Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Albert Riera, Pelatih Muda Potensial yang Jarang Disorot

ilustrasi pelatih sepak bola dalam sesi latihan
ilustrasi pelatih sepak bola dalam sesi latihan (pexels.com/FrancoMonsalvo)

Albert Riera ditunjuk sebagai pelatih baru Eintracht Frankfurt menggantikan Dino Topmoller pada 2 Februari 2026. Kehadiran eks pemain Liverpool dan Manchester City itu diharapkan mampu mengangkat posisi Frankfurt menuju zona kompetisi antarklub Eropa terutama empat besar di klasemen Bundesliga Jerman agar lolos ke Liga Champions Eropa (UCL) 2026/2027. Selain itu, Riera dituntut memperbaiki performa Frankfurt yang inkonsisten dalam 20 pertandingan Bundesliga dan 8 laga fase liga UCL 2025/2026.

Semasa berkarier sebagai pemain, ia berada satu generasi dengan para pesepak bola top Spanyol, seperti Xavi Hernandez, Xabi Alonso, dan Joan Capdevilla. Namun, kualitasnya sebagai pelatih belum teruji di lima liga top Eropa. Meski begitu, filosofi permainan, gaya melatih, dan rekam jejaknya sebagai pelatih patut diperhitungkan. Riera termasuk pelatih muda penuh potensi dengan prospek menjanjikan.

Mari mengenal lebih dalam sosok Albert Riera. Berikut profil lengkapnya.

1. Belajar banyak dari para pelatih top, seperti Rafael Benitez, Luis Aragones, dan Ernesto Valverde terkait filosofi sepak bola

Albert Riera pernah dilatih beberapa pelatih papan atas Spanyol, seperti Ernesto Valverde ketika membela Espanyol pada 2006--2008 dan Rafael Benitez kala berseragam Liverpool pada 2008--2010. Dilansir The Coaches Voice, ia mengungkapkan soal sosok Benitez, Valverde, Luis Aragones, Fatih Terim, dan Domenec Torrent, yang memberikan banyak inspirasi dan pelajaran terkait filosofi sepak bola. Riera menimba ilmu soal cara melatih, menangani ruang ganti, dan menghadapi tekanan dari sosok-sosok tersebut.

Menurutnya, Benitez memberikan banyak pelajaran terkait pemahaman taktik. Valverde menunjukkan cara bermain sepak bola dengan simpel. Riera belajar banyak dari eks pelatih Timnas Spanyol, Luis Aragones, terkait memotivasi para pemain. Sementara itu, ketika menjadi asisten Fatih Terim di Galatasaray, Riera mendapat inspirasi soal manajemen dan memahami kebutuhan tim. Ia kemudian menimba ilmu soal penerapan taktik dan menyampaikan kepada pemain ketika menjadi asisten Domenec Torrent di Galatasaray.

2. Menimba ilmu dari program kepelatihan yang diselenggarakan RFEF bersama Xavi, Raul Gonzalez, dan Xabi Alonso

Riera memutuskan gantung sepatu ketika usianya memasuki 36 tahun setelah terakhir membela FC Koper pada Januari--Juli 2016. Tidak lama setelah itu, ia dipanggil federasi sepak bola Spanyol atau RFEF untuk mengikuti program kepelatihan bersama para pesepak bola yang baru pensiun. Riera kala itu megikuti program tersebut bersama eks bintang Timnas Spanyol, seperti Xavi Hernandez, Xabi Alonso, Raul Gonzalez, Joan Capdevilla, dan Marcos Senna.

Dilansir The Coaches Voice, ia merasa program tersebut banyak membantu memahami peran pelatih, taktik, dan manajemen tim. Program tersebut memancing para peserta untuk berpikir kritis dan berdiskusi dengan memberikan pertanyaan. Misalnya, ada pertanyaan mengenai jika bola berada di zona antara bek dan gelandang, maka siapa yang harus keluar dari posisi. Riera bersama rekan-rekannya berdiskusi, berdebat, dan saling tukar pandangan mengenai satu pertanyaan tersebut.

3. Selalu menggunakan format empat bek dengan skema 4-3-3

Albert Riera menyukai formasi dengan mengandalkan empat bek ketimbang tiga bek. Dilansir Transfermarkt, tercatat ia secara konsisten selalu bermain dengan sistem empat bek, seperti 4-3-3, 4-1-4-1, dan 4-2-3-1. Uniknya, Riera bukan pelatih yang memainkan gaya permainan tertentu.

Dilansir The Coaches Voice, ia menegaskan tidak ada sistem baku atau gaya bermain sempurna. Riera mengatakan gaya dan sistem permainan akan menyesuaikan lawan-lawan yang dihadapi dan materi pemain yang dimiliki tim. Ia termasuk pelatih adaptif dan fleksibel.

4. Prestasinya selama melatih NK Olimpia Ljubljana dan NK Celje cukup impresif

Albert Riera ternyata punya prestasi mentereng bersama dua klub Prva Liga Slovenia, NK Olimpija Ljubljana dan NK Celje. Ljubljana menjadi klub pertama yang ia tangani sebagai pelatih kepala. Riera sukses mengantarkan Ljubljana menjuarai Prva Liga dan Pokal Slovenjie 2022/2023.

Ia kemudian melatih NK Celje, tetapi hanya bertahan 3 bulan pada Juli--Oktober 2023. Sebab, Riera menerima tawaran melatih salah satu mantan klubnya semasa menjadi pemain, Girondins de Bordeaux, yang berkompetisi di Ligue 2 Prancis pada Oktober 2023. Sayangnya, ia gagal mengantarkan Bordeaux promosi ke Ligue 1 dan mencatat rekor 14 kemenangan, 6 berimbang, dan 12 kekalahan dalam 32 laga di semua kompetisi. Riera kembali menukangi NK Celje pada Juli 2024. Ia sukses membawa klub tersebut meraih gelar juara Pokal Slovenije 2024/2025.

Rekam jejak karier Riera sebagai pelatih memang belum begitu banyak. Namun, pelajaran yang ia terima dari para pelatih top macam Benitez, Valverde, Aragones, Terim, dan Torrent, memberikan pengaruh penting. Terbukti, Riera mampu mengantarkan NK Olimpija Ljubljana dan NK Celje menjuarai kompetisi domestik, seperti Prva Liga dan Pokal Slovenije. Ia kini mendapat tantangan baru dengan melatih Eintracht Frankfurt yang merupakan salah satu klub besar di Bundesliga. Mampukah ia memberikan prestasi mentereng kepada Frankfurt?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Atqo Sy
EditorAtqo Sy
Follow Us

Latest in Sport

See More

4 Pemain Atletico Madrid dari Meksiko sebelum Obed Vargas

07 Feb 2026, 21:58 WIBSport