Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tandukan Maut di Final Piala Dunia 2006 yang Mengakhiri Karier Zidane

Tandukan Maut di Final Piala Dunia 2006 yang Mengakhiri Karier Zidane
ilustrasi suporter Prancis (pexels.com/Cristiano Junior)
Intinya Sih
  • Zinedine Zidane kembali memperkuat Prancis di Piala Dunia 2006 setelah sempat pensiun, menjadikannya turnamen perpisahan yang sangat dinantikan publik sepak bola dunia.
  • Prancis tampil kurang meyakinkan di fase grup namun bangkit di babak gugur, menyingkirkan Spanyol, Brasil, dan Portugal berkat kepemimpinan serta performa gemilang Zidane.
  • Final melawan Italia berakhir tragis saat Zidane dikartu merah karena menanduk Marco Materazzi, namun ia tetap dianugerahi Golden Ball sebagai pemain terbaik turnamen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Piala Dunia 2006 di Jerman menjadi panggung perpisahan paling dramatis salah satu pemain terbaik dalam sejarah sepak bola modern. Maestro sepak bola Prancis, Zinedine Zidane, mengakhiri karier profesionalnya dengan cara antiklimaks. Alih-alih mengangkat trofi, ia malah berjalan lunglai meninggalkan lapangan setelah menerima kartu merah akibat tindakan impulsifnya.

1. Kembali turun gunung memperkuat Timnas Prancis setelah hasil kurang meyakinkan di babak kualifikasi

Zinedine Zidane memutuskan untuk pensiun dari sepak bola profesional tepat setelah gelaran Piala Dunia 2006 berakhir. Di level klub, ia telah menutup lembaran kisah Real Madrid tanpa raihan trofi pada musim terakhirnya, yakni 2005/2006. Keputusan gantung sepatu ini membuat penampilannya di Jerman menjadi hal yang enggan dilewatkan jutaan pencinta sepak bola di seluruh dunia.

Dilansir BBC, Zidane sebenarnya sempat menyatakan pensiun dari tim nasional Prancis setelah kegagalan tragis di Piala Eropa 2004. Namun, ia memilih kembali turun gunung demi menyelamatkan negaranya yang sempat terseok-seok di babak kualifikasi. Kembalinya sang jenderal lapangan tengah langsung membangkitkan rasa percaya diri skuad Les Bleus di putaran final.

2. Les Blues tertatih-tatih di penyisihan grup, lalu melaju kencang selama fase gugur Piala Dunia 2006

Perjalanan Prancis sepanjang fase grup Piala Dunia 2006 sebenarnya tidak berjalan mulus karena hanya mampu lolos sebagai runner-up, hasil dari sekali menang dan sepasang hasil imbang. Publik mulai meragukan kemampuan skuad asuhan Raymond Domenech yang dinilai sudah melewati masa jayanya. Namun, performa Prancis mendadak berubah drastis saat memasuki fase gugur.

Dilansir The Guardian, Zidane mengatur lini tengah Prancis dengan cemerlang saat menumbangkan tim-tim raksasa. Prancis sukses menyingkirkan Spanyol pada babak 16 besar, membungkam juara bertahan Brasil pada perempat final, dan mengalahkan Portugal saat jalani semifinal. Sang kapten berhasil membuktikan bahwa usia senja (saat itu Zidane sudah berumur 33 tahun) bukan penghalang untuk tetap menyuguhkan magis di level tertinggi.

3. Tandukan ke dada Marco Materazzi menjadi akhir dari karier Zidane sebagai pesepak bola

Laga final melawan Italia di Olympiastadion, Berlin, pada 9 Juli 2006, awalnya berjalan sempurna bagi Zidane setelah ia mencetak gol lewat penalti panenka. Namun, pertandingan sengit ini harus berlanjut hingga babak perpanjangan waktu setelah skor 1-1 tak berubah hingga waktu normal selesai. Pada menit ke-110, sebuah insiden mengejutkan terjadi dan mengubah jalan pertandingan.

Dilansir beIN Sports, Zidane yang terprovokasi oleh ucapan bek Italia yang saat itu bermain untuk Inter Milan, Marco Materazzi, berbalik arah dan menanduk dada sang lawan hingga terkapar. Wasit Horacio Elizondo langsung mengganjar tindakan agresif tersebut dengan kartu merah langsung. Momen Zidane berjalan melewati trofi Piala Dunia menuju ruang ganti menjadi foto paling melankolis yang pernah ada. Skor 1-1 tak berubah hingga perpanjangan waktu rampung, tetapi Prancis akhirnya kalah adu penalti 3-5.

4. Meski mendapat kartu merah di final, Zidane tetap terpilih sebagai Pemain Terbaik di Piala Dunia 2006

Insiden kartu merah tersebut langsung memicu perdebatan sengit di kalangan pencinta sepak bola dan media massa. Sebagian pihak mengecam tindakan emosional Zidane yang dianggap merugikan tim di saat-saat paling krusial. Namun, tidak sedikit masyarakat Prancis yang tetap membelanya setelah mengetahui latar belakang provokasi verbal yang diterimanya. Ribuan orang tetap mengelu-elukan nama Zidane saat skuad Prancis kembali dari Berlin.

Meski menutup karier dengan catatan merah, publik selalu menghormati warisan Zidane. Dilansir Al Jazeera, FIFA tetap menganugerahinya penghargaan Golden Ball alias pemain terbaik Piala Dunia 2006 yang merupakan hasil voting para jurnalis. Tragedi di Berlin tidak menghapus fakta bahwa ia adalah salah satu seniman lapangan hijau terbaik sepanjang masa.

Zidane pensiun dengan total raihan 15 gelar sepanjang kariernya, termasuk Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000 bersama Prancis. Kedigdayaan Zidane berlanjut saat berkarier sebagai pelatih. Ia menambah 11 trofi ke lemari Real Madrid, termasuk tiga Liga Champions Eropa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More