Comscore Tracker

[REVIEW] Dread Hunger—Jadi Penyintas dengan Cara Kotor dan Licik

Kumpulkan teman-temanmu dan mainkan game ini

Pada 27 Januari 2022 lalu, Dread Hunger Team bersama Digital Confectioners telah merilis sebuah game simulasi berjudul Dread Hunger. Ya, game yang awalnya masih berstatus early access ini akhirnya dirilis secara final oleh developer. Steam sendiri menjual karya yang cukup viral ini seharga Rp169.999 untuk versi orisinalnya. Di samping itu, beberapa kontennya dijual dengan harga puluhan ribu rupiah per judul.

Nah, seheboh apa Dread Hunger di mata penulis? Apakah ia benar-benar dapat dikatakan sebagai game survival yang apik? Sebelum membelinya, kamu bisa menyimak ulasan atau review Dread Hunger di bawah ini.

1. Plot sederhana yang berakhir liar

[REVIEW] Dread Hunger—Jadi Penyintas dengan Cara Kotor dan LicikBerawal dari eksplorasi wilayah terpencil dalam game Dread Hunger, kamu bersiap menjadi penyintas utama. (dok. Dread Hunger Team/Dread Hunger)

Sebetulnya, plot dan narasi yang dihadirkan dalam game ini cukup terlihat sederhana. Ia berjalan layaknya game simulasi survival lainnya yang menuntut pemain untuk bertahan hidup di zona tertentu. Namun, developer rupanya gak mau setengah-setengah dalam mengembangkan game ini. Yup, kamu akan dipaksa untuk menjadi manusia tanpa sifat humanis.

Penulis segera paham bahwa Dread Hunger hadir dengan caranya sendiri. Meskipun kadang terkesan jahat dan brutal, game ini justru menyadarkan kita bahwa manusia normal pun akan berbuat apa saja demi keselamatan dirinya sendiri. Pertanyaan terbesarnya, apakah kamu siap untuk mengkhianati, bahkan membunuh temanmu sendiri demi bertahan hidup?

Penjelajahan diawali dari dunia jauh, yakni Arktika yang dipenuhi oleh es dan hewan-hewan buas. Tentu cerita dan latar belakang dalam game ini sepenuhnya fiktif. Namun, dunia kutub Bumi yang dingin dan mencekam bisa ditonjolkan di sini. Pada abad ke-19, Arktika tentu masih dalam kondisi yang terisolasi dan nyaris tanpa kehadiran manusia. Nah, di sini, kamu akan menjadi bagian dari ekspedisi besar tersebut.

Premis yang dihadirkan sudah cukup kompleks. Gamer akan ditugaskan untuk mengumpulkan sumber daya, seperti batu bara, makanan, material berharga, bahkan harta peninggalan dari sisa-sisa ekspedisi di masa lalu. Sayangnya, di tengah ekspedisi yang seolah berjalan lancar, ada beberapa orang yang menjadi perusak suasana.

Yup, mereka benar-benar merusak suasana, bahkan mengancam kehidupan kita. Dari sinilah, semuanya bermula. Alih-alih kembali dan memutuskan untuk pulang, kamu akan tinggal dan bertahan di Arktika. Mengumpulkan makanan dan membuat suhu badan tetap hangat adalah misi utama yang wajib kamu jalankan.

Lalu, yang lebih tampak mengerikan adalah sisi liar dari plot yang ada. Menjadi penyintas di Dread Hunger akan membuat kita paham bahwa manusia itu pada dasarnya predator puncak yang akan saling memangsa jika keadaan memaksanya. Well, kembali ke pertanyaan awal, sudah siapkah kamu untuk mengkhianati, membunuh, dan memakan teman-temanmu sendiri?

2. Mekanisme kompleks yang tak diimbangi dengan AI mumpuni

[REVIEW] Dread Hunger—Jadi Penyintas dengan Cara Kotor dan LicikKarakter NPC dalam game Dread Hunger punya AI yang buruk. (dok. Dread Hunger Team/Dread Hunger)

Gameplay yang ada sebetulnya sudah cukup intens dan kompleks. Dread Hunger sudah berani untuk menjadi diri sendiri dengan mekanisme permainan yang unik, segar, dan berbobot. Sayangnya, itu semua bakal menjadi hambar manakala kita menemukan banyak kejanggalan di mana-mana.

Pertama, kapasitas artificial intelligence (AI) dari kebanyakan karakter tambahan sangat buruk. Bayangkan saja, kadang, kita terlalu mudah mengecoh mereka dengan cara-cara yang tak masuk akal. Misalnya, kita bisa melempar sebuah barang ke arah mereka. Pada saat itu, mereka hanya terdiam beberapa saat. Cara ini sering penulis praktikkan untuk mengecoh dan merobohkan NPC.

Kedua, game ini sepertinya memaksa kita untuk terus berinteraksi. Jadi, jika kamu tidak memiliki teman untuk diajak bergabung dalam co-op, itu semua akan percuma. Ya, hal paling seru dalam game ini justru ada pada interaksi online antarpemain. Jika memungkinkan, ajaklah teman-temanmu.

Ketiga, adanya hal-hal supernatural semacam sihir yang bisa digunakan dalam game ini. Mungkin maksudnya ingin menambah variasi dalam sebuah simulasi. Namun, alih-alih menyukainya, penulis justru menganggap ini sebagai tambahan yang merusak suasana. Dalam game ini, kita bisa meracik sihir dan mendatangkan pasukan kanibal. Aneh, kan?

Oh, ya, satu lagi, lobi online yang disediakan pun sangat terbatas. Jadi, bergabung dengan teman-temanmu di satu misi yang sama akan sulit untuk dilakukan. Bahkan, kabarnya, dibutuhkan waktu selama 1 jam hanya untuk menunggu lobi online buatanmu masuk ke server utama.

Selebihnya, Dread Hunger akan menawarkan mekanisme yang condong pada eksperimen sosial. Membentuk aliansi dan kepercayaan adalah hal mutlak di sini. Jika gagal, kita akan menjadi salah satu manusia yang bakal dikorbankan di sini. Kekerasan kelompok akan menjadi hal lumrah untuk dilakukan. Pada intinya, gamer dituntut untuk melakukan apa pun demi bertahan hidup.

Baca Juga: [REVIEW] Democracy 4—Simulasi Sederhana Menjadi Kepala Negara

3. Tampilan visual terlihat biasa saja

[REVIEW] Dread Hunger—Jadi Penyintas dengan Cara Kotor dan LicikSelain manusia, hewan buas juga menjadi musuh utama dalam game Dread Hunger. (dok. Dread Hunger Team/Dread Hunger)

Pergerakan dan tampilan visual dalam game ini masih terbilang sangat standar. Bahkan, untuk dimainkan pada masa kini, grafik dari Dread Hunger sebetulnya tampak ketinggalan zaman. Hal paling mencolok yang dirasakan penulis adalah saat pertarungan menghadapi manusia atau hewan buas. Efek CGI-nya masih sangat kaku dan terkesan kotak-kotak.

Kondisi alam liar sudah bisa diterjemahkan dengan baik oleh developer meskipun juga banyak kekurangannya. Namun, terlepas dari itu semua, game ini justru menawarkan keuntungan buatmu. Ya, dengan RAM 8 GB, VGA GeForce GTX 760, dan prosesor setara Intel Core i3 generasi menengah, kamu sudah dapat menjalankan game ini dengan baik.

Dengan ukuran file sekitar 16 GB, Dread Hunger juga akan terasa ringan untuk dipasang di PC milikmu. Oh, ya, developer memang merilis game ini secara eksklusif hanya untuk platform Microsoft Windows (PC). So, dengan spesifikasinya yang ramah, game ini cukup menarik untuk dimainkan, bukan?

4. Audio juga terdengar kurang maksimal

[REVIEW] Dread Hunger—Jadi Penyintas dengan Cara Kotor dan LicikKualitas audio dalam game Dread Hunger terdengar tidak maksimal layaknya game penyintas lainnya. (dok. Dread Hunger Team/Dread Hunger)

Awalnya, penulis cukup antusias dan berharap bahwa audio dalam game ini bakal terdengar apik layaknya game sejenis. Namun, setelah memainkannya beberapa jam, audionya justru terdengar hambar dan gak maksimal. Entahlah, di telinga penulis, ada sesuatu yang sangat kurang di sana.

Lingkungan memang dibuat minim suara dan itu wajar saja. Namun, percakapan, pertarungan, dan adegan-adegan brutal yang dihadirkan dalam game ini seolah tidak punya kesan akibat audio yang betul-betul minimalis. Itu sebabnya, memainkannya bersama teman-temanmu akan membawa suasana dan suara ramainya sendiri.

Sekali lagi, game co-op ini memang mendesakmu untuk memainkannya bersama teman-teman. Jika tidak, suasana dan audio dalam Dread Hunger malah terasa gak nendang sama sekali. Nah, supaya lebih jelas dan jernih, gunakan headset dan sering-seringlah atur volume suara agar tidak mengganggu pendengaranmu.

5. Jadilah penyintas dengan cara yang tidak humanis

[REVIEW] Dread Hunger—Jadi Penyintas dengan Cara Kotor dan LicikDread Hunger adalah game yang cocok untuk dimainkan bersama teman-teman. (dok. Dread Hunger Team/Dread Hunger)

Kesimpulannya, jadilah penyintas yang rela melepaskan sisi-sisi humanis yang kamu miliki. Game ini jelas menitikberatkan pada kemampuan dasar manusia untuk menaklukkan alam dan sesamanya. Hal-hal brutal dan sadisme akan ditampakkan dalam game ini sehingga Dread Hunger bukanlah game yang dapat dimainkan oleh anak di bawah umur.

Mekanisme yang dihadirkan sudah cukup kompleks dan beragam. Hanya saja, AI bodoh dan konyol sering hadir dalam game ini. Lalu, kualitas visual dan audionya pun terbilang standar dan apa adanya. Well, apakah developer bisa meraih skor tinggi di mata penulis?

Dalam ulasan kali ini, penulis memberikan skor 3/5 untuk Dread Hunger. Jika saja AI dan kebergantungannya dengan co-op online bisa diatasi dengan baik, mungkin skor yang diberikan bisa lebih tinggi. Untungnya, ia masih dapat merepresentasikan kondisi atau suasana yang kita hadapi kala bertahan hidup dari serangan manusia lainnya.

https://www.youtube.com/embed/TI-3h0JXjic

Baca Juga: [REVIEW] Pokémon Legends: Arceus—Melepas Dahaga Penggemar akan Inovasi

Dahli Anggara Photo Verified Writer Dahli Anggara

Age quod agis...

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya