Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Viktor Gyokeres vs Gabriel Jesus, Siapa yang Lebih Ideal bagi Arsenal?

jersey Arsenal
potret jersey Arsenal (unsplash.com/Nelson Ndongala)
Intinya sih...
  • Gyokeres mengandalkan kekuatan fisik, sementara Jesus unggul dalam mobilitas antarlini
  • Meski Jesus lebih unggul statistik, konteks taktik dan laga tetap menjadi faktor penentu
  • Jadi, siapa yang paling tepat? Jawabannya tergantung situasi pertandingan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Arsenal kembali tampil gemilang kala bertandang ke markas Inter Milan pada matchday ke-7 Liga Champions Eropa (UCL) 2025/2026. The Gunners memenangi laga dengan skor 3-1, dengan Gabriel Jesus mencetak 2 gol, sementara 1 gol lainnya dicetak Viktor Gyokeres, yang memulai laga dari bangku cadangan. Kemenangan ini memastikan Arsenal memuncaki klasemen sementara UCL dan memperpanjang rekor sempurna mereka di turnamen ini.

Di balik hasil tersebut, performa dua penyerang ini memunculkan kembali perdebatan mengenai siapa yang paling layak menjadi ujung tombak utama tim asuhan Mikel Arteta. Karakteristik kontras dari keduanya kembali menggarisbawahi kontribusi striker Arsenal tidak hanya diukur dari jumlah gol, tetapi juga dari fungsi taktis yang dijalankan dalam struktur permainan. Dari titik inilah wacana mengenai Viktor Gyokeres dan Gabriel Jesus menjadi relevan, karena pilihan Arteta menyentuh persoalan kebutuhan sistem, bukan sekadar preferensi individu.

1. Viktor Gyokeres mengandalkan kekuatan fisik, sementara Gabriel Jesus unggul dalam mobilitas antarlini

Mikel Arteta pada 2025/2026 membangun Arsenal sebagai tim dengan kontrol struktural tinggi, sirkulasi bola rapi, serta intensitas tekanan yang konsisten. Dalam skema ini, Gabriel Jesus dan Viktor Gyokeres hadir sebagai dua profil penyerang dengan fungsi yang sangat berbeda. Selain perbedaan gaya bermain, profil keduanya menjamah cara Arsenal menyerang dan mempertahankan struktur kolektifnya.

Viktor Gyokeres berperan sebagai target man yang menjadi titik acuan permainan ofensif. Tubuhnya yang tangguh membuatnya efektif dalam duel fisik, menahan bola, serta menarik dua bek tengah lawan agar lini kedua Arsenal mendapatkan ruang. Namun, data The Telegraph menunjukkan, Gyokeres kerap terisolasi, dengan jumlah sentuhan yang rendah dalam banyak pertandingan, termasuk hanya 15 sentuhan saat menghadapi Wolverhampton Wanderers dan 12 sentuhan dalam 62 menit melawan Club Brugge.

Sebaliknya, Gabriel Jesus tampil sebagai functional forward yang bergerak lintas zona. Jesus kerap turun ke half-space, membuka jalur progresi bola, dan menghubungkan sayap dengan lini tengah, sehingga ritme permainan Arsenal tetap hidup. Dalam laga melawan Inter Milan, pergerakan Jesus terlihat jelas saat ia menjemput bola, terlibat dalam build-up, dan tetap hadir di kotak penalti untuk menyelesaikan peluang.

Perdebatan mengenai siapa yang lebih layak tidak dapat dilepaskan dari apa yang ingin diterapkan Mikel Arteta secara struktural. Arteta bukan sekadar mencari pencetak gol, melainkan penyerang yang mampu menjaga keseimbangan antara kontrol, tekanan, dan fleksibilitas taktik. Dalam konteks ini, persaingan antara Gyokeres dan Jesus bukan soal kualitas absolut, melainkan kecocokan fungsi dalam sistem yang adaptif.

