Comscore Tracker

Jeblok di Tahun Kedua, Bagaimana Masa Depan Djanur di Persebaya?

Posisi Djanur sempat diancam manajemen akan dicopot

Jakarta, IDN Times - Berbicara mengenai pelatih lokal di kompetisi kasta tertinggi Tanah Air, nampaknya tak banyak nama yang mampu menyaingi dominasi pelatih asing. Cuma segelintir pelatih lokal saja yang bisa bertahan dan memberikan prestasi tertinggi bagi klub, salah satunya adalah Djadjang Nurdjaman.

Djanur, begitu kerap dirinya disapa, menjadi satu dari sedikit nama pelatih lokal yang mampu mempersembahkan gelar juara saat menukangi sebuah tim. Pelatih asal Majalengka itu berhasil membawa Persib Bandung menjadi kampiun di Liga Super Indonesia 2014 (sekarang Liga 1) saat mengalahkan Persipura di babak final.

Hal itu mengukuhkan dirinya sebagai orang paling sukses selama menjalani karier di dunia sepakbola Tanah Air. Sebab, pria berusia 60 tahun itu menorehkan prestasi gemilang karena pernah menjuarai kompetisi bersama Persib sebagai pemain (Perserikatan 1986), asisten pelatih (Liga Indonesia 1994/95) dan menjadi pelatih (Liga Super indonesia 2014).

1. Djanur datang menggantikan Dejan Antonic dan membawa Persib finish di posisi lima

Jeblok di Tahun Kedua, Bagaimana Masa Depan Djanur di Persebaya?ANTARA/Novrian Arbi

Namun, siap sangka, kiprah Djanur sebagai pelatih justru berliku. Walau pencapaiannya bisa dibilang cukup lumayan, karena minimal mampu memenuhi target posisi standar dari manajemen klub,  dia justru memiliki tren kurang baik kala mendapatkan kesempatan menangani sebuah tim di tahun kedua setelah sebelumnya dianggap sudah membawa posisi tim lebih baik.

Tengok saja saat dia kembali memulai romantisme lama dengan Persib pada tahun 2016, semuanya seolah berjalan lancar saat memasuki tahun perdananya di Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016. Datang di tengah jalan sebagai suksesor Dejan Antonic yang harus angkat kaki dari Kota Kembang saat kompetisi masih berlangsung, Djanur bisa membawa Persib finish di posisi lima.

Eks pemain jebolan klub Galatama, Mercu Buana Medan itu, akhirnya mendapatkan kesempatan kedua dari Persib. Ia mendapatkan target menjadi juara di Liga 1 2017. Tak tanggung-tanggung, sejumlah pemain dunia pun didaratkan di Tanah Pasundan, sebut saja Micahel Essien (Chelsea), Carlton Cole (West Ham), dan masih banyak lagi. Hal itu dilakukan untuk bisa membantu Djanur mewujudkan target manajemen.

Baca Juga: Persebaya Menang di Kandang, Djanur Akui Kelemahan Ini

2. Djanur memilih turun kelas untuk melatih PSMS di Liga 2

Jeblok di Tahun Kedua, Bagaimana Masa Depan Djanur di Persebaya?Instagram/@psmsmedanofficial

Namun, modal mentereng saja ternyata tak cukup.

Djanur justru harus terseok di kompetisi kasta tertinggi Indonesia bersama Persib. Hal itu membuat posisi Djanur goyah. Desakan dari suporter kepada manajemen untuk segera melakukan perubahan membuat dia memutuskan untuk mundur pada 15 Juli 2017 usai Persib kalah di tangan Mitra Kukar 2-1.

Total, Djanur hanya bisa membawa Persib lima kali meraih kemenangan, lima seri, dan lima kalah saat menjalani musim 2017. Ia harus meninggalkan tim saat posisi Persib masih berkutat di papan bawah, atau tepatnya di peringkat 13 saat memasuki pekan ke-15.

Usai mengundurkan diri dari Persib, Djanur sempat rehat beberapa bulan dari ingar-bingar kompetisi Tanah Air. Dia memilih beristirahat sejenak sambil meningkatkan lisensi kepelatihan yang ia miliki. Namun, kabar mengejutkan datang saat memasuki bulan September karena Djanur memilih untuk menukangi PSMS, klub yang sedang berjuang di babak 16 besar Liga 2 2017.

Mengapa demikian, karena sebetulnya pelatih yang baru saja menyelesaikan kursus lisensi A Pro ini memiliki beberapa opsi untuk memilih tawaran cukup menggiurkan dari beberapa klub di Liga 1 kala itu. Namun, dengan modal CV yang komplet, dia memutuskan turun kelas untuk menjadi arsitek Ayam Kinantan di Liga 2.

