Hasil Penelusuran: 4 Penyebab Timnas Islandia Lolos Piala Dunia

Islandia memastikan diri lolos ke Piala Dunia Rusia tahun depan usai mengalahkan Kosovo dengan skor 2-0. Dua gol dari Gylfi Sigurdsson dan Johann Gudmunsson sudah cukup untuk membawa negara berpenduduk "hanya" 334 ribu orang (Sama dengan jumlah penduduk kota Cirebon!) tersebut tampil di ajang sepakbola paling prestius untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.
Ada sebuah anekdot yang mengatakan bahwa Timnas Islandia adalah 23 orang terpilih "yang mampu bermain sepakbola" sejak orang-orang yang tinggal di pulau penuh gunung berapi itu terdiri dari wanita menawan, pria obesitas, para peternak domba dan bankir-bankir bangkrut.
Satu pertanyaan tentu saja muncul : kenapa mereka bisa lolos ke Piala Dunia? Iklim mereka dingin sepanjang tahun, dan dijamin setiap orang berpikiran sehat akan lebih memilih berdiam di dekat perapian daripada bermain sepakbola di lapangan.
Tapi, memang itu kenyataan yang terjadi. BBC pernah menelusuri apa saja yang Islandia lakukan untuk sepakbolanya, dan berikut hasilnya...
Infrastruktur yang mendukung.

Benar, seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa iklim Islandia kurang mendukung untuk bermain sepakbola di lapangan terutama saat musim dingin tiba.
KSI (PSSI-nya Islandia) mulai memikirkan hal tersebut sejak pertengahan 1990-an. Dan solusi kemudian muncul : kenapa tidak membangun lapangan sepakbola dalam ruangan saja?
Lapangan indoor pertama di Islandia diresmikan sejak tahun 2000 lalu. Kini telah bertambah menjadi tujuh, melengkapi 30 lapangan sepakbola berukuran standar yang tersebar di seluruh pulau tersebut. Ada juga 150 lapangan indoor dengan ukuran lebih kecil yang membantu anak-anak di level akademi agar dapat terus bermain sepakbola di musim dingin.
Heimir Hallgrimsson, pelatih Timnas Islandia, mengatakan bahwa lapangan indoor sangat membantu tim-tim lokal dan akademi untuk tetap berlatih sepanjang tahun.
"Orang-orang yang sekarang bersama kami di tim nasional pasti pernah bermain di lapangan indoor. Banyak juga yang melakukannya sebagai bagian dari pelatihan mereka saat masih bergabung di akademi. Mereka bisa pergi keluar jika cuacanya mendukung, tapi mereka selalu memiliki fasilitas yang bagus untuk berlatih (di dalam ruangan),".
Satu hal lagi, seluruh lapangan (baik indoor atau outdoor) berstatus kepemilikan publik sehingga masyarakat bisa menggunakan dengan bebas tanpa harus mengeluarkan biaya sepeserpun.
Pelatih berkualitas ada di mana-mana.

Islandia boleh saja tidak memiliki klub sepakbola profesional, tapi untuk urusan jumlah pelatih berlisensi UEFA, tidak ada yang mampu menandingi mereka.
Berdasarkan data KSI yang dikeluarkan pada awal tahun 2016, Islandia memiliki 180 pelatih berlisensi A (13 di antaranya berlisensi "Pro") dan 639 pelatih berlisensi B.
Ini berarti, bahkan tim sepakbola remaja dari sebuah desa nelayan pun memiliki pelatih yang kualitasnya tidak perlu diragukan lagi!
Hal tersebut merupakan buah dari kebijakan KSI yang melakukan kursus kepelatihan dengan biaya yang cukup terjangkau dan diadakan di Reykjavik, ibukota Islandia. Mereka memang sengaja memilih tidak mencari keuntungan dari setiap kursus yang diadakan.
Para pelatih sepakbola di Islandia tersebar mulai dari tim semi-profesional, tim amatir, tim wanita, tim akademi dan bahkan tim dari segala tingkatan usia.
Heimir Hallgrimsson, yang kini melatih Timnas Islandia, menghabiskan seluruh karier kepelatihannya di Islandia sembari bekerja paruh waktu sebagai dokter gigi. Namun dia tak memungkiri besarnya daya tarik orang-orang untuk menjadi pelatih sepakbola.
"Setiap kota atau desa di Islandia ingin memiliki tim sepakbola yang bagus demi orang tua dan anak-anak, dan di sini lebih mudah untuk melatih jika punya lisensi UEFA A atau B," katanya.
"Saya pikir itulah bedanya. Kami mengajar anak-anak sejak masih kecil dan memberi mereka pengajaran yang baik dari pelatih berkualitas. Karena itulah kami mendapatkan banyak pemain muda yang pergi ke luar negeri lebih cepat pada usia 17, 18, 19, jika mereka ingin melanjutkan karir ke tingkat profesional,".
Pemberian ilmu dari pelatih berkualitas sejak masih belia juga menjadi resep ampuh untuk melahirkan pemain-pemain muda bertalenta. Hal itu didukung oleh kebijakan kontrak pemain yang hanya berdurasi satu sampai dua tahun. Kebijakan itu memudahkan tim-tim Eropa untuk merekrut mereka.
Kebiasaan "merantau" para pemain sejak masih belia.

