Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bagaimana TikTok Bisa Mengubah Cara Orang Berbelanja?

Bagaimana TikTok Bisa Mengubah Cara Orang Berbelanja?
ilustrasi TikTok (unsplash.com/Aaron Weiss)
  • TikTok mengubah kebiasaan belanja dari pencarian produk menjadi penemuan produk lewat konten.

  • Algoritma, ulasan kreator, dan konten pengguna dapat memengaruhi keputusan pembelian.

  • TikTok Shop membuat proses dari melihat produk hingga membeli menjadi semakin cepat dan mudah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Dulu, orang biasanya mencari produk terlebih dahulu sebelum membelinya. Mereka mengetik nama barang di mesin pencari atau marketplace, membandingkan harga, membaca ulasan, lalu menentukan pilihan. Namun, TikTok mengubah kebiasaan tersebut dengan membuat orang menemukan produk justru ketika sedang mencari hiburan.

Lewat video singkat, rekomendasi algoritma, konten kreator, hingga TikTok Shop, proses dari melihat produk sampai membeli bisa berlangsung sangat cepat. Inilah yang membuat TikTok tidak hanya menjadi media sosial, tetapi juga ikut mengubah cara orang menemukan, mempertimbangkan, dan membeli produk. Mari, kita bahas lebih dalam bagaimana TikTok mengubah cara orang berbelanja!

  1. 1. Mengubah cara orang menemukan produk

    ilustrasi fashion content creator
    ilustrasi fashion content creator (pexels.com/Miriam Alonso)

    Perubahan terbesar yang dibawa TikTok ialah bergesernya kebiasaan belanja dari search-driven shopping menjadi discovery-driven shopping. Artinya, konsumen tidak selalu mencari produk yang memang sudah ingin dibeli. Mereka justru bisa menemukan barang yang sebelumnya tidak ada dalam daftar belanja.

    Sebagai gambaran, seseorang awalnya hanya membuka TikTok untuk melihat video hiburan. Di tengah aktivitas tersebut, muncul video kreator yang menunjukkan produk skincare, peralatan rumah tangga, atau pakaian. Karena produk tersebut terlihat menarik dan relevan dengan minat pengguna, muncul rasa penasaran yang kemudian bisa berujung pada pembelian. Kondisi ini membuat jarak antara menemukan produk dan membelinya menjadi semakin pendek.

  2. 2. Algoritma membuat produk terasa lebih relevan

    ilustrasi TikTok
    ilustrasi TikTok (unsplash.com/appshunter.io)

    TikTok juga memiliki peran besar dalam membentuk keputusan belanja melalui algoritmanya. Konten yang muncul di halaman For You disesuaikan dengan aktivitas pengguna, seperti video yang ditonton, disukai, dibagikan, atau dicari. Akibatnya, pengguna bisa terus melihat produk yang sesuai dengan minat mereka tanpa harus mencari secara manual. Produk pun tidak selalu terasa seperti iklan karena ditampilkan dalam bentuk video hiburan, tutorial, ulasan, atau cerita dari kreator. Ketika konten tersebut menarik secara emosional, perhatian pengguna bisa bertahan lebih lama. Ditambah dengan rekomendasi dari kreator yang dianggap terpercaya, produk menjadi lebih mudah menarik minat dan mendorong keputusan pembelian.

  3. 3. Ulasan dan konten pengguna meningkatkan kepercayaan

    ilustrasi TikTok
    ilustrasi TikTok (unsplash.com/Aaron Weiss)

    TikTok juga mengubah cara konsumen mencari informasi sebelum membeli. Alih-alih hanya mengandalkan iklan resmi dari merek, banyak orang ingin melihat pengalaman pengguna lain terlebih dahulu. Konten seperti video review, unboxing, perbandingan produk, hingga pengalaman menggunakan barang memberikan gambaran yang terasa lebih nyata. Konsumen bisa melihat bagaimana produk digunakan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar melihat foto atau deskripsi dari penjual.

    Fenomena "TikTok made me buy it" menunjukkan bagaimana rekomendasi pengguna lain dapat memengaruhi keputusan belanja. Ketika sebuah produk digunakan atau direkomendasikan banyak orang, konsumen melihatnya sebagai bentuk validasi sosial. Hal ini kemudian dapat meningkatkan rasa percaya dan ketertarikan untuk mencoba produk tersebut.

  4. 4. TikTok Shop membuat proses belanja semakin singkat

    ilustrasi TikTok
    ilustrasi TikTok (pexels.com/cottonbro studio)

    Kehadiran TikTok Shop semakin memperkuat perubahan tersebut. Konsumen tidak lagi harus berpindah dari media sosial ke marketplace untuk membeli produk yang baru saja mereka lihat. Fitur belanja yang terintegrasi memungkinkan perjalanan dari konten menuju transaksi berlangsung dalam satu platform. Promosi seperti flash sale, diskon terbatas, dan hitung mundur juga dapat menciptakan rasa urgensi sehingga pengguna terdorong mengambil keputusan lebih cepat.

    Inilah salah satu alasan TikTok dapat mendorong pembelian impulsif. Pengguna yang awalnya tidak berniat berbelanja bisa tiba-tiba tertarik setelah melihat produk yang muncul di feed. Konten yang menarik dan promosi yang ditawarkan pun dapat membuat mereka terdorong untuk segera membeli.

  5. 5. TikTok bahkan memengaruhi pencarian di platform lain

    ilustrasi belanja daring
    ilustrasi belanja daring (freepik.com/freepik)

    Pengaruh TikTok tidak berhenti ketika pengguna meninggalkan aplikasinya. Konten yang viral dapat membuat konsumen mencari produk yang sama di marketplace atau mesin pencari lain. Dengan kata lain, TikTok kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi, tetapi juga sebagai mesin pencipta permintaan. Produk yang awalnya tidak dicari bisa menjadi populer setelah muncul berulang kali di media sosial. Perubahan ini menunjukkan bahwa perjalanan konsumen pada era digital tidak lagi selalu dimulai dari kolom pencarian. Dalam banyak kasus, perjalanan tersebut justru dimulai dari sebuah video yang muncul secara tidak terduga di layar.

    Pada akhirnya, TikTok membuat batas antara hiburan dan belanja menjadi semakin tipis. Orang tidak lagi hanya pergi ke internet untuk mencari barang yang ingin dibeli, tetapi juga bisa menemukan sesuatu yang ingin dibeli hanya karena sedang menonton video. Kamu sendiri bagaimana menanggapi fenomena ini?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More