Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Membedah Pelanggaran Finansial Manchester City dan Ancaman Sanksinya
potret Etihad Stadium, markas Manchester City (unsplash.com/Tibi Isaiah)
  • Manchester City dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 dakwaan finansial setelah persidangan komisi independen selama 12 minggu, menyusul investigasi Premier League yang dimulai pada 2019.
  • Pelanggaran mencakup pemalsuan laporan keuangan, penyamaran dana pemilik sebagai sponsor, kompensasi tersembunyi, pelanggaran PSR dan FFP, serta penghambatan penyidikan.
  • Komisi independen dapat menjatuhkan pengurangan poin, denda, pembatalan gelar, degradasi, atau pencoretan kompetisi; putusan juga membuka peluang gugatan ganti rugi dari klub rival.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saga skandal finansial Manchester City akhirnya menemukan titik terang. The Cityzens resmi dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 dakwaan pelanggaran keuangan setelah melalui proses persidangan panjang di komisi independen. Putusan ini langsung mematahkan klaim tidak bersalah yang selama bertahun-tahun dipertahankan oleh klub.

Hasil persidangan memperlihatkan kontras tajam antara prestasi mentereng mereka di lapangan dan kejujuran pengelolaan anggaran. Reputasi klub kaya ini berada di posisi sulit akibat ancaman sanksi yang berpotensi merusak masa depan tim. Penelusuran kronologi kasus menjadi kunci penting untuk memahami seberapa besar dampak skandal tersebut terhadap kompetisi.

1. Bagaimana awal mula terungkapnya pelanggaran finansial Manchester City?

Kasus ini bermula dari aksi Rui Pinto, seorang peretas asal Portugal yang mengoperasikan situs Football Leaks pada 2015. Dengan nama samaran "John", ia menghimpun puluhan juta berkas rahasia berisi transaksi gelap dan kontrak internal berbagai klub Eropa. Dokumen bocoran itu kemudian membuka jalan bagi penyelidikan pembukuan terselubung di industri sepak bola.

Pada November 2018, majalah Jerman, Der Spiegel, mempublikasikan laporan investigasi berdasarkan dokumen rahasia tersebut. Laporan itu membongkar taktik manajemen Manchester City yang memanipulasi nilai kontrak sponsor asal Uni Emirat Arab. Langkah rekayasa nilai kerja sama itu diambil demi meloloskan klub dari pembatasan Financial Fair Play (FFP) UEFA.

Temuan Der Spiegel mendorong UEFA menggelar investigasi hingga menjatuhkan sanksi larangan tanding di Eropa selama 2 tahun pada 2020. Namun, Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) lantas membatalkan hukuman tersebut setelah Manchester City mengajukan banding. Keputusan CAS didasarkan pada fakta bahwa sebagian besar dugaan pelanggaran telah kadaluarsa secara aturan waktu.

Tanpa terpengaruh putusan CAS, pengelola English Premier League (EPL) meluncurkan investigasi independen sejak 2019. Setelah mengumpulkan bukti, otoritas liga resmi melayangkan 115 dakwaan kejanggalan keuangan pada Februari 2023. Persidangan selama 12 minggu pada akhir 2024 berakhir dengan vonis bersalah atas 114 dari 115 dakwaan yang dituduhkan.

2. Apa saja aturan finansial yang dilanggar Manchester City?

Menghimpun The Athletic, Telegraph, BBC, dan ESPN, rincian 114 pelanggaran yang menyeret Manchester City membongkar bagaimana rekayasa finansial dijalankan secara terstruktur, sistematis, dan masif. Komisi independen menemukan beragam bentuk manipulasi, mulai dari akal-akalan dana sponsor, skema gaji di bawah meja, hingga sikap membangkang selama proses penyidikan. Seluruh temuan tersebut terbagi ke dalam lima kelompok pelanggaran utama yang menjadi inti dari skandal ini. 

