Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Skandal Baru FIFA, Gianni Infantino Dituding Lakukan Pemerasan
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir dan Presiden FIFA, Gianni Infantino. (Dok. PSSI)
  • Presiden Federasi Sepak Bola Yordania Ali bin Hussein menuding FIFA menahan hadiah 4,2 juta dolar AS bagi finalis Arab Cup 2025 sebagai alat tekanan politik.
  • Ali mengaku pencairan dana dikaitkan dengan dukungan untuk Gianni Infantino pada pemilihan presiden FIFA 2027-2031, lalu menolak tunduk dan menyebutnya pemerasan.
  • Skandal ini memperpanas persaingan pemilihan FIFA Maret 2027 di Maroko; Eropa dan Amerika Utara mencari penantang, sementara Erick Thohir tetap mendukung Infantino.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Setelah diserang habis-habisan soal rencana proyek penjualan sebagian saham Piala Dunia, Presiden FIFA, Gianni Infantino, kembali dihantam skandal. Infantino dituding melakukan pemerasan.

Tudingan itu dilontarkan oleh Presiden Federasi Sepak Bola Yordania, Ali bin Hussein. Ali mengeklaim FIFA sengaja menahan pencairan uang hadiah yang menjadi hak Yordania usai menembus final FIFA Arab Cup 2025.

1. Hadiah miliaran rupiah ditahan jadi alat politik

Dalam unggahannya di media sosial, Pangeran Ali membeberkan federasi yang dipimpinnya belum menerima sepeser pun uang hadiah dari turnamen FIFA Arab Cup 2025. ESPN melansir, Yordania selaku finalis seharusnya berhak mengantongi hadiah uang sebesar 4,2 juta dolar Amerika Serikat, atau setara Rp75,2 miliar sesuai kurs saat ini.

Sepanjang mendampingi Yordania di putaran final Piala Dunia 2026, Ali mengaku mendapat pesan terselubung dari pihak FIFA yang diduga merupakan gerbong dari Infantino. Pesan itu perihal pencairan hadiah yang akan lancar asalkan bersedia memberikan dukungan politik demi memuluskan langkah Infantino kembali menjadi Presiden FIFA pada periode 2027-2031.

"Seluruh situasi ini sama dengan pemerasan dan kami menolak untuk menyerah pada hal itu. Uang yang seharusnya diterima tim kami belum diberikan. Sementara, pada saat yang sama FIFA menyombongkan berapa miliar cadangan dananya," cuit Ali di akun X pribadinya.

2. Federasi Yordania pantang tunduk

Merasa diintimidasi, Ali dengan tegas menolak tawaran berbau politis tersebut. Dia menegaskan federasi yang dipimpinnya akan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan integritas, alih-alih tunduk pada tekanan penguasa.

"Kami tidak mendukungnya sebelumnya. Tentu saja, tidak akan mendukungnya sekarang. Jelas masalahnya benar-benar ada pada kepemimpinan," ujar Ali.

Tuduhan ini semakin memperburuk citra Infantino yang tengah dibombardir konfederasi dan asosiasi sepak bola dunia. Rencananya yang gagal untuk menjual sebagian saham Piala Dunia ke investor swasta telah memicu perseturuan dengan UEFA, CONCACAF, hingga AFC.

3. Pemilihan Presiden FIFA bakal berjalan panas

Awalnya, Infantino diprediksi bakal kembali terpilih secara aklamasi tanpa lawan untuk masa jabatan keempat dan terakhirnya pada periode mendatang. Namun, rentetan skandal dan blunder politiknya baru-baru ini dinilai mengubah peta persaingan.

Negara-negara Eropa dan Amerika Utara dikabarkan sedang sibuk menggalang kekuatan untuk mencari sosok kandidat guna menggulingkan Infantino. Pemungutan suara oleh 211 negara anggota FIFA ini dijadwalkan akan digelar di Rabat, Maroko pada Maret 2027 mendatang.

Dalam kontestasi politik ini, ESPN menyebut Asia berpotensi menjadi medan pertempuran utama dalam mencari suara. Di tengah maraknya skandal, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, tetap mendukung Infantino dan sudah disampaikannya secara terang-terangan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article