Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bagaimana Bulgaria Jadi Salah Satu Pusat Streaming Piala Dunia Ilegal?
ilustrasi nonton bareng pertandingan sepak bola (unsplash.com/Luciano Oliveira)
  • Departemen Kehakiman AS bersama FIFA dan lembaga internasional menyita hampir 400 domain ilegal Piala Dunia, dengan Bulgaria termasuk negara yang digunakan jaringan pembajakan lintas negara.
  • Bulgaria berulang kali memimpin operasi besar seperti Operation Kratos dan KRATOS 2 bersama Europol, membongkar jaringan IPTV ilegal global dengan jutaan pengguna dan puluhan tersangka.
  • Infrastruktur digital maju serta posisi strategis Bulgaria di Uni Eropa membuatnya sering dimanfaatkan jaringan pembajakan internasional, meski bukan berarti negara itu menjadi pusat utama aktivitas ilegal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Meningkatnya popularitas Piala Dunia selalu diikuti lonjakan aktivitas siaran ilegal di internet. Sepanjang turnamen langsung, ribuan situs dan layanan IPTV Ilegal bermunculan untuk menayangkan pertandingan tanpa izin resmi. Menariknya, Bulgaria kerap muncul dalam berbagai operasi internasional yang membongkar jaringan pembajakan siaran olahraga.

Lantas, mengapa Bulgaria sering dikaitkan dengan siaran ilegal Piala Dunia? Apakah negara tersebut memang menjadi pusat pembajakan dunia? Simak penjelasannya berikut!

1. Bulgaria berulang kali muncul dalam operasi anti pembajakan

ilustrasi nonton bareng pertandingan sepak bola (unsplash.com/Luciano Oliveira)

Laporan Reuters (26/6/2026) mengabarkan bahwa Departemen Kehakiman Amerika Serikat menyita hampir 400 domain yang menayangkan pertandingan Piala Dunia secara ilegal. Operasi tersebut dilakukan bersama FIFA, NBCUniversal, Warner Bros., dan Homeland Security Investigations (HSI). Langkah ini menjadi salah satu operasi penindakan terbesar terhadap pembajakan siaran olahraga selama gelaran Piala Dunia.

Dalam penyelidikan tersebut disebutkan bahwa server maupun domain yang digunakan jaringan pembajakan tersebar di sejumlah negara, termasuk Peru, Kroasia, Rumania, Polandia, Kolombia, dan Bulgaria. Temuan ini menunjukkan bahwa infrastruktur jaringan pembajakan beroperasi secara lintas negara dan tidak terpusat di satu lokasi saja. Artinya, Bulgaria menjadi salah satu negara yang dimanfaatkan sebagai bagian dari infrastruktur jaringan pembajakan tersebut.

2. Sudah lama menjadi target penyelidikan Europol

ilustrasi laptop dan koneksi internet (freepik.com/freepik)

Temuan tersebut bukan kali pertama nama Bulgaria muncul dalam penyelidikan internasional. Bulgaria sebenarnya sudah lama dikaitkan dengan berbagai operasi pemberantasan IPTV ilegal. Negara ini beberapa kali menjadi lokasi penggerebekan maupun pusat koordinasi penyelidikan yang melibatkan aparat penegak hukum dari berbagai negara Eropa.

Pada 2020, Europol mendukung aparat Bulgaria membongkar sejumlah distributor IPTV ilegal yang menjual akses ke ribuan saluran televisi berbayar tanpa izin. Operasi tersebut menyita berbagai peralatan, server, dan menjatuhkan sanksi besar kepada pelaku. Penindakan ini menjadi salah satu upaya awal untuk memutus jaringan distribusi IPTV ilegal yang beroperasi di kawasan Eropa.

Kemudian, pada 2024, Bulgaria memimpin Operation Kratos yang didukung Europol, Eurojust, dan sejumlah negara Eropa. Operasi itu berhasil membongkar jaringan streaming ilegal yang menjangkau lebih dari 22 juta pengguna di seluruh dunia, menyita puluhan server, dan mengidentifikasi lebih dari 100 tersangka. Keberhasilan tersebut memperlihatkan besarnya skala jaringan IPTV ilegal yang selama ini beroperasi secara internasional.

Operasi lanjutan pada 2026 atau KRATOS 2 kembali dipimpin Bulgaria. Dