Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Makna 1893 di Jersey Timnas Argentina di Piala Dunia 2026

Makna 1893 di Jersey Timnas Argentina di Piala Dunia 2026
ilustrasi penggemar Timnas Argentina (Pexels.com/KOVAC .lay)
Share Article

Final Piala Dunia 2026 masih menyimpan banyak cerita. Selain pertikaian pada akhir laga dan keputusan pemain Argentina membelakangi selebrasi kemenangan Spanyol, ada satu fakta menarik yang bisa kita ulik, yakni keberadaan angka 1893 di jersey Timnas Argentina untuk turnamen elite tersebut. Angka itu diletakkan di bagian bawah kerah belakang jersey pemain. Detail yang mungkin terlewat, tetapi bikin kita bertanya-tanya. Apa yang terjadi pada tahun itu? Adakah sejarah yang bisa bikin kita mengenal Argentina lebih jauh?

1. Angka 1893 simbol tahun berdirinya Argentine Football Association (AFA)

Sederhana saja, angka 1893 merujuk kepada berdirinya Asosiasi Sepak Bola Argentina atau yang disingkat AFA. Seperti PSSI di Indonesia, mereka adalah badan resmi yang membawahi cabor sepak bola di seluruh Argentina. Tidak aneh ketika angka tersebut disertakan di jersey resmi Timnas Argentina di Piala Dunia 2026. Namun, jika diperhatikan lebih detail, AFA ternyata bisa kita ulik sebagai jejak kolonial Eropa di Argentina.

Pendiri AFA adalah seorang Skotlandia bernama Alexander Watson Hutton. Ia bahkan dapat gelar Bapak Sepak Bola Argentina berkat jasanya ini. Fakta ini mungkin membuatmu keheranan, tetapi melihat sejarahnya, Argentina memang negara yang dikuasai pendatang Eropa layaknya beberapa negara Amerika Latin lain. Skotlandia adalah salah satu negara penyuplai pendatang Eropa terbanyak di sana. Bersama orang-orang Inggris Raya lainnya, mereka pula yang diklaim membawa sepak bola ke daratan itu.

2. Negara paling putih di Amerika Latin

Arus migrasi penduduk Eropa ke Amerika didorong masalah ekonomi. Antara kabur dari kemiskinan atau tergiur kekayaan berlimpah dari eksploitasi alam dan penduduk pribumi serta budak Afrika. Khusus untuk kasus Argentina, arus migrasi orang Inggris Raya termasuk Skotlandia terjadi setelah pemerintah kolonial Spanyol di sana kolaps pada awal abad ke-19. Merdeka dari pendudukan Spanyol, Argentina jadi tanah yang menjanjikan untuk perantau Eropa lain.

Perlu diketahui, di Argentina, ada sebuah sistem kasta Eurosentris (las castas) yang berlaku sejak kedatangan koloni Spanyol. Merujuk Hampton Institute, sistem las castas membagi penduduk Argentina jadi beberapa tingkatan, yakni peninsulares, criollos, mestizos, indios, dan negros. Peninsulares dan criollos sama-sama pendatang Spanyol, tetapi dibedakan dari tempat lahir mereka. Keturunan pendatang Spanyol yang lahir di Argentina dianggap lebih rendah derajatnya ketimbang yang lahir di Eropa. Mestizos adalah orang-orang campuran Eropa dan pribumi yang menempati kasta ketiga dalam tingkatan itu. Sementara, kasta terbawah ditempati indios (pribumi) dan negros (budak Afrika). Ada beberapa istilah lain untuk penduduk campuran seperti mulatos (campuran Afrika dan Spanyol), pardos (campuran Spanyol, pribumi, dan Afrika), dan zambos (campuran pribumi dan Afrika).

Ketika pemerintah kolonial Spanyol kolaps, jangan bayangkan penduduk pribumi yang mengambil alih kekuasaan. Faktanya, Inggris Raya sempat mengirim pasukan untuk menginvasi Rio de La Plata pada 1806—1807. Mereka kalah dari tentara criollos yang akhirnya menguasai Argentina. Cek saja latar belakang para pemimpin Argentina sepeninggal penjajah Spanyol macam Bernardino Rivadavia, Domingo Sarmiento, serta Julio Argentino Roca, pencetus aksi genosida terhadap pribumi, Conquest of the Desert.

Selama criollos berkuasa, kebijakan Argentina masih Eurosentris. Semua pemimpin Argentina pada era nation-building melakukan upaya “pemutihan” penduduk. Selain genosida dan promosi pernikahan campuran, mereka berkolaborasi dengan pendatang Inggris yang tadi mereka kalahkan dalam bidang ekonomi. Mereka juga membuka keran imigrasi dari Inggris Raya, termasuk Skotlandia. Imigran ini dengan cepat mengambil alih lahan, membangun bisnis, dan bahkan memperkenalkan sepak bola sepaket dengan teknik komersialisasinya, yakni dengan pembentukan klub profesional, turnamen, dan institusi.

3. Lebih tepat disebut negara pendatang ketimbang jajahan

Merujuk laporan Genocide Watch, criollos dan para pendatang Eropa melanjutkan eksploitasi yang sudah ada sejak era kolonial Spanyol. Korbannya lagi-lagi penduduk pribumi. Setelah Conquest of the Desert pada 1870-an, masih ada Tierra del Fuego Gold Rush (1883—1906), sebuah proyek genosida gabungan yang dilakukan pemerintah Chile, Argentina, dan pemilik kepentingan lain asal Eropa untuk “membersihkan” lahan potensial dari penduduk pribumi yang tak mau berkompromi. Tak heran bila menurut sensus yang dilakukan The National Institute of Statistics and Censuses (INDEC) pada 2022, jumlah penduduk pribumi Argentina hanya 2,9 persen dari total penduduk.

Ketimbang negara jajahan, tak salah bila sebagian berpendapat bahwa Argentina lebih cocok disebut negara pendatang (ekspansi dari kolonialisme) layaknya Amerika Serikat dan Australia. Penduduk yang kini kita kenal sebagai orang Argentina sekarang tak pelak adalah keturunan pendatang Eropa yang tidak sepenuhnya jadi korban penjajahan, tetapi juga pelaku penjajahan itu sendiri. Argumen ini memang masih jadi perdebatan sengit di kalangan sejarawan.

Siapa sangka, dari angka 1893 di jersey Argentina pada Piala Dunia 2026, sebuah fakta sejarah tersingkap. Benar kata orang, sejak Piala Dunia 2026 kita tidak bisa melihat Argentina dengan cara yang sama lagi. Apa pendapatmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More