. "Olahraga itu tak punya warna. Tak punya agama. Semua diterima dalam olahraga. Ini soal keberagaman dalam tiap aspek. Ini adalah cara menyatukan orang dan penting untuk terus melakukannya."
Itulah kenapa dalam skuadnya sekarang diisi pemain-pemain dari banyak latar belakang berbeda. Termasuk memanggil Lucas Hernandez. Bek berayah Prancis dan beribu Spanyol.
Baca juga: Messi Dihujat Publik, Ini Pembelaan dari Sang Ibu
Baca berita lengkap tentang Piala Dunia 2018 di worldcup.idntimes.com



















