Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Piala Afrika 2025 di Maroko Sepi Penonton?

ilustrasi penonton di stadion
ilustrasi penonton di stadion (pexels.com/Adera Abdoulaye Dolo)
Intinya sih...
  • Penduduk Maroko boikot AFCON karena kecewa pada penyelenggara negara
  • Calon penonton mengaku susah dapat tiket
  • Akses transportasi murah masih langka buat penggemar lokal Afrika
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Africa Cup of Nations (AFCON) alias Piala Afrika 2025 sedang bergulir dengan Maroko sebagai tuan rumah. Namun, tidak seperti beberapa edisi sebelumnya, ada satu hal mencolok dari penyelenggaraan turnamen sepak bola se-Afrika ini, yakni minimnya kehadiran penonton di stadion.

Selama fase grup, okupansi stadion di AFCON 2025 cukup menyedihkan. Padahal, dari segi infrastruktur dan fasilitas, stadion-stadion di Maroko sudah termasuk baik. Pemerintahnya bahkan menggelontorkan dana yang tidak main-main untuk turnamen ini. Lantas, kenapa penonton jadi hal langka di sana?

1. Penduduk Maroko memboikot Piala Afrika karena kecewa kepada penyelenggara negara

Krisis penonton di Piala Afrika 2025 di Maroko sebenarnya tidak mengejutkan. Kalau mau melongok kepada pertengahan tahun 2025, negeri itu sempat dilanda protes besar. Semua bermula dari kematian delapan perempuan saat melahirkan di RS Hassan II Agadir dalam waktu berdekatan. Tragedi itu membuka tabir kebusukan infrastruktur kesehatan di Maroko. Ironis, pada saat bersamaan, pemerintah Maroko sedang sibuk merenovasi Grand Stade d’Agadir, stadion yang dipakai menyelenggarakan delapan pertandingan AFCON 2025.

Protes ini kemudian membesar pada September 2025, diinisiasi anak-anak muda Maroko berusia belasan sampai awal 30-an yang terdampak krisis lapangan kerja. Tak pelak, AFCON 2025 jadi tak ada artinya buat mereka. Apalah arti penyelenggaraan turnamen sepak bola akbar se-Afrika bila mereka tak bisa mengakses hak-hak dasar nan pokok seperti fasilitas kesehatan dan pekerjaan layak? Benar saja, menurut survei yang dilakukan Sunergia Group dan L’Economiste seperti dilansir Hespress, hanya sekitar 8 persen penduduk Maroko yang mencoba membeli tiket AFCON.

2. Calon penonton mengaku susah mendapatkan tiket

Selain boikot yang dilakukan penduduk lokal Maroko, masalah lain yang bikin Piala Afrika 2025 sepi penonton adalah susahnya mendapatkan tiket resmi. Menurut testimoni sejumlah warganet, situs resmi AFCON 2025 susah diakses karena lalu lintas yang tinggi. Namun, saat mereka berhasil masuk, tiket sudah ludes terjual. Pertanyaannya, meski tiket terjual habis di situs resmi, stadion masih sepi juga. Ini mengindikasikan adanya penimbun tiket yang hendak menjualnya dengan harga tinggi alias calo.

Penonton juga diharuskan mendaftar Fan ID di aplikasi Yalla. Aplikasi ini didesain sekalian bagi penonton asal luar negeri yang hendak mengurus eVisa. Namun, bukannya memudahkan, aplikasi ini justru jadi salah satu penyebab penonton gagal membeli tiket. Keluhannya berkutat pada kelancaran akses dan gangguan bertubi-tubi. Calon penonton harus mencoba mengunduh dan memasang ulang aplikasi sampai akhirnya berhasil.

3. Akses transportasi murah masih langka buat penggemar lokal Afrika

Alasan masuk akal lain yang bisa menjelaskan sepinya penonton Piala Afrika 2025 tentu akses transportasi, terutama untuk penggemar lokal Afrika. Meski punya banyak penduduk, banyak negara di Afrika yang hidup di bawah garis kemiskinan dan masih diperparah konflik internal. Logikanya, kalau mereka harus bertahan hidup dari gaji harian, apakah bakal terbesit pikiran untuk bepergian ke luar negeri menonton turnamen sepak bola?

Belum lagi, Afrika tidak punya banyak opsi maskapai murah meriah (low-cost carrier) seperti di Eropa dan Asia. Alasannya beragam, mulai dari kecenderungan proteksionisme, mata uang yang tak stabil, ketimpangan kesiapan infrastruktur antarnegara, dan lain sebagainya. Ini membuat akses pergi ke luar negeri jadi semacam kemewahan atau privilese. Apalagi, AFCON tahun ini diselenggarakan di Maroko yang berada di Afrika Utara, lumayan jauh jaraknya dari negara-negara Afrika subsahara.

Sepinya penonton di stadion selama penyelenggaraan Piala Afrika 2025 adalah kombinasi beberapa faktor sekaligus. Namun, semuanya berkaitan erat dengan minimnya komitmen pembangunan merata di negara-negara Afrika. Pahitnya, krisis penonton AFCON 2025 di Maroko mungkin tak bakal berdampak dalam mengevaluasi ketimpangan distribusi sumber daya di Afrika. Dampaknya terlalu kecil untuk sampai mengusik kepentingan elite.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra
Follow Us

Latest in Sport

See More

Pecat Ruben Amorim, Manchester United Harus Bayar Ratusan Miliar

05 Jan 2026, 22:01 WIBSport