Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Gelandang Prancis yang Jadi Bagian Inter Milan per 28 April 2026

5 Gelandang Prancis yang Jadi Bagian Inter Milan per 28 April 2026
ilustrasi bola sepak (unsplash.com/atelierbyvineeth)
Intinya Sih
  • Lima gelandang asal Prancis pernah memperkuat Inter Milan, menunjukkan kontribusi penting mereka dalam sejarah klub meski dengan tingkat kesuksesan berbeda-beda.
  • Youri Djorkaeff dan Benoit Cauet menjadi bagian skuad juara Piala UEFA 1997/1998, sementara Ousmane Dabo, Stephane Dalmat, dan Sabri Lamouchi gagal tampil konsisten.
  • Kisah mereka menggambarkan ketatnya persaingan di lini tengah Nerazzurri serta tantangan besar bagi pemain asing untuk beradaptasi di Serie A Italia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sebagai salah satu klub raksasa di Serie A Italia, Inter Milan selalu menjadi tujuan banyak pemain top dunia. Nerazzurri bukan hanya identik dengan pemain Italia, melainkan juga deretan bintang internasional dari berbagai negara. Prancis salah satu negara yang menyumbang banyak talenta bagi perjalanan panjang La Beneamata. Beberapa di antaranya adalah pemain dengan posisi di lini tengah.

Mereka biasanya datang dengan harapan besar. Meski tidak semuanya menjadi legenda, perjalanan masing-masing tetap menjadi bagian dari sejarah Nerazzurri. Ada yang datang dengan ekspektasi tinggi, ada pula yang justru kurang bersinar. Siapa saja mereka?

1. Youri Djorkaeff memenangkan Piala UEFA 1997/1998

Youri Djorkaeff adalah salah satu pemain tengah legendaris Prancis. Ia dikenal karena kelincahan, kreativitas, teknik tinggi, dan tendangan jarak jauh akurat. Roy Hodgson sebagai pelatih Inter Milan terdahulu merekrutnya dari Paris Saint-Germain pada musim panas 1996. Nilai transfernya mencapai Rp67 miliar. Djorkaeff telah berusia 28 tahun kala itu. Usia yang tergolong senior untuk seorang pemain sepak bola.

Djorkaeff merupakan pemain dengan posisi asli sebagai gelandang serang. Ia adalah sumber kreativitas utama dari lini serang Inter Milan. Kombinasi permainannya bersama Paul Ince, Aron Winter, Nicola Berti, dan Benny Carbone memberikan keseimbangan dalam menyerang dan bertahan. Ia berhasil memenangkan Piala UEFA 1997/1998 bersama La Beneamata.

Djorkaeff bermain dalam 127 laga di berbagai kompetisi bersama Inter Milan. Ia mencatatkan 39 gol serta 25 assist dari 9.692 total menit bermain. Youri Djorkaeff yang saat ini berusia 58 tahun bertahan selama 3 musim bersama Nerazzurri. Ia melanjutkan karier nya di Bundesliga Jerman pada Juli 1999. Kaiserslautern membelinya seharga Rp26 miliar saat itu.

2. Benoit Cauet memulai musim debutnya dengan juara Piala UEFA

Pada Serie A 1997/1998, Benoit Cauet memulai musim debutnya di kompetisi tertinggi Italia. Cauet didatangkan dari Paris Saint-Germain pada musim panas 1997. Harga transfernya saat itu cukup tinggi di kisaran Rp69 miliar. Ia menyusul rekan senegaranya, Youri Djorkaeff, yang semusim sebelumnya telah bermain di sana. Cauet dikenal sebagai pemain yang memiliki kecerdasan dalam mengatur tempo permainan.

Benoit Cauet mampu bersaing dengan nama-nama tenar yang telah bermain untuk Nerazzurri sebelumnya. Aron Winter dan Nicola Berti merupakan dua nama di antaranya. Pemain kelahiran Chatellerault tersebut sempat membentuk trio mematikan di lini tengah La Beneamata bersama Diego Simeone dan Youri Djorkaeff. Ia berhasil memenangkan Piala UEFA 1997/1998.

Pemain berposisi asli gelandang tengah tersebut memainkan 147 pertandingan bersama Inter Milan. Ia mengemas 7 gol dan 12 assist dari 9.419 total menit bermain. Namun, Cauet hanya 5 musim berseragam Nerazzurri. Sebab, Torino memboyongnya ke Olimpico Grande Torino pada 2001/2002.

