Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
potret bagian luar Old Trafford, markas Manchester United
potret bagian luar Old Trafford, markas Manchester United (unsplash.com/@callacrap)

Intinya sih...

  • Filosofi 3-4-3 Ruben Amorim menemui tantangan, terbukti saat melawan Fulham

  • Kreativitas Bruno Fernandes di bawah taktik Ruben Amorim justru menurun

  • Manchester United menghadapi dilema jika tak mampu memanfaatkan Bruno Fernandes

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Manchester United memasuki era baru di bawah kepemimpinan Ruben Amorim dengan filosofi sepak bola progresif. Kedatangannya membawa harapan akan transformasi besar di Old Trafford setelah musim 2024/2025 yang penuh kekecewaan. Namun, awal perjalanan Amorim tidak mulus karena Setan Merah gagal menang dalam dua laga perdana English Premier League 2025/2026 dan memperlihatkan tantangan besar dalam penerapan sistem barunya.

Bruno Fernandes menjadi pusat perhatian dalam fase awal kepelatihan Amorim. Sang kapten tim mengalami perubahan besar dalam perannya, yang membuat para pengamat mempertanyakan efektivitas formasi baru Manchester United. Seiring meningkatnya sorotan media dan tekanan fans, Fernandes kini dihadapkan pada dilema manajemen taktik Amorim yang berusaha menyeimbangkan kebutuhan sistem dan kontribusi individu.

1. Filosofi 3-4-3 Ruben Amorim menemui tantangan, terbukti saat melawan Fulham

Ruben Amorim membangun reputasinya sebagai pelatih yang teguh dengan formasi 3-4-3, sebuah sistem yang membawanya meraih dua gelar juara Liga Portugal bersama Sporting CP. Formasi ini mengandalkan tiga bek tengah untuk memberikan stabilitas, serta dua sayap menyerang agresif untuk mempercepat transisi serangan. Dilasir The Times, Sporting mampu mencatat rata-rata penguasaan bola 65,1 persen, yang menggambarkan filosofi permainan yang menuntut dominasi sekaligus fleksibilitas.

Penerapan sistem ini di Manchester United membawa tantangan besar. Amorim mencoba menyeimbangkan DNA counter-attack Manchester United dengan visi penguasaan bola tinggi. Meskipun formasi ini menjanjikan peningkatan keamanan pertahanan dengan peran Matthijs de Ligt, Lisandro Martinez, dan Leny Yoro, lini tengah menjadi titik krusial untuk menyalurkan bola ke lini depan. Di sinilah peran Bruno Fernandes menjadi fokus, karena ia diharapkan mampu beradaptasi dengan gaya baru yang menekankan kolektivitas.

Namun, eksperimen Amorim sejauh ini memunculkan masalah koordinasi. Laga melawan Fulham menunjukkan Setan Merah belum sepenuhnya menguasai pola permainan, meski sempat unggul lebih dulu. Menurut data Football365, Fulham bahkan menguasai 52 persen penguasaan bola, lebih banyak menciptakan peluang, hingga berhasil memaksa hasil imbang.

1. Kreativitas Bruno Fernandes di bawah taktik Ruben Amorim justru menurun

Bruno Fernandes sejak awal era Ruben Amorim mendapatkan peran baru yang lebih dalam dalam sistem double pivot. Sang pelatih menerapkan perubahan ini untuk meningkatkan kualitas build-up Manchester United. Namun, keputusan tersebut justru membuat kontribusi kreatif Fernandes di lini serang berkurang.

Menurut data The Athletic, sebelum Ruben Amorim mengambil alih kursi kepelatihan, Manchester United hanya membukukan total expected goals (xG) 52,6 di Premier League 2024/2025. Catatan tersebut menyoroti betapa tumpulnya kreativitas serangan tim pada musim lalu. Meski mendatangkan Matheus Cunha dan Bryan Mbeumo dengan biaya besar pada musim panas ini, persoalan dalam membangun peluang belum terselesaikan sepenuhnya.

Pertandingan melawan Fulham mempertegas masalah ini. Fernandes jarang terlibat, gagal mengeksekusi penalti dengan baik, dan terlihat frustrasi di lapangan. Keputusan Amorim untuk menempatkan Fernandes di peran yang tidak familiar mengundang kritik tajam dari media Inggris hingga memunculkan wacana mengenai pelatih asal Portugal ini justru menumpulkan aset terbaik Manchester United ini.

Perubahan posisi Fernandes juga berdampak kepada aliran kreativitas tim. Ia kini bersaing dengan Kobbie Mainoo untuk satu posisi yang sama, sementara Mason Mount mulai menunjukkan performa meyakinkan. Situasi ini menandakan adanya pergeseran struktur di lini tengah Setan Merah, di mana Fernandes tidak lagi menjadi poros utama seperti sebelumnya.

3. Manchester United menghadapi dilema jika tak mampu memanfaatkan Bruno Fernandes

Performa solid Mason Mount di lini tengah dan persaingan dari Kobbie Mainoo membuat Bruno Fernandes berada dalam tekanan baru. Di tengah spekulasi transfer yang mengaitkan dirinya dengan klub-klub Arab Saudi, muncul pertanyaan besar mengenai masa depannya di Old Trafford. Amorim kini berada di posisi sulit, apakah ia harus mengorbankan filosofi taktiknya atau mempertahankan sang kapten dengan risiko ketidakseimbangan taktik.

Dilema ini semakin rumit karena Fernandes tidak hanya sekadar pemain, tetapi juga sebagai pembeda bagi Manchester United pada masa sulit. Melepasnya bisa merusak moral tim, tetapi mempertahankannya tanpa peran yang jelas dapat menciptakan ketidakstabilan di ruang ganti. Amorim perlu mengambil keputusan strategis, apakah memodifikasi sistem untuk mengakomodasi Fernandes atau memulai era baru tanpa sang kapten.

Manchester United tengah berada di persimpangan jalan dengan performa Bruno Fernandes yang makin dipertanyakan banyak pihak. Keputusan Ruben Amorim dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi penentu arah perjalanan tim, baik untuk membangun identitas baru maupun mempertahankan nilai tradisi yang melekat di Old Trafford.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team