ilustrasi Piala Dunia 2026 (pexels.com/Alex Dos Santos)
Dari sektor bisnis, bertambahnya jumlah pertandingan menjadi ladang uang baru bagi FIFA untuk mendongkrak pundi-pundi keuntungan mereka ke level tertinggi. Hak siar televisi, penjualan tiket stadion, hingga nilai kontrak dengan para sponsor global otomatis meroket karena pasar penonton kini meluas ke negara-negara yang baru pertama kali lolos. Arus modal yang masuk dari pergelaran seratus empat pertandingan ini menghasilkan keuntungan ekonomi raksasa yang belum pernah tercapai pada edisi-edisi terdahulu.
Namun, di sisi lain, skala turnamen yang terlampau raksasa membuat konsep tuan rumah tunggal menjadi sebuah kemewahan yang tidak lagi realistis bagi sebagian besar negara di dunia. Menampung empat puluh delapan tim beserta jutaan suporter menuntut ketersediaan fasilitas latihan, stadion standar tinggi, dan jaringan transportasi yang sangat masif. Oleh karena itu, model kolaborasi multipihak atau tuan rumah bersama seperti gabungan tiga negara di Amerika Utara kini bergeser menjadi standar baku baru demi membagi beban anggaran.