6 Game Apik yang Dirusak Oleh Satu Kesalahan Fatal, Apa Itu?

- Artikel membahas enam game populer yang hampir sempurna namun terganggu oleh satu kesalahan fatal, mulai dari puzzle membosankan hingga sistem microtransaction yang kontroversial.
- Contoh kasus mencakup Marvel’s Spider-Man dengan puzzle sains berlebihan, Star Wars Battlefront 2 dengan sistem pay-to-win, serta Zelda: Breath of the Wild dengan senjata yang mudah rusak.
- Game lain seperti The Evil Within 2, Batman: Arkham Knight, dan Half-Life juga disebut memiliki elemen tertentu yang menurunkan pengalaman bermain meski secara keseluruhan tetap berkualitas.
Bahkan game terbaik sekalipun hampir tidak pernah benar-benar sempurna. Selalu ada satu atau dua hal yang jadi masalah, entah itu bug, pacing yang berantakan atau durasi gameplay yang terlalu panjang. Tapi yang paling menyebalkan adalah ketika sebuah game sudah nyaris sempurna, malah tersandung oleh satu kesalahan kecil yang dampaknya besar. Alhasil, meski pada akhirnya tetap dianggap sebagai salah satu game terbaik sepanjang masa, kesalahan itu membuat game-game tersebut gagal tampil secara maksimal. Berikut beberapa di antaranya.
1. Marvel’s Spider-Man – Puzzle
Marvel's Spider-Man garapan Insomniac Games langsung menyabet gelar game Spider-Man terbaik sepanjang masa begitu dirilis. Bukan tanpa alasan, mekanisme berayun menggunakan jaring melewati gedung-gedung tinggi terasa sempurna, combat-nya seru, ceritanya mengejutkan dan visualnya memukau. Sayangnya, ada satu hal yang sedikit merusak pengalaman bermain game ini yaitu puzzle bertema sains. Meski dimaksudkan untuk mencerminkan sisi Peter Parker sebagai ilmuwan, puzzle-puzzle ini malah membosankan, terlalu mudah dan jumlahnya terlalu banyak hingga di titik mengganggu tempo permainan yang sebenarnya sudah hampir sempurna.
2. Star Wars Battlefront 2 – Microtransaction
Star Wars Battlefront 2 sempat tenggelam dalam kontroversi besar sejak hari pertama peluncurannya. Microtransaction yang diterapkan EA kala itu dinilai keterlaluan, memunculkan mekanisme pay-to-win yang membuat pemain marah besar hingga terjadi boikot massal. Namun yang mengejutkan, EA ternyata mau mendengar keluhan pemain. Seluruh elemen pay-to-win dihapus, semua konten yang tadinya dikunci di balik paywall dibagikan secara gratis dan hanya item kosmetik saja yang tersisa sebagai opsi berbayar. Reputasi buruk memang tak hilang sepenuhnya, tapi para pemain yang mau memberi game ini kesempatan kedua akhirnya menyadari bahwa game ini istimewa.
3. The Legend of Zelda: Breath of the Wild – Senjata yang bisa rusak
The Legend of Zelda: Breath of the Wild memang layak disebut sebagai game yang merevolusi genre open-world sejak dirilis pada 2017. Kebebasan eksplorasi dan kreativitas yang ditawarkannya belum tertandingi, bahkan oleh banyak game serupa yang bermunculan setelahnya. Tapi ada satu mekanisme kontroversial yang justru dihindari oleh semua game yang terinspirasi BOTW yaitu mekanisme senjata yang bisa rusak. Akibatnya, banyak pemain memilih untuk menyimpan senjata terbaik mereka dan tidak pernah menggunakannya karena senjata-senjata tersebut hanya bisa bertahan 8-10 serangan sebelum akhirnya hancur.
4. The Evil Within 2 – Third Act yang linear
The Evil Within 2 sebenarnya punya fondasi yang luar biasa kuat. Pada game ini, pemain dilempar ke sebuah kota suram dengan pendekatan open-world yang organik, di mana ada misi utama sekaligus misi sampingan yang bisa terlewati begitu saja. Sayangnya, semakin jauh pemain melaju, aspek open-world di game ini perlahan menghilang. Puncaknya ada pada third act di mana game ini sudah berubah menjadi game horor survival biasa yang linear. Tetap solid memang, tapi jauh dari kesan awal yang memukau. Kendati demikian, The Evil Within 2 tetap menjadi salah satu hidden gem yang sayangnya kurang mendapat perhatian yang layak.
5. Half-Life – Xen
Sebagian besar perjalanan pemain di Half-Life terbilang sangat memuaskan, tapi sayangnya, di penghujung permainan, semuanya berubah arah secara mengejutkan. Gordon Freeman dikirim ke dimensi lain bernama Xen yang secara cerita memang menarik karena dari sinilah asal-usul para alien di seri Half-Life tapi secara gameplay, Xen adalah mimpi buruk. Tidak seperti jalur-jalur linear yang pemain jelajahi sebelumnya, Xen merupakan area terbuka dengan jalur yang tidak jelas dan platforming yang bisa membuat pemain frustrasi. Xen mungkin menjadi salah satu penutup paling aneh yang pernah ada di game legendaris manapun dan untungnya, dimensi ini tidak muncul lagi di Half-Life 2.
6. Batman: Arkham Knight – Batmobile
Batman: Arkham Knight sebagai penutup triloginya berhasil menyempurnakan semua elemen pendahulunya sekaligus menghadirkan versi paling lengkap dari semesta Batman versi Rocksteady. Sayangnya, ada satu hal baru yang justru mengecewakan yaitu Batmobile. Meski aspek mengemudinya sendiri menyenangkan, momen ketika Batmobile berubah menjadi tank dan menembaki drone musuh dianggap tidak nyambung dengan Batman secara keseluruhan. Combat semacam ini tidak menantang, tidak menarik dan terasa seperti game arcade yang tiba-tiba disisipkan ke dalam game Batman yang seharusnya lebih dari itu.
Demikian tadi ulasan mengenai beberapa game apik yang dirusak oleh satu kesalahan fatal. Ada game favoritmu?


