  • Sebanyak 54 dakwaan berfokus pada pemalsuan laporan keuangan bulanan dan tahunan klub secara berulang. Manajemen terbukti menyamarkan dana langsung dari Sheikh Mansour selaku pemilik Abu Dhabi United Group sebagai pembayar sponsor resmi. Praktik ini melibatkan perusahaan Etihad Airways, Etisalat, serta perantara Jaber Mohamed ('Person X') dalam skema aliran dana 30 juta pound sterling (Rp714,9 miliar)

  • Pelanggaran berikutnya berkaitan dengan 14 dakwaan penyembunyian nilai riil kompensasi manajer serta pemain. Penyelidik menemukan skema gaji tersembunyi milik mantan pelatih Roberto Mancini di luar dokumen resmi klub. Mancini menerima pembayaran terpisah melalui kontrak sampingan sebagai penasihat di klub Al Jazira yang juga milik Sheikh Mansour.

  • Premier League juga menjatuhkan 7 dakwaan terkait pelanggaran Profitability and Sustainability Rules (PSR). Laporan keuangan yang diubah membuat pembukuan klub seolah-olah tetap berada di bawah ambang batas kerugian maksimal. Manipulasi ini menyembunyikan kondisi beban pengeluaran operasional tim yang sebenarnya sudah melampaui batas regulasi domestik.

  • Di tingkat regional, klub menghadapi 5 dakwaan atas pelanggaran regulasi FFP yang ditetapkan UEFA. Ketidakakuratan data pembukuan di Premier League otomatis memicu pelanggaran syarat lisensi klub Eropa. Kondisi tersebut membuat Manchester City mengantongi izin berkompetisi di Liga Champions dengan dokumen keuangan yang cacat hukum.

  • Rangkaian pelanggaran ditutup oleh 35 dakwaan mengenai tindakan menghambat proses penyidikan resmi. Pihak Manchester City terus-menerus menolak menyerahkan berkas keuangan penting serta salinan korespondensi email internal kepada tim pemeriksa. Sikap tidak kooperatif ini dinilai sebagai bentuk perlawanan sengaja untuk menyembunyikan bukti transaksi bermasalah.

3. Sanksi apa saja yang membayangi Manchester City setelah dinyatakan bersalah?

Merujuk pada aturan Premier League pasal W.51, komisi independen mengantongi wewenang penuh untuk menetapkan bentuk hukuman. Sanksi yang membayangi meliputi pengurangan poin, pembatalan gelar juara periode 2009–2018, denda skala besar, hingga pencoretan dari kompetisi. Opsi pencoretan keanggotaan atau degradasi paksa menjadi ancaman paling serius bagi keberlangsungan tim di kasta tertinggi.

Vonis bersalah ini membuka jalan bagi para rival untuk mengajukan gugatan hukum secara kolektif. Manchester United, Liverpool, Arsenal, dan Tottenham Hotspur bersiap menuntut ganti rugi hingga ratusan juta pound sterling. Langkah ini didasari akibat kerugian finansial yang mereka tanggung akibat kehilangan peluang mengangkat trofi kejuaraan dan tiket bernilai tinggi ke Liga Champions Eropa.

Dilansir Telegraph, dari jajaran Big Six, Chelsea memilih absen dan menolak bergabung dalam aksi gugatan hukum tersebut. Sikap ini tidak lepas dari kuatnya pengaruh jaringan investasi Abu Dhabi di ranah bisnis global, terutama sepak bola. Para pemilik klub diyakini mempertimbangkan peran vital Mubadala, dana kekayaan berdaulat (sovereign wealth fund) pimpinan Khaldoon Al-Mubarak, yang bernilai strategis bagi peta finansial mereka.

Dari internal Manchester City, putusan ini berpotensi merusak iklim kerja serta meruntuhkan struktur manajemen senior. Posisi jajaran petinggi klub, seperti Chairman Khaldoon Al Mubarak dan CEO Ferran Soriano, kini berada di ujung tanduk. Pengunduran diri para eksekutif kunci bakal mengguncang stabilitas manajerial yang selama ini menopang operasional tim.

Ketidakpastian arah klub turut membayangi masa depan para pemain. Absennya kepastian tampil di ajang Eropa bisa memicu kepindahan massal sejumlah pilar penting secara bersamaan. Situasi sulit ini mengancam keberlanjutan prestasi yang telah dibangun klub lewat investasi dana yang sangat besar.

Kasus Manchester City menjadi titik balik penting dalam penegakan transparansi anggaran di ranah sepak bola profesional. Hukuman atas 114 pelanggaran ini menegaskan, kepatuhan regulasi finansial berlaku setara bagi semua kontestan dalam menjaga integritas kompetisi jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article