3. Usai membawa PSMS juara dua, Djanur kesulitan mengangkat prestasi tim

Jeblok di Tahun Kedua, Bagaimana Masa Depan Djanur di Persebaya?PT Liga Indonesia Baru

Walau waktu persiapan mepet, Djanur ternyata mampu membuat performa PSMS terus menjadi jadi tim yang cukup solid selama babak 16 besar Liga 2. Dengan skuat yang semuanya diisi pemain lokal, dia berhasil membawa PSMS finish di poisisi kedua setelah kalah oleh Persebaya di babak final dengan skor 2-3, dan berhasil meraih satu tiket promosi ke Liga 1.

Namun, tren buruk Djanur di tahun kedua usai dianggap membawa timnya mencapai performa terbaik kembali terulang saat menjalani musim setelahnya. Dengan modal gelar juara dua Liga 2, Djanur tak mampu mengangkat prestasi Frets Butuan dan kolega dengan magis yang dimilikinya

Alih-alih jadi tim kuda hitam, mereka malah menempati posisi juru kunci dengan poin 15 dari lima belas penampilannya. Akibatnya, manajemen PSMS kala itu geram sehingga harus mendepak pelatih yang memiliki peran sebagai gelandang selama bermain itu dari kursi pelatih klub kebanggaan Sumatera Utara tersebut pada 12 Juli tahun lalu.

4. Djanur menyulap Persebaya jadi tim yang disegani di sisa Liga 1 2018

Jeblok di Tahun Kedua, Bagaimana Masa Depan Djanur di Persebaya?ANTARA/Moch Asim

Berbekal catatan kurang baik bersama PSMS di Liga 1 2018, sosok Djanur ternyata tetap jadi lakon yang memiliki magnet bagi tim-tim lain di Liga 1. Hanya menganggur sebulan, Djanur akhirnya kembali menangani klub elite Indonesia. Kali ini, ia menjadi pelatih Persebaya, klub yang notabene adalah juara Liga 2 2017.

Sempat diragukan oleh Bonek karena kesulitan menang di lima laga awal, Djanur langsung menjawab kepercayaan dengan menyulap tim jadi lebih baik. Dia berhasil membawa timnya tampil jauh lebih konsisten dengan mempersembahkan 8 kemenangan dari 15 laga dan membawa Bajul Ijo mengakhiri kompetisi di posisi lima.

Memasuki musim baru, Djanur tetap dipertahankan manajemen Persebaya dan diberi keleluasaan dalam membangun tim untuk kompetisi. Beberapa pemain kenamaan pun diboyong Djanur ke Kota Pahlawan seperti Amido Balde, Damian Lizio, hingga Hansamu Yama Pranata. Namun, tren negatif kerap menghantui hingga pekan kelima Liga 1 digulirkan dan membuat dirinya tersudut karena gagal berikan kemenangan untuk Persebaya.

5. Posisi Djanur di Persebaya masih belum aman

Jeblok di Tahun Kedua, Bagaimana Masa Depan Djanur di Persebaya?Persebaya.id/Satrio Wicaksono

Hal itu membuat Djanur sempat digoyang isu bahwa posisinya sebagai pelatih bakal dicopot oleh manajemen lantaran belum bisa mengangkat performa Persebaya yang tampil buruk sejak kompetisi dimulai. Namun, dia tak bergeming dan tetap memilih untuk melanjutkan tugasnya sebagai nakhoda Persebaya.

“Saya sepenuhnya bertanggung jawab pada manajemen. Ketika manajemen belum memecat saya, saya akan berjalan terus. Silakan tanya kepada manajemen kapan mau memecat saya. Tapi, saya yakin dengan tim ini untuk memperbaiki ke depan,” kata Djanur beberapa waktu lalu kepada awak media.

Djanur ternyata tak asal bicara. Dia berhasil membuktikan diri mampu membawa Persebaya perlahan bangkit, setidaknya dalam dua laga terakhir yang sudah dijalani. Sebab, ia bisa mengantarkan Persebaya meraih tripoin secara beruntun sehingga kabar pemecatan tersebut berangsur menghilang.

Namun, hal itu belum sepenuhnya aman. Jika saja Persebaya tak bisa menunjukkan konsistensinya dan kembali terpeleset, bukan tak mungkin kegaliban buruknya saat menangani tim di tahun kedua kembali terulang.

Baca Juga: Cerita Djanur Putar Otak Lantaran Pemainnya Cedera Saat Lawan Borneo 

Topic:

  • Isidorus Rio Turangga Budi Satria

Berita Terkini Lainnya