3. Ousmane Dabo diprediksi menjadi pengganti Paulo Sousa

Ousmane Dabo dikenal sebagai gelandang bertahan solid dan mempunyai visi permainan yang baik. Dabo dibeli dari Stade Rennais pada musim panas 1998. Inter Milan harus mengeluarkan biaya transfer sebesar Rp26 miliar. Luigi Simoni saat itu menaruh asa besar padanya. Dabo diprediksi menjadi pendamping atau pengganti dari Paulo Sousa.

Hanya saja, perjalanan karier nya bersama Nerazzurri terlihat tidak sesuai harapan. Dabo kesulitan beradaptasi dengan ketatnya kompetisi Serie A. Ia ternyata masih kalah bersaing dengan Paulo Sousa. Luigi Simoni bahkan lebih sering memainkan Andrea Pirlo yang saat itu masih berusia 19 tahun.

Dabo hanya bermain dalam 18 pertandingan tanpa torehan gol maupun assist. Gelandang kelahiran Laval tersebut sempat dipinjamkan ke LR Vicenza sebelum memutuskan hijrah secara permanen ke Parma pada 1999/2000. Gialloblu memberikan imbalan sebesar Rp269 miliar kepada Nerazzurri saat itu.

4. Stephane Dalmat memberikan keseimbangan di lini tengah La Beneamata

Stephane Dalmat bergabung bersama Inter Milan pada Januari 2001. Usianya saat itu masih 21 tahun. Dalmat biasa bermain sebagai gelandang tengah atau gelandang serang. Ia dibeli dari Paris Saint-Germain dengan mahar sekitar Rp121 miliar. Dalmat dikenal sebagi pemain dengan visi permainan tajam serta memiliki teknik individu tinggi.

Marco Tardelli sebagai pelatih terdahulu melihatnya sebagai bakat menjanjikan untuk mengisi sektor tengah Nerazzurri. Dalmat terbukti mampu bersaing dengan Clarence Seedorf, Vladimir Jugovic, Benoit Cauet, dan Cristian Brocchi. Perannya sebagai pelapis maupun pendamping para gelandang senior memberikan keseimbangan di lini tengah Inter Milan.

Debutnya pada 2000/2001 berhasil dilalui dengan cukup baik. Ia tampil dalam 17 pertandingan dengan sumbangsih 2 gol dan 1 assist. Pemain kelahiran Joue-les-Tours itu total mencetak 4 gol dan 6 assist dalam 66 pertandingan di sepanjang kariernya bersama Nerazzurri. Penampilannya mulai menurun pada 2003/2004. Inter Milan sempat meminjamkannya ke Tottenham Hotspur dan FC Toulouse. Dalmat akhirnya pindah secara permanen ke Racing Santander pada 2005/2006.

5. Sabri Lamouchi hanya bertahan semusim bersama Inter Milan

Sabri Lamouchi menjadi bagian dari skuad Inter Milan pada 2003/2004. Ia datang dengan ekspektasi tinggi walaupun usianya cukup senior di angka 31 tahun. Lamouchi sebelumnya adalah gelandang andalan Parma. Ia dikenal sebagai pemain dengan pemahaman taktik yang kuat dan mampu membaca situasi di tengah permainan.

Pelatih Hector Raul Cuper tak ragu membeli pemain Prancis tersebut jika menilik catatannya selama 3 musim membela Parma. Performa Lamouchi ternyata tak terlihat sesuai harapan. Ia kesulitan mengikuti skema permainan yang diusung oleh Hector Cuper. Perannya di lini tengah Nerazzurri makin berkurang. Cuper lebih memilih Emre Belozoglu dan Dejan Stankovic sebagai gelandang tengah.

Lamouchi total bermain dalam 26 pertandingan dan membukukan 1 assist pada 2003/2004. Ia sendiri hanya bertahan selama semusim bersama La Beneamata sebelum dipinjamkan ke Genoa pada Agustus 2004. Pemain kelahiran Lyon tersebut akhirnya bergabung bersama Olympique Marseille secara permanen pada 2005/2006.

Perjalanan lima gelandang Prancis tersebut bersama Inter Milan membuktikan betapa ketatnya persaingan di Serie A Italia. Tidak mudah bermain bersama klub sebesar Inter Milan, apalagi dengan tekanan tinggi dari berbagai sisi. Mereka hadir dengan harapan dan pergi meninggalkan kenangan. Perjalanan karier mereka tetap meninggalkan jejak dalam cerita besar sejarah Inter Milan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra
Follow Us

Related Articles

See More