Afrika pertama kali menggelar Formula 1 di Maroko, jauh sebelum Rwanda masuk perbincangan. Sirkuit Ain-Diab jadi panggung debut benua ini pada 1958, sekaligus menjadi ajang perebutan juara dunia pembalap antara Mike Hawthorn dan Stirling Moss. Hawthorn sukses mengunci gelar juara dunia meski finis di belakang Moss. Sayangnya, balapan itu jadi yang pertama sekaligus terakhir bagi di Maroko usai Stuart Lewis-Evans mengalami kecelakaan fatal yang merenggut nyawanya akibat luka bakar.
Afrika Selatan kemudian mengambil alih peran sebagai rumah F1 di benua ini. Balapan di sana sebenarnya sudah berlangsung sejak 1934 lewat sejumlah laga nonkejuaraan, sebelum resmi masuk kalender dunia pada 1962 ketika Graham Hill mengunci gelar juara lewat kemenangannya di Sirkuit jalanan East London. Lima tahun kemudian, giliran Sirkuit Kyalami yang mengambil alih dan mewakili sebagian besar kiprah F1 di Afrika.
Kyalami punya banyak cerita yang indah sekaligus kelam. Jim Clark mencatat kemenangan ke-25 dalam kariernya di sana pada 1968, rekor yang saat itu memecahkan capaian Juan Manuel Fangio. Ironisnya, itu menjadi kemenangan terakhirnya di F1 sebab ia tewas dalam kecelakaan balapan Formula 2 tak lama setelahnya.
Musibah kembali terjadi 9 tahun berselang yang merenggut nyawa Tom Pryce. Marshal bernama Jansen van Vuuren nekat menyeberangi lintasan sambil membawa alat pemadam api, tertabrak mobil Pryce, dan alat itu terpental mengenai helm Pryce hingga menewaskannya seketika. Peristiwa ini sekaligus menjadi tonggak sejarah perubahan regulasi keselamatan pembalap sekaligus marshal secara radikal.
Ketegangan politik pun ikut mewarnai balapan di tanah Afrika. Dilansir PlanetF1, pada 1981, aksi mogok pembalap akibat perselisihan antara Federation Internationale du Sport Automobile (FOCA) dan Formula One Constructors Association (FOCA) soal aturan superlicence memaksa status balapan diturunkan jadi nonkejuaraan. Perpecahan ini membuat balapan di Kyalami praktis hanya menjadi ajang persahabatan tanpa memperebutkan satu poin pun di papan klasemen.
Aksi boikot internasional terhadap rezim apartheid Afrika Selatan sempat menghentikan total F1 pada pertengahan 1980-an. Meski sempat menggelar balapan lagi di Kyalami pada 1992, momen itu hanya bertahan selama 2 tahun. Kemenangan Alain Prost bersama Williams pada 1993 akhirnya tercatat sebagai GP terakhir F1 di benua Afrika hingga sekarang.
Di antara deretan tragedi dan drama itu, Jody Scheckter menjadi nama yang paling bersinar. Pembalap asal Afrika Selatan ini dua kali menang di kandang sendiri, pada 1975 dan 1979, dan sampai sekarang masih menjadi satu-satunya orang Afrika yang pernah juara dunia F1. Rekornya itu bertahan hampir 4 dekade, sampai Rwanda akhirnya mengubah peta itu pada Oktober 2026.