Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menyambut Era Baru Ekuador Lepas Piala Dunia 2026
ilustrasi pertandingan (unsplash.com/sheriffmagdy)
  • Ekuador tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026 usai kalah 0-2 dari Meksiko, namun tampil solid sepanjang turnamen dengan skuad muda berusia rata-rata 26,2 tahun.
  • Moises Caicedo resmi menggantikan Enner Valencia sebagai kapten tim nasional Ekuador, menandai dimulainya era baru kepemimpinan dalam skuad muda La Tri.
  • Pelatih Sebastian Beccacece mengundurkan diri setelah kontraknya berakhir pasca kekalahan dari Meksiko, membuat federasi harus mencari sosok baru untuk melanjutkan progres tim.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Perjalanan Ekuador di Piala Dunia 2026 terhenti pada 32 besar. Mereka menyerah 0-2 dari tuan rumah Meksiko. Namun, meski berakhir mengecewakan, kiprah Ekuador usai ajang yang juga digelar di Amerika Serikat dan Kanada ini justru menjadi salah satu yang paling menarik untuk dinantikan.

1. Tim dengan rata-rata usia termuda kedua di Piala Dunia 2026

Ekuador lolos ke Piala Dunia 2026 meyakinkan. Mereka menjadi runner-up di bawah Argentina pada fase kualifikasi. Hasil ini menyamai pencapaian pada edisi 2002 silam. Saat itu, Ekuador memang mengoleksi poin lebih banyak (31 poin). Namun, pada 2026 (29 poin), penampilan mereka jauh lebih solid. Ekuador cuma kalah 2 kali (5 pada 2002) dan merupakan tim dengan jumlah kebobolan paling minim (5 gol, 20 pada 2002).

Tim nasional berjuluk La Tri ini lantas memasuki Piala Dunia 2026 sebagai skuad dengan rata-rata usia termuda kedua (26,2 tahun). Menariknya, sebelum takluk 0-2 dari Meksiko pada 32 besar, satu-satunya kekalahan terjadi ketika bertemu kontestan dengan rata-rata umur paling muda, Pantai Gading (25,9 tahun). Ekuador kalah secara dramatis akibat gol tunggal Amad Diallo pada menit 90.

Setelah itu, Ekuador kembali meraih hasil yang mengecewakan karena cuma imbang 0-0 dengan peserta debutan, Curacao. Namun, mereka secara mengejutkan berhasil menaklukkan Jerman 2-1 pada partai fase grup terakhir. Ekuador bahkan meraihnya secara comeback. Mereka tertinggal akibat gol Leroy Sane pada menit kedua. Nilson Angulo lantas menyamakan kedudukan 7 menit berselang. Gonzalo Plata akhirnya menghadirkan momen penentu pada menit 77.

2. Era baru dengan Moises Caicedo sebagai kapten

Di Piala Dunia 2026, hanya ada 2 pemain berusia di atas 27 tahun yang memainkan peran penting untuk Ekuador. Pertama adalah Hernan Galíndez (39 tahun) yang berposisi sebagai kiper. Kedua adalah Enner Valencia (36 tahun) yang beroperasi sebagai striker sekaligus kapten mereka. Menariknya, Valencia menjadikan Piala Dunia 2026 ini sebagai waktunya untuk meletakkan tanggung jawab kepemimpinan tersebut.

Sebuah pemandangan menarik memang tampak dalam pertandingan terakhir fase grup melawan Jerman. Valencia bermain sebagai starter, tetapi ban kapten tersemat di tangan Moises Caicedo. Dalam sebuah sesi pertemuan tim usai laga, seremoni pergantian kapten itu akhirnya terjadi. Valencia menyebut langkah ini diambil demi menjaga perkembangan serta keharmonisan skuad yang memang tengah menuju era baru.

Caicedo dipilih karena merupakan pemain yang paling layak. Di skuad Ekuador di Piala Dunia 2026, gelandang Chelsea berusia 24 ini merupakan kolektor caps terbanyak kedua (65) di bawah Valencia (109). Selain itu, Caicedo juga bisa dibilang menjadi wajah utama sepak bola Ekuador di kancah global berkat kepindahannya dari Brighton & Hove Albion ke Chelsea pada musim panas 2023 dengan mahar fantastis.

3. Mencari pengganti Sebastian Beccacece

Tidak hanya kapten, Ekuador juga dipastikan bakal memiliki pelatih baru setelah Piala Dunia 2026. Sebab, Sebastian Beccacece yang memegang tugas tersebut sejak 2024 memilih untuk mengundurkan diri. Keputusan ini diumumkan langsung setelah kekalahan 0-2 dari Meksiko.

Kontrak Beccacece memang resmi habis setelah Piala Dunia 2026. Namun, pria asal Argentina berusia 45 tahun itu mengungkapkan sebetulnya ada kemungkinan kerja sama berlanjut. Namun, ia memilih untuk tidak melakukannya akibat merasa gagal memberikan hasil terbaik.

Seperti telah dijelaskan, Kualifikasi Piala Dunia 2026 merupakan bukti progres Ekuador di bawah Beccacece. Hasil pada putaran final pun sebetulnya bisa dimaklumi. Namun, Beccacece telah membuat keputusan. Kini, tugas federasi untuk menemukan pengganti yang tepat.

Ekuador meraih hasil yang mengecewakan di Piala Dunia 2026. Namun, ada banyak hal positif yang mereka dapatkan yang bakal sangat berguna untuk ke depannya. Andai perkembangan terjaga, tidak mengherankan jika mereka mampu membuat kejutan di Copa America 2028 dan Piala Dunia 2030.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article