FIFA Bakal Ubah Aturan Soal Pemain yang Membela Timnas

FIFA (Federation Internationale de Football Assosiation) berencana bakal mengubah aturan soal pemain sepak bola dalam membela tim nasional. Usulan baru itu berisi jika seorang pemain bisa membela timnas negara lain walau sudah membela negara asalnya di ajang resmi maksimal 2 pertandingan dan tidak ada panggilan lagi setelah itu.
Selama ini aturan yang berlaku di statuta FIFA nomor 17 menjelaskan bahwa pemain sudah tidak bisa membela negara lain jika sudah memperkuat salah satu timnas di ajang resmi level senior, namun jika pemain tersebut telah membela suatu negara di tim senior tetapi bukan di ajang resmi, ia masih dapat di izinkan bermain untuk negara lain.
Ide ini diajukan oleh Victor Montagliani selaku Presiden CONCACAF (Federasi Sepakbola Amerika Utara) yang berpendapat bahwa di era saat ini banyak masalah kewarganegaraan terjadi khusunya di Asia dan Amerika Utara. Di situasi demikian menurutnya merupakan momen tepat untuk mencari jalan keluar tanpa mencederai integritas pertandingan.
"Banyak sekali permasalahan yang mencuat beberapa tahun belakangan, karena dunia telah berubah, aturan keimigrasian juga ikut berubah," jelas Victor Montagliani seperti yang dilansir Reuters. Rencana ini akan dibahas di bulan November dan akan diputuskan sebelum akhir tahun 2017.
Diego Costa adalah pemain era sekarang yang pernah memperkuat 2 negara.

Contoh pemain yang pernah membela dua negara di zaman now ialah Diego Costa. Sempat bermain bersama Brasil Senior pada laga uji coba melawan Rusia di London, tetapi saat itu Brasil vs Rusia tidak tercatat dalam agenda FIFA dan tidak dianggap pertandingan resmi sehingga Costa masih bisa memenuhi panggilan Timnas Spanyol di level Senior.
Ekses buatnya tentu saja dianggap pengkhianat oleh publik Negeri Samba. Di Piala Dunia 2014 di Brasil, Diego bahkan terus-terusan disoraki "traitor" oleh orang Brasil saat latihan dan bertanding.
Alasan Diego Costa lebih memilih Spanyol ketimbang Brasil karena ia tidak perlu terbang jauh ke Brasil atau negara Amerika Latin lainya untuk membela timnas yang menghabiskan energi dan waktu. Selain itu Spanyol sudah memberikan kenyamanan untuk tinggal dan warga Negeri Matador itu sangat ramah kepadanya.
Legenda Madrid Di Stefano pernah membela 3 negara.

Alfredo Di Stefano merupakan legenda sepanjang masa Real Madrid yang pernah merasakan membela banyak negara. Argentina, Kolombia, dan terakhir Spanyol. Waktu itu memang belum ada peraturan yang melarang pemain membela lebih dari satu negara.
Alfredo memperkuat negara kelahiranya Argentina sebanyak 6 kali di Medio 1947, Timnas Kolombia 4 kali di tahun 1949, dan membela Spanyol di 37 penampilan dari tahun 1957 hingga 1961.
Rencana tersebut bisa mempermudah Indonesia dalam proses naturalisasi.

Apabila perubahan tersebut berlaku sejak dulu mungkin pemain seperti Radja Nainggolan bakal memperkuat Garuda, namun apapun itu tetap saja aturan FIFA yang baru soal pemain timnas bakal memudahkan kerja PSSI dalam menaturalisasi pemain keturunan Indonesia walaupun pemain bersangkutan sudah membela timnas senior di negara lain.
Sejauh ini memang belum banyak pemain berdarah Nusantara yang sudah mengenakan jersey timnas senior untuk negeri asing pada ajang resmi, tetap merupakan kabar baik untuk PSSI. Paling dekat mungkin Sandy Walsh yang kabarnya akan segera "dibaptis" menjadi WNI, Sandy sendiri merupakan warga Belanda, ia belum pernah membela Oranje di level senior baru sampai memperkuat Belanda di level usia junior.
Kabar buruknya, talenta muda Nusantara yang dicampakkan bisa direbut negara lain.

Di sisi lain bila aturan itu resmi diberlakukan maka bisa jadi pemain lokal Indonesia yang tidak lolos seleksi timnas atau tidak pernah dipanggil lagi bakal hijrah ke negeri orang. Walau tidak berhasil tapi Sutan Zico mengaku pernah ditawari Singapura untuk bermain bersama mereka setelah tahu ia gagal seleksi masuk Garuda U-16 tahun ini.
Ia lantas menolak karena Zico lahir dan lebih suka bermain di Indonesia. Aturan tersebut cukup rawan buat Indonesia, apalagi negara seperti Singapura kekurangan SDM sepakbola tapi memiliki aspek keuangan yang lebih kuat. Mereka bakal leluasa mencari bakat di tanah air untuk bermain bersama Negeri Singa.
Hal ini bisa menjadi cambuk bagi PSSI untuk lebih jeli dan fair dalam memilih pemain yang benar-benar bagus untuk membela timnas jangan sampai ada pemain yang merasa diperlakukan tidak adil seperti yang terjadi selama ini. Di level senior harus ada "affirmative action" supaya pemanggilan pemain bagus bisa lebih adil dan merata sebagai upaya "pemagaran" pemain berbakat dengan memainkanya 2 kali di ajang resmi.



















