Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan bisnis Indonesia terus berkembang, tetapi kesiapan infrastruktur data masih menjadi tantangan bagi banyak perusahaan. Synology mengungkapkan bahwa hampir 88 persen responden surveinya di Indonesia mengkhawatirkan inefisiensi penyimpanan akibat pertumbuhan volume data AI dan duplikasi informasi. Temuan tersebut menjadi salah satu perhatian utama yang dibahas dalam Synology Press Event 2026 di Jakarta pada 13 Oktober 2026.
Peningkatan penggunaan AI membuat perusahaan harus mengelola data dalam jumlah yang semakin besar, sekaligus memastikan informasi bisnis tetap terlindungi dari ancaman siber. Tantangannya tidak berhenti pada kapasitas penyimpanan, tetapi juga mencakup kemampuan memulihkan operasional ketika terjadi serangan ransomware. Berdasarkan survei Synology, hanya sekitar dua dari sepuluh perusahaan Indonesia yang sangat yakin mampu memulihkan operasional dengan cepat setelah serangan ransomware sekaligus memastikan data cadangannya tetap terlindungi.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Synology memperkenalkan pengembangan sejumlah solusi penyimpanan, perlindungan data, produktivitas berbasis AI, dan sistem pengawasan cerdas. Beberapa teknologi yang menjadi sorotan mencakup penyimpanan enterprise PAS7700, ActiveProtect untuk pencadangan data, Synology Office Suite berbasis AI, hingga sistem pengawasan DVA7400. Melalui pengembangan ini, Synology menekankan pentingnya membangun infrastruktur yang mampu mendukung transformasi AI tanpa mengorbankan keamanan dan kendali perusahaan atas data.
