Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sentimen Negatif terhadap Timnas Argentina di Piala Dunia 2026
Para pemain Argentina merayakan gol Alexis Mac Allister ke gawang Swiss. (AFP/Thomas Coex)
  • Sikap rasis dan arogan dari pemain serta fans Argentina, termasuk insiden Enzo Fernandez dan perilaku di tribun, memicu kemarahan publik dan merusak citra tim nasional mereka.
  • Dugaan favoritisme terhadap Argentina di Piala Dunia 2026 makin memperkuat sentimen negatif, terutama karena lawan yang dianggap lemah dan keputusan wasit yang dinilai menguntungkan mereka.
  • Publik juga menunjukkan kejenuhan terhadap dominasi Argentina, dengan banyak penggemar berharap munculnya juara baru agar turnamen terasa lebih segar dan tidak monoton.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dahulu dipuja, kini dihujat. Mungkin itu kalimat yang tepat menggambarkan Timnas Argentina di Piala Dunia 2026. Langkah mereka hingga semifinal tak lepas dari perdebatan, terutama pada laga melawan Mesir. Spekulasi tentang korupsi dan favoritisme di tubuh FIFA menyeruak. Tim mana saja yang dilawan Argentina bakal dapat dukungan penonton, seolah mereka lelah dengan superioritas tim itu.

Padahal, pada 2022, kemenangan mereka di Qatar dirayakan hampir semua orang. Argentina dianggap sebagai pemecah dominasi Eropa di Piala Dunia, mengingat momen semacam itu terakhir kali terjadi pada 2002 ketika Brasil mengalahkan Jerman di final. Apa yang membuat sentimen negatif terhadap Argentina tercipta pada edisi kali ini? Dosa apa yang dilakukan Messi dkk?

1. Sikap rasis dan arogan fans serta pemain Argentina bikin publik geram

Salah satu faktor yang sering disebut sebagai alasan adalah sikap rasis dan arogan penggemar serta pemain Argentina. Dimulai dengan kemenangan Argentina di Copa America 2024 yang berlanjut dengan selebrasi bernada rasis Enzo Fernandez di ruang ganti dan diunggahnya sendiri di media sosial. Orang berekspektasi pemain itu bakal dapat sanksi tegas, tetapi nyatanya tak ada konsekuensi nyata selain diminta membuat pernyataan maaf. Sejak itu, reputasi Timnas Argentina tak lagi sempurna seperti tahun-tahun sebelumnya. Orang mulai menyorot fakta mereka adalah negara paling “putih” di Amerika Latin. Kalau menilik kepada sejarah Conquest of the Desert (1878–1885) serta haluan nation building mereka, semua cukup jelas.

Di Piala Dunia 2026, fans membuktikan kecenderungan rasis itu lewat beragam aksi yang tak kalah kontroversial. Sebuah cuplikan menunjukkan beberapa penggemar Argentina menyanyikan lagu rasis yang sempat bikin Enzo Fernandez kena masalah. Dalam video lain, tepatnya di tribun penonton pada laga Argentina lawan Cape Verde, terlihat seorang penggemar Argentina menghina influencer asal Amerika Serikat berkulit hitam, iShowSpeed, dengan sebutan tak pantas. Video penggemar Mesir yang disiram bir oleh penggemar Argentina saat tim mereka berlaga juga viral di media sosial.

2. Dugaan favoritisme yang menguntungkan Timnas Argentina

Sikap problematik dan arogan ini yang kiranya bikin publik sulit bersimpati kepada fans dan Timnas Argentina. Di media sosial, orang-orang Amerika Latin menyatakan boikot Argentina, mencoba untuk mengalienasi mereka dari region tersebut. Sebagai satu-satunya tim non-Eropa yang berhasil melaju ke semifinal Piala Dunia 2026, Argentina mungkin berharap dapat dukungan yang sama seperti 4 tahun lalu di Qatar. Namun, sepertinya sikap arogan dan rasis tadi mematikan elemen magis mereka.

Bahkan, kehadiran Lionel Messi yang biasanya jadi candu untuk penggemar sepak bola tidak pula membuat orang bersimpati. Sebaliknya, spekulasi favoritisme terlempar seperti bola liar di Piala Dunia 2026. Sejak awal turnamen, orang menyorot bracket Argentina yang dibilang cukup mudah dibanding tim-tim lain. Mereka ditempatkan satu grup dengan tim-tim yang relatif lemah, yakni Aljazair, Austria, dan Jordania.

Selama fase gugur, Argentina memang dapat perlawanan berarti, tetapi tim-tim yang mereka hadapi tak punya pengalaman seperti mereka. Sebut saja Cape Verde yang debutan, Mesir yang bukan tim favorit, dan Swiss yang juga jarang dijagokan. Belum lagi beberapa keputusan wasit yang dipertanyakan karena dianggap menguntungkan Argentina. Contohnya tekel Messi kepada kaki belakang pemain Aljazair, Aissa Mandi, yang tidak berbuah kartu. Walau spekulasi dan konspirasi ini tidak bisa dibuktikan, ia sudah cukup membuat sentimen negatif publik terhadap Argentina menguat.

3. Fans cenderung mendambakan pemenang baru di tiap turnamen

Terlepas dari sikap dan perlakuan pemain serta penggemar Argentina, ada satu alasan logis lain yang bisa menjelaskan sentimen negatif ini. Apalagi kalau bukan kecenderungan manusia mendambakan kebaruan dalam tiap aspek hidup mereka, termasuk dalam turnamen sepak bola 4 tahunan. Kalau Argentina sudah memenangkannya pada 2022, idealnya pemenang tahun ini berbeda. Kalau perlu tim yang belum pernah memenangkannya. Ingat Piala Dunia 2018 Rusia? Tak sedikit orang berharap Kroasia yang jadi pemenang mengingat Prancis, si lawan, sudah pernah memenangkan Piala Dunia 1998.

Namun, pilihan yang dimiliki fans cukup sempit tahun ini. Selain Argentina, hanya tiga pilihan yang semuanya tim Eropa dan pernah menjuarai turnamen elite itu setidaknya sekali. Tak bakal ada pemenang baru pada edisi ini seperti yang didamba penonton. Argentina punya kans yang sama dengan ketiga tim lain, tetapi satu yang baru, kemenangan mereka mungkin tak akan dirayakan semeriah 4 tahun lalu di Qatar.

Apa pendapatmu? Apakah Argentina memang layak mendapatkan konsekuensi atas arogansi pemain dan fans mereka? Apakah kamu percaya favoritisme memang terjadi dan menguntungkan Argentina atau ini hanya masalah keberuntungan belaka?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article