2. Meski Grabiel Jesus lebih unggul statistik, konteks taktik dan laga tetap menjadi faktor penentu

Dari sisi output langsung, Gabriel Jesus tampil mencolok di Liga Champions musim ini. Ia mencetak 6 gol dari 8 starter UCL bersama Arsenal, serta total 26 gol dari 53 pertandingan Liga Champions sepanjang kariernya. Dua golnya ke gawang Inter Milan menunjukkan naluri oportunistik dan refleks cepat, baik melalui penyelesaian akrobatik maupun posisi yang tepat dalam situasi bola mati.

Viktor Gyokeres, di sisi lain, mencatatkan 8 gol dari 26 penampilan di semua kompetisi sejak bergabung dari Sporting CP. Di English Premier League (EPL), ia hanya mencetak 4 gol dari 14 penampilan, dengan tiga gol di antaranya datang pada empat laga awal. Statistik ini memperkuat narasi jika kontribusi gol Gyokeres belum sejalan dengan ekspektasi sebagai striker bernilai transfer besar.

Namun, angka semata tidak sepenuhnya menggambarkan dampak di lapangan. Jesus sering terlihat lebih mampu menghidupkan permainan karena keterlibatannya dalam banyak fase permainan, meski tidak selalu produktif secara statistik. Pergerakannya membantu Bukayo Saka dan Gabriel Martinelli mendapatkan ruang, serta memungkinkan Arsenal mempertahankan intensitas tinggi di sepertiga akhir.

Sebaliknya, Gyokeres kerap terputus dari permainan karena tempo Arsenal yang tidak selalu transisional. Kembali mengutip The Telegraph, Arsenal mencatat rata-rata 0,9 fast breaks per pertandingan, jauh di bawah Sporting CP pada 2024/2025 yang mencapai 1,6, sehingga banyak keunggulan Gyokeres yang tidak dimanfaatkan secara optimal. Kondisi ini membuatnya lebih sering menunggu peluang ketimbang menciptakannya melalui keterlibatan langsung.

3. Jadi, siapa yang paling tepat? Jawabannya tergantung situasi pertandingan

Arsenal sejatinya tidak sedang memilih satu striker terbaik secara mutlak, melainkan menentukan alat yang paling relevan untuk situasi tertentu. Dalam laga besar dengan intensitas tinggi dan tekanan build-up lawan yang agresif, Gabriel Jesus menawarkan solusi yang lebih kompatibel. Mobilitas, pengalaman, dan kemampuannya membaca ruang membuat Arsenal lebih cair saat menghadapi tim sekelas Inter Milan.

Viktor Gyokeres lebih relevan ketika Arsenal membutuhkan kehadiran fisik dan ancaman langsung di kotak penalti. Dalam situasi transisi atau saat menghadapi blok rendah yang bisa ditembus melalui duel atau bola kedua, Gyokeres memberikan dimensi yang berbeda. Golnya ke gawang Inter, yang lahir dari serangan balik cepat dan penyelesaian melengkung dari luar kotak penalti, menjadi contoh bagaimana situasi laga dapat mengubah efektivitasnya.

Mikel Arteta memahami bahwa fleksibilitas inilah yang menjadi kekuatan Arsenal musim ini. Dengan Jesus, Gyokeres, dan kembalinya Kai Havertz, Arsenal memiliki variasi profil penyerang yang memungkinkan adaptasi taktik tanpa mengorbankan struktur. Oleh karena itu, keputusan memilih starter lebih bersifat situasional ketimbang hierarki permanen.

Perdebatan mengenai siapa yang paling layak justru mencerminkan kedewasaan komposisi skuad Arsenal saat ini. Walaupun mungkin Mikel Arteta akan dipusingkan dengan profil striker yang berbeda, tetapi opsi variasi ofensif yang ia miliki saat ini akan menguntungkannya dalam berbagai situasi dan kondisi laga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra
Follow Us

Latest in Sport

See More

Kalahkan Taiwan, Lanny/Apri Mulus ke Semifinal Indonesia Masters 2026

23 Jan 2026, 20:10 WIBSport