Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Adopsi AI Indonesia Tinggi, tapi Pemanfaatannya Masih Terkonsentrasi
ilustrasi OpenAI (unsplash.com/Zac Wolff)
  • Adopsi AI di Indonesia kuat, tetapi penggunaan untuk tugas yang lebih kompleks masih terkonsentrasi pada sebagian kecil pengguna.
  • Indonesia masuk lima besar penggunaan ChatGPT untuk Codex dan analisis data, namun pemanfaatan tingkat lanjut belum merata.
  • SEAPPI menyoroti kebutuhan akses perangkat, keterampilan, fondasi digital, inovasi, regulasi, dan koordinasi untuk memperluas pemanfaatan AI.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    White paper menyoroti kesenjangan pemanfaatan AI untuk pekerjaan kompleks di Indonesia.
  • Who?
    SEAPPI, OpenAI, Vriens & Partners, pengguna ChatGPT, perusahaan, institusi, dan pemerintah Indonesia.
  • Where?
    Indonesia, termasuk sektor publik, pendidikan, kesehatan, dan jasa keuangan.
  • When?
    per saat ini masih belum diketahui
  • Why?
    Pemanfaatan AI tingkat lanjut masih terkonsentrasi, sementara keterampilan digital menjadi kendala bagi perusahaan.
  • How?
    SEAPPI mendorong akses perangkat AI, peningkatan keterampilan, fondasi digital, panduan sektor, dan koordinasi regulasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Indonesia banyak memakai AI, tetapi hanya sedikit orang yang memakainya untuk pekerjaan yang sulit. Ada orang yang memakai ChatGPT untuk membuat program dan analisis data. Perusahaan juga masih punya masalah karena keterampilan digital terbatas. SEAPPI ingin lebih banyak orang dan tempat kerja bisa memakai AI dengan lebih baik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Temuan ini memperlihatkan bahwa Indonesia sudah memiliki kelompok pengguna yang memanfaatkan AI untuk pemrograman dan analisis data, serta masuk lima besar penggunaan ChatGPT untuk Codex dan analisis data. Fondasi tersebut dapat didukung melalui akses perangkat, pelatihan tenaga kerja, panduan yang jelas, dan penguatan fondasi digital.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Indonesia memiliki tingkat adopsi kecerdasan buatan yang kuat, tetapi pemanfaatan AI untuk pekerjaan yang lebih kompleks masih terkonsentrasi pada sebagian kecil pengguna. Temuan tersebut menjadi sorotan utama white paper Closing the AI Capability Gap in Indonesia yang dirilis Southeast Asia Public Policy Institute (SEAPPI) dengan dukungan OpenAI dan bekerja sama dengan Vriens & Partners.

Salah satu gambaran kesenjangan tersebut terlihat dari pola penggunaan ChatGPT di Indonesia. Analisis OpenAI yang dimuat dalam white paper menunjukkan bahwa kelompok pengguna pada persentil ke-95 menggunakan lebih dari 11 kali lipat token penalaran dibandingkan pengguna median, meski metrik tersebut bukan ukuran kemampuan atau produktivitas seseorang dan lebih menggambarkan tingkat kompleksitas tugas yang diberikan kepada AI.

Kondisi ini membuat tantangan AI Indonesia mulai bergeser dari sekadar memperluas adopsi menuju bagaimana teknologi tersebut bisa dimanfaatkan secara lebih mendalam oleh masyarakat dan organisasi. SEAPPI menilai ada dua peluang utama yang perlu didorong, yakni memperluas akses institusi terhadap perangkat AI yang mumpuni serta membantu lebih banyak orang menggunakan AI untuk pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan pengetahuan tingkat lanjut.

Indonesia masuk lima besar penggunaan ChatGPT untuk Codex dan analisis data

Sandy Kunvatanagarn, Head of Policy, Southeast Asia di OpenAI (IDN Times/Fatkhur Rozi)

White paper tersebut menemukan bahwa sebagian pengguna Indonesia sebenarnya sudah memanfaatkan AI untuk pekerjaan tingkat lanjut. Indonesia bahkan masuk dalam lima besar negara di dunia dalam penggunaan ChatGPT untuk Codex dan analisis data, yang menunjukkan adanya kelompok pengguna yang memanfaatkan AI untuk pemrograman dan pekerjaan analitis.

Persoalannya, pola pemanfaatan tersebut belum tersebar secara merata. Perbedaan penggunaan token penalaran lebih dari 11 kali lipat antara pengguna persentil ke-95 dan pengguna median memberikan gambaran bahwa sebagian pengguna sudah mendorong AI untuk menangani tugas kompleks, sementara kelompok pengguna lainnya belum memanfaatkan kemampuan serupa pada tingkat yang sama.

"Data kami menunjukkan bahwa pengguna di Indonesia sudah memanfaatkan AI untuk pekerjaan tingkat lanjut, termasuk pemrograman dan analisis data," ujar Sandy Kunvatanagarn, Head of Policy, Southeast Asia di OpenAI. "Namun, penggunaan tingkat lanjut ini masih terkonsentrasi pada kelompok yang relatif kecil. Peluang berikutnya adalah membuat kemampuan tersebut dapat diakses oleh lebih banyak orang dan organisasi. Para pemimpin bisnis dapat berperan dengan memberikan tim mereka akses terhadap perangkat AI perusahaan yang telah disetujui, berinvestasi pada keterampilan praktis, serta menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan AI diterapkan dalam berbagai proses kerja sehari-hari."

