Mengapa Kas Keliling Masih Diburu meski Ada Aplikasi Pintar BI?

- Tradisi membagikan uang baru saat Lebaran tetap kuat, membuat permintaan uang pecahan kecil melonjak hingga lebih dari satu juta penukar tercatat di layanan resmi BI pada Maret 2026.
- Aplikasi Pintar BI mempermudah pemesanan jadwal penukaran uang, namun kuota cepat habis sehingga banyak masyarakat beralih ke layanan kas keliling sebagai alternatif praktis tanpa antre daring.
- Layanan kas keliling hadir di titik strategis mudik tanpa biaya tambahan, memperluas akses penukaran uang resmi dan membantu masyarakat menghindari risiko penipuan dari jasa tidak resmi.
Tradisi membagikan uang baru kepada keluarga, anak-anak, hingga kerabat saat Lebaran masih menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Indonesia. Tak heran jika kebutuhan masyarakat terhadap uang pecahan kecil biasanya meningkat tajam menjelang Idulfitri. Karena itu, layanan penukaran uang selalu ramai diminati setiap tahun, baik melalui perbankan maupun layanan khusus yang disediakan Bank Indonesia (BI). Fenomena ini terlihat ketika banyak masyarakat mulai mencari cara memeroleh uang pecahan baru menjelang hari raya.
Untuk mempermudah proses tersebut, Bank Indonesia telah menghadirkan layanan penukaran uang secara daring melalui aplikasi Pintar BI. Melalui platform ini, masyarakat dapat memesan jadwal penukaran terlebih dahulu sehingga prosesnya lebih tertib tanpa harus mengantre lama di lokasi layanan. Namun, tidak sedikit kas keliling masih diburu meski ada aplikasi Pintar BI. Lantas, mengapa layanan kas keliling BI masih menjadi pilihan utama masyarakat untuk menukarkan uang baru? Berikut penjelasannya.
1. Tradisi uang baru saat Lebaran masih kuat

Tradisi membagikan uang baru saat Lebaran telah berlangsung lama dan menjadi bagian dari suasana perayaan Idulfitri di banyak keluarga. Uang pecahan kecil biasanya diberikan kepada anak-anak, keponakan, maupun kerabat sebagai simbol berbagi kebahagiaan setelah menjalani puasa sebulan penuh. Selain itu, uang baru juga sering dimanfaatkan untuk berbagai keperluan selama Lebaran, seperti sedekah hingga transaksi kecil di lingkungan sekitar. Karena itu, permintaan uang pecahan baru hampir selalu meningkat menjelang hari raya.
Mengutip situs Bisnis.com (17/3/2026), Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI) Muh. Anwar Bashori menyebut animo masyarakat untuk menukarkan uang rupiah menjelang Idulfitri 2026 sangat tinggi. Hingga 13 Maret 2026, jumlah masyarakat yang melakukan penukaran melalui layanan resmi tercatat mencapai sekitar 1.076.282 orang. Angka tersebut meningkat sekitar 85,4 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 580.496 penukar. Data ini menunjukkan kebutuhan uang pecahan kecil masih sangat besar di tengah masyarakat.
2. Aplikasi Pintar BI sering kehabisan kuota

Untuk mempermudah proses penukaran, Bank Indonesia menghadirkan aplikasi Pintar BI yang memungkinkan masyarakat memesan jadwal penukaran uang secara daring. Melalui layanan ini, pengguna dapat memilih lokasi dan waktu penukaran sesuai kuota yang tersedia. Sistem tersebut dirancang agar proses penukaran berlangsung lebih tertib dan terjadwal. Selain itu, langkah ini juga diharapkan dapat mengurangi antrean panjang di lokasi layanan.
Namun, banyak masyarakat mengaku kesulitan mendapatkan kuota penukaran melalui aplikasi tersebut. Kuota yang tersedia sering cepat habis karena tingginya jumlah pengguna yang mengakses layanan dalam waktu hampir bersamaan. Akibatnya, sebagian masyarakat harus mencoba berkali-kali atau bahkan gagal memperoleh jadwal penukaran. Situasi ini memunculkan fenomena “nge-war” kuota penukaran uang di aplikasi, sehingga keberadaan kas keliling BI menjadi alternatif bagi masyarakat yang kesulitan mendapatkan jadwal melalui Pintar BI.
3. Layanan kas keliling hadir di lokasi strategis pemudik

