3 Laga Bersejarah pada Semifinal Piala Dunia sebelum 2026

- Semifinal Piala Dunia 2026 mempertemukan Prancis vs Spanyol serta Inggris vs Argentina, menghadirkan potensi laga penuh kualitas dan sejarah baru di panggung sepak bola dunia.
- Tiga semifinal legendaris sebelum 2026 mencakup duel dramatis Jerman Barat vs Prancis 1982, adu penalti Italia vs Argentina 1990 yang melibatkan Maradona, dan kekalahan telak Brasil 1-7 dari Jerman 2014.
- Laga-laga tersebut dikenang karena drama, kontroversi, serta rekor bersejarah yang membuktikan bahwa semifinal Piala Dunia selalu meninggalkan jejak emosional mendalam bagi penggemar sepak bola.
Semifinal Piala Dunia 2026 berpotensi menyajikan dua pertandingan menarik dengan hadirnya tim-tim berkualitas. Prancis yang dipimpin Kylian Mbappe akan bertemu Spanyol yang diperkuat beberapa pemain muda berkualitas, termasuk Lamine Yamal. Pada laga lainnya, Inggris yang sebelumnya menyingkirkan Norwegia akan menantang sang juara bertahan Argentina.
Selain menentukan dua tim yang berhak tampil di partai puncak, semifinal Piala Dunia juga kerap menghadirkan pertandingan dengan nilai sejarah tinggi. Beberapa di antaranya bahkan masih dikenang hingga kini karena drama, rekor, maupun pencapaian yang tercipta. Berikut tiga laga bersejarah yang pernah menghiasi semifinal Piala Dunia sebelum 2026.
1. Jerman Barat melakoni duel ketat dan keras kontra Prancis pada 1982
Jerman Barat dan Prancis menyajikan duel dramatis di semifinal Piala Dunia 1982. Gol pembuka keunggulan Jerman Barat yang dicetak Pierre Littbarski pada menit 17 disusul oleh gol penyama kedudukan yang diciptakan Michel Platini 9 menit berikutnya hingga skor 1-1 bertahan sampai akhir waktu normal. Selama babak tambahan waktu, Prancis berhasil menjeblokan dua gol lewat Marius Tresor dan Alain Giresse sebelum Jerman Barat memberi respons apik dengan menyamakan kedudukan berkat aksi Karl-Heinz Rummenigge dan Klaus Fischer.
Selain menghadirkan permainan dengan kualitas tinggi, laga yang disebut “The Night of Seville” ini juga dikenang karena insiden kontroversial pada menit ke-57 yang melibatkan kiper Jerman Barat, Harald Schumacher, dan pemain pengganti Prancis, Patrick Battiston. Schumacher menabrak Battiston hingga sang pemain tak sadarkan diri dan mengalami sejumlah cedera serius, termasuk kehilangan dua gigi dan patah tulang rusuk. Ironisnya, wasit tidak memberikan pelanggaran maupun kartu kepada Schumacher yang kemudian tetap melanjutkan pertandingan.
Jerman Barat akhirnya keluar sebagai pemenang dalam duel di Ramon Sanchez-Pizjuan tersebut. Dari enam eksekutor mereka, hanya Uli Stielike yang gagal mencetak gol. Di sisi lain, Schumacher tampil apik dengan menggagalkan eksekusi dari 2 dari total 6 penendang Prancis.
2. Pertemuan Italia dan Argentina pada 1990 terasa spesial bagi Diego Maradona
Italia harus mengubur mimpi untuk meraih gelar juara sebagai tuan rumah Piala Dunia 1990. Langkah mereka dihentikan Italia secara dramatis lewat adu penalti. Kedua tim awalnya bermain imbang 1-1 selama babak normal hingga tambahan waktu oleh gol Salvatore Schillaci dan Claudio Caniggia. Lalu dalam adu penalti, Gli Azzurri kalah dengan skor 3-4 dengan dua penendang terakhir gagal menyelesaikan tugas.
Selain kekalahan dramatis tuan rumah, sisi historis laga ini juga ditandai dengan hadirnya Diego Maradona di pihak Argentina. Saat itu, sang legenda turut mencetak gol dalam adu penalti dalam kemenangan timnya yang diraih di markas klub yang tengah ia bela, Napoli. Pada 2020, tempat laga itu yang awalnya bernama San Paolo berganti nama menjadi Diego Armando Maradona Stadium.
3. Brasil kalah menyedihkan 1-7 dari Jerman pada 2014
Sebagai tim tersukses, Brasil juga pernah merasakan beberapa momen menyedihkan di Piala Dunia. Salah satu yang paling diingat tentu ketika mereka dikalahkan dengan skor telak 1-7 oleh Jerman saat menjadi tuan rumah pada semifinal Piala Dunia 2014. Derita Selecao berlanjut pada perebutan peringkat ketiga dengan kalah telak tiga gol tanpa balas dari Belanda.
Kekalahan tersebut meninggalkan luka mendalam bagi sepak bola Brasil dan masih dikenang sebagai salah satu hari paling kelam dalam sejarah mereka. Pelatih Brasil saat itu, Luiz Felipe Scolari, bahkan menyebut laga tersebut sebagai hari terburuk dalam hidupnya meski pernah membawa Selecao menjuarai Piala Dunia 2002. Besarnya dampak pertandingan ini juga diakui berbagai pihak, termasuk legenda Inggris Gary Lineker yang menyebutnya sebagai pertandingan paling luar biasa dan sulit dipercaya yang pernah ia saksikan dalam hampir setengah abad mengikuti sepak bola.
Berbagai kisah tersebut menunjukkan bahwa semifinal Piala Dunia bukan sekadar perebutan tiket menuju partai final. Drama, kontroversi, hingga rekor yang tercipta pada fase ini kerap meninggalkan jejak yang bertahan selama puluhan tahun. Dengan kualitas empat semifinalis yang tersisa, bukan tidak mungkin Piala Dunia 2026 kembali menghadirkan laga yang layak dikenang dalam sejarah sepak bola.