Gylfi Sigurdsson, pemain andalan Timnas Islandia saat ini, memulai karier profesionalnya bersama klub sepakbola asal Inggris, Reading di usia remaja : 17 tahun. Gylfi pun pernah dipinjamkan ke klub kecil seperti Crewe Alexandra dan Shrewsbury demi mendapat jam bermain.
Seolah tidak cukup, Gylfi bahkan pernah "merantau" sampai ke tanah Jerman pada tahun 2010-2012 saat masih berusia 21 tahun. Kini pemain yang berposisi sebagai gelandang serang itu merumput bersama Everton sejak bulan September 2017 lalu.
Lars Lagerback, mantan pelatih timnas Islandia, mengakui bahwa budaya orang Islandia yang menuntut mereka beradaptasi dengan lingkungan secara cepat turut dibawa oleh para pesepakbola "perantau".
"Saya pikir itu dalam budaya negara, pemain-pemain ini terbiasa bekerja keras dan merawat diri mereka sendiri. Jadi hal tersebut memudahkan saya bekerjasama dengan mereka," tutur pria yang kini melatih Timnas Norwegia tersebut.
Coba tengok daftar lengkap skuad Timnas Islandia terbaru. Semua (ya, semua!) adalah pemain yang merumput di luar negeri. Ada yang bermain di Liga Premier League Inggris, Eredivisie Belanda, Bundesliga Jerman, Serie A Italia, Premiership Skotlandia, Premier League Rusia, Pro League Belgia, Allsvenskan Swedia, Superleague Yunani, Super League Swiss hingga Ligat HaAl Israel.
Dua pemain muda berusia 22 tahun yaitu Runar Runarsson (kiper) dan Hjortur Hermansson (bek), bahkan tengah bermain untuk dua klub papan atas Superligaen Denmark, FC Nordsjælland dan Brøndby IF.
Hasil bagi Timnas Islandia?

Semua kebijakan jangka panjang KSI memang lebih berfokus pada pengembangan infrastruktur pendukung, kepelatihan dan pembinaan pemain muda. Namun semuanya berujung pada satu hal : menguatkan tim nasional. Timnas Islandia dulu memang dikenal hanya sebagai "pelengkap" di ajang kualifikasi, entah Piala Eropa atau Piala Dunia.
Orang-orang masih mengingat cerita Lars Lagerback bahwa saat ditunjuk menjadi pelatih Islandia pada tahun 2011, dia tidak dibebankan target apapun. Ternyata hal tersebut juga merupakan bagian dari rencana. Hasilnya mulai terlihat pada kualifikasi Piala Dunia 2014.
Finis di peringkat dua grup E di bawah Swiss, Eidur Gudjhonsen dan kawan-kawan harus melanjutkan ke babak play-off melawan Kroasia untuk memperebutkan satu tiket ke Brazil. Sayang sekali, mereka harus gugur setelah kalah dengan agregat 2-0.
Mereka mulai unjuk gigi di Piala Eropa 2016. Lolos ke putaran final yang diadakan Perancis dengan status runner-up grup A pada babak kualifikasi, tim berjuluk "Strákarnir okkar" (Our boys) tergabung di grup F bersama Portugal, Hungaria dan Austria.
Menahan imbang Portugal dan Hungaria serta mengalahkan Austria, tim yang waktu itu dilatih oleh duet Lars Lagerback-Heimir Hallgrimsson melaju ke babak 16 besar setelah finis di posisi 2. Di babak gugur, mereka mengejutkan pecinta sepakbola di seluruh dunia usai mengalahkan Inggris dengan skor 2-1.
Meski akhirnya harus angkat koper usai dikalahkan tuan rumah Perancis dengan skor telak 5-2 di babak perempatfinal, mereka telah mengirimkan pesan ke seluruh dunia bahwa Timnas Islandia yang dulu selalu menjadi bulan-bulanan kini telah berubah menjadi tim yang pantas untuk diwaspadai.
Puncaknya terjadi pada kualifikasi Piala Dunia 2018. Aron Gunnarsson dan kawan-kawan melaju ke Rusia dengan hasil ciamik : pemuncak klasemen grup I. Di fase grup, mereka mencatatkan 7 kali kemenangan, sekali imbang dan dua kal kalah. Total 22 poin berhasil dikumpulkan, terpaut dua poin dari Kroasia yang berada di bawahnya. Di sepuluh pertandingan grup, mereka mencetak 15 gol dan hanya kebobolan 4 kali.
Melihat catatan tersebut, menarik untuk menerka kejutan macam apa yang akan "The Vikings" hadirkan tahun depan. Selamat, Islandia!



