Layanan kas keliling masih menjadi solusi yang cukup efektif di tengah tingginya permintaan penukaran uang menjelang Lebaran. Melalui layanan ini, masyarakat dapat menukar uang secara langsung tanpa perlu memesan jadwal terlebih dahulu melalui aplikasi. Selama kuota penukaran masih tersedia, petugas akan melayani warga di lokasi layanan. Bagi sebagian orang, cara ini terasa lebih praktis karena prosesnya sederhana dan tidak memerlukan pemesanan secara daring.
Menjelang musim mudik, Bank Indonesia juga menghadirkan layanan penukaran tambahan melalui program SERAMBI Peduli Mudik pada 16–17 Maret 2026. Program ini difokuskan pada 55 titik strategis di sepanjang jalur arus mudik di berbagai wilayah Indonesia, seperti bandara, stasiun kereta api, terminal bus, pelabuhan, hingga rest area di jalan tol. Penempatan layanan di jalur perjalanan memudahkan pemudik menukar uang pecahan kecil tanpa harus mencari kantor bank sebelum melanjutkan perjalanan ke kampung halaman.
4. Layanan kas keliling tidak mengenakan biaya tambahan

Salah satu alasan kas keliling tetap diminati adalah karena layanan ini tidak mengenakan biaya tambahan. Masyarakat dapat menukar uang sesuai nominal yang dibawa tanpa potongan apa pun. Mengutip IDN Times (17/3/2026), informasi mengenai layanan kas keliling BI sering diperoleh masyarakat melalui media sosial seperti TikTok maupun pengumuman di stasiun. Dalam layanan tersebut, masyarakat dapat menukar uang hingga Rp4 juta dalam berbagai pecahan, mulai dari Rp20.000, Rp10.000, Rp5.000, Rp2.000, hingga Rp1.000 untuk kebutuhan Lebaran.
Proses penukaran di kas keliling BI juga tergolong mudah karena petugas hanya meminta uang yang akan ditukar dalam kondisi rapi agar dapat dihitung oleh mesin. Berbeda dengan jasa penukaran uang tidak resmi yang sering ditemukan di pinggir jalan, layanan resmi BI tidak mengenakan biaya administrasi dan menjamin keaslian uang yang diterima masyarakat. Karena itu, BI mengimbau masyarakat untuk menukar uang hanya melalui layanan resmi BI maupun perbankan guna menghindari risiko penipuan atau peredaran uang palsu.
5. Tingginya animo masyarakat menukar uang

Tingginya minat masyarakat terhadap penukaran uang juga terlihat dari peningkatan jumlah layanan yang disediakan oleh Bank Indonesia. Mengutip detikinet, jumlah titik layanan penukaran meningkat dari sekitar 5.202 layanan pada tahun sebelumnya menjadi 9.294 layanan di berbagai wilayah. Penambahan tersebut bertujuan memperluas jangkauan layanan sekaligus mempermudah masyarakat yang ingin menukar uang pecahan baru menjelang Lebaran.
Fenomena kas keliling masih diburu meski ada aplikasi Pintar BI menunjukkan bahwa kebutuhan uang pecahan kecil saat Idulfitri masih sangat besar. Meskipun layanan digital seperti aplikasi Pintar BI telah tersedia, banyak masyarakat tetap merasa lebih nyaman memanfaatkan layanan langsung. Keberadaan kas keliling pun menjadi pelengkap penting dalam sistem layanan penukaran uang, sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi melalui kombinasi layanan daring dan luring.
Seiring meningkatnya perputaran uang tunai menjelang Lebaran, Bank Indonesia kembali mengingatkan masyarakat agar melakukan penukaran melalui jalur resmi. BI juga meminta masyarakat mewaspadai praktik jual beli uang tunai yang kerap muncul di pinggir jalan saat musim Lebaran. Penukaran di luar mekanisme resmi dinilai memiliki sejumlah risiko, mulai dari keaslian uang yang tidak terjamin, jumlah lembaran yang sulit dipastikan keakuratannya, hingga potensi penipuan yang dapat merugikan masyarakat secara finansial.


