Kesenjangan AI juga terjadi di tingkat perusahaan

Ed Ratcliffe, Executive Director SEAPPI (IDN Times/Fatkhur Rozi)

Tantangan pemanfaatan AI tidak hanya terjadi pada tingkat individu. SEAPPI menilai organisasi dan institusi juga membutuhkan fondasi digital yang kuat, tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai, ruang untuk mendorong inovasi lokal, serta aturan yang jelas agar AI dapat diterapkan secara bertanggung jawab.

Riset AWS yang dikutip dalam white paper memberikan gambaran mengenai persoalan tersebut di tingkat perusahaan. Hanya 10 persen perusahaan yang telah mengadopsi AI di Indonesia disebut sudah mentransformasi bisnis mereka menggunakan teknologi tersebut, sedangkan 57 persen menyebut keterbatasan keterampilan digital sebagai salah satu kendala utama.

Kondisi tersebut membuat keputusan perusahaan mengenai perangkat AI dan pelatihan tenaga kerja menjadi semakin penting. Perusahaan juga perlu menentukan proses kerja yang dapat dirancang ulang sehingga pemanfaatan AI oleh masing-masing pekerja tidak berhenti pada peningkatan produktivitas individu, tetapi dapat diterjemahkan menjadi manfaat yang lebih luas bagi organisasi.

"Indonesia sudah memiliki fondasi yang kuat dalam adopsi AI," ujar Executive Director SEAPPI sekaligus penulis utama white paper tersebut, Ed Ratcliffe. "Tahap berikutnya adalah membantu lebih banyak orang dan organisasi memanfaatkan AI untuk pekerjaan yang lebih kompleks. Hal ini membutuhkan keterampilan praktis, panduan yang jelas bagi sektor dengan regulasi ketat, serta koordinasi yang lebih erat di lintas instansi pemerintah. Hal ini sejalan dengan berbagai rekomendasi kami yang berfokus pada area tersebut."

Empat sektor dinilai punya peluang memperluas pemanfaatan AI

ilustrasi situs web OpenAI di layar smartphone (pexels.com/Solen Feyissa)

SEAPPI mengidentifikasi empat kondisi pendukung yang dibutuhkan untuk memperluas pemanfaatan AI di Indonesia, yakni fondasi digital, keterampilan dan talenta, kapasitas inovasi, serta kejelasan regulasi dan koordinasi. Dari fondasi tersebut, white paper menempatkan sektor publik, pendidikan, kesehatan, dan jasa keuangan sebagai empat area yang dapat menjadi titik awal perluasan penggunaan AI.

Pada sektor publik, akses institusi terhadap perangkat AI perlu dibarengi panduan bersama, mekanisme pengadaan yang jelas, dan arahan pimpinan agar implementasinya lebih konsisten. Sementara pada pendidikan, white paper menyinggung tutor AI di Universitas Terbuka yang menurut laporan Microsoft telah memfasilitasi sekitar 500 kelas dan lebih dari 100.000 mahasiswa, sekaligus menyoroti perlunya pelatihan tenaga pendidik, panduan berdasarkan usia pengguna, serta akses yang lebih baik untuk masyarakat di wilayah terpencil dan komunitas yang kurang terlayani.

Sektor kesehatan juga sudah memiliki contoh penggunaan melalui analisis rontgen dada berbantuan AI untuk mendukung proses skrining tuberkulosis. White paper melihat peluang AI untuk membantu tenaga kesehatan, mengurangi beban administratif, dan memperkuat layanan kesehatan primer, sementara sektor jasa keuangan dapat memanfaatkan landasan Artificial Intelligence Governance for Indonesian Banks dari OJK untuk memperluas implementasi AI secara terkelola hingga lembaga keuangan skala menengah, kecil, dan di luar wilayah perkotaan.

Indonesia ingin bergerak dari adopsi menuju pemanfaatan AI yang lebih dalam

ilustrasi logo ChatGPT milik OpenAI (unsplash.com/Rolf van Root)

Rekomendasi white paper tidak berhenti pada peningkatan keterampilan individu. SEAPPI mendorong perluasan akses perusahaan dan institusi terhadap perangkat AI, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dukungan terhadap transformasi digital UMKM, panduan yang lebih jelas untuk masing-masing sektor, serta perluasan pemanfaatan AI di pemerintahan melalui pedoman pengadaan dan penggunaan bersama.

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Edwin Hidayat Abdullah, mengatakan, "White paper Closing the AI Capability Gap in Indonesia dapat menjadi salah satu rujukan penting untuk melihat kesiapan Indonesia dalam melangkah dari adopsi AI menuju pemanfaatan yang lebih mendalam dan bermakna. Hal ini tentunya sejalan dengan prioritas Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai pusat aplikasi AI di ASEAN, yang perlu didukung dengan penguatan kapabilitas komputasi, transfer dan pengembangan teknologi bersama, serta akses terhadap investasi dan pasar yang memberikan manfaat timbal balik."

Ia menambahkan, "Pada akhirnya, pemanfaatan AI diharapkan dapat memperkuat kecerdasan kolektif dan mendorong kemajuan teknologi yang bermuara pada peningkatan produktivitas serta kesejahteraan masyarakat Indonesia."

Arah tersebut memperlihatkan bahwa tingginya adopsi belum otomatis membuat manfaat AI tersebar secara merata. Tantangan berikutnya berada pada kemampuan Indonesia memperkecil jarak antara teknologi AI yang semakin canggih dengan kapasitas individu, perusahaan, dan institusi untuk menggunakannya pada pekerjaan yang lebih kompleks, sehingga pemanfaatannya dapat bergerak dari sekadar penggunaan sehari-hari menuju peningkatan produktivitas yang lebih luas.

Curated For You

Editorial Team

Related Article