Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tangis Gascoigne yang Buat Inggris Jatuh Cinta Lagi kepada Sepak Bola

Tangis Gascoigne yang Buat Inggris Jatuh Cinta Lagi kepada Sepak Bola
ilustrasi suporter Timnas Inggris (unsplash.com/Ellen Kerbey)
Intinya Sih
  • Inggris datang ke Piala Dunia 1990 tanpa status unggulan, di tengah reputasi sepak bola nasional yang terpuruk akibat Tragedi Heysel dan performa tim yang tidak meyakinkan.
  • Paul Gascoigne tampil menonjol dengan gaya bermain flamboyan dan energik, menjadi motor kreativitas Inggris hingga membawa tim melaju ke semifinal berkat kontribusi pentingnya.
  • Tangisan Gascoigne setelah kartu kuning di semifinal melawan Jerman Barat memicu simpati publik, menghidupkan kembali kecintaan masyarakat Inggris terhadap sepak bola melalui fenomena Gazzamania.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Piala Dunia 1990 di Italia mungkin bukan edisi dengan jumlah gol terbanyak sepanjang sejarah. Namun, bagi publik Inggris, tidak ada momen yang melekat di ingatan selain malam emosional di Stadion Delle Alpi, Turin, pada 4 Juli 1990. Malam itu, jutaan pasang mata menyaksikan runtuhnya pertahanan emosional seorang pemain berusia 23 tahun bernama Paul Gascoigne. Tangisannya di tengah lapangan tidak hanya menjadi momen yang diingat pencinta sepak bola, tetapi juga mengubah wajah sepak bola Inggris selamanya.

1. Inggris datang ke Piala Dunia 1990 dengan status nonunggulan serta pamor sepak bola yang sedang tiarap

Datang ke Italia, Timnas Inggris besutan Bobby Robson sama sekali tidak diunggulkan publik sendiri. Dilansir England Football Online, media domestik bahkan sangat skeptis dan melempar kritik tajam karena performa angin-anginan The Three Lions dalam laga uji coba menjelang turnamen. Ditambah lagi, reputasi sepak bola Inggris saat itu sedang terpuruk di Eropa akibat sanksi UEFA selepas Tragedi Heysel di Belgia pada 29 Mei 1985.

Kerusuhan terjadi pada final Liga Champions Eropa 1984/1985. Ia melibatkan pendukung Liverpool dan Juventus. Akibatnya, 39 orang meninggal dunia dan 600 lainnya mengalami luka-luka. Kombinasi pamor sepak bola yang sedang tiarap dan performa tim tak meyakinkan membuat Inggris berangkat dengan status nonunggulan. Mereka diprediksi tidak akan berbicara banyak.

2. Paul Gascoigne menjadi harapan para suporter untuk melihat Inggris yang lebih atraktif

Di tengah pesimisme tersebut, muncul Paul Gascoigne alias Gazza, gelandang muda energik berusia 23 tahun asal Tottenham Hotspur yang sudah menyedot atensi sebelum turnamen dimulai. Dilansir BBC, gaya bermain Gazza yang flamboyan, berani melakukan dribel, dan memiliki teknik olah bola tinggi berada di luar pakem taktik yang cukup kaku saat itu. Menjelang bergulirnya laga perdana di Italia, publik menaruh harapan di pundak Gazza sebagai motor serangan yang bisa menghidupkan kreativitas lini tengah Inggris.

3. Inggris lolos fase grup dengan susah payah, terbantu penampilan moncer Paul Gascoigne

Perjalanan Inggris dari babak penyisihan grup tidak berjalan mulus. Meski lolos sebagai juara Grup F, mereka sempat ditahan imbang Irlandia dan Belanda sebelum menang tipis 1-0 atas Mesir. Memasuki babak gugur, mental Bryan Robson dan kawan-kawan baru benar-benar diuji.

Inggris melewati babak 16 besar melawan Belgia lewat gol telat David Platt pada menit ke-119. Mereka akhirnya menumbangkan tim kejutan, Kamerun, dengan skor tipis 3-2 pada perempat final, yang kembali diwarnai babak tambahan. Dilansir situs resmi klub Tottenham Hotspur, Gazza sukses menyumbang 3 assist dari 5 pertandingan.

4. Paul Gascoigne menangis setelah mendapat kartu kuning kedua pada babak tambahan pada semifinal vs Jerman Barat

Laga semifinal melawan Jerman Barat berjalan sangat sengit hingga lagi-lagi masuk babak tambahan. Petaka bagi Inggris datang pada menit ke-99 saat Paul Gascoigne menerima kartu kuning akibat tekel terlambat kepada Thomas Berthold. Sebelumnya, ia mengantongi kartu kuning di laga 16 besar melawan Belgia.

Ini berarti, Gazza mesti absen pada laga final akibat akumulasi kartu kuning andai Inggris lolos. Dilansir FIFA.com, Gazza langsung menangis sesenggukan di tengah lapangan akibat merasa mimpinya hancur. Mental skuad Inggris yang juga sudah goyah akhirnya mengantarkan mereka untuk kalah tragis lewat adu penalti dengan skor 3-4 setelah laga berakhir imbang 1-1.

5. Tangis Paul Gascoigne di Turin membuat publik Inggris kembali jatuh cinta kepada sepak bola

Meski Inggris gagal ke final, mereka disambut bak pahlawan saat tiba di London. Paul Gascoigne menjadi pusat pehatian. Air mata tulusnya melahirkan fenomena kultural yang disebut Gazzamania.

Dilansir The Guardian, itu adalah sebutan untuk demam sepak bola yang kembali melanda seluruh lapisan masyarakat Inggris setelah menjauhi stadion akibat takut dengan hooliganisme. Sisi humanis yang ditunjukkan Gazza berhasil mengubah wajah sepak bola Inggris. Ia kelak melahirkan era modern seperti English Premier League.

Air mata Paul Gascoigne di Piala Dunia 1990 membuktikan, sepak bola bukan sekadar analisis taktik dan statistik. Ajang tersebut menjadi panggung drama kehidupan yang melibatkan perasaan manusia. Tangisan Gazza menjadi bukti seorang pesepak bola bisa larut dalam emosi demi meraih impiannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra

Related Articles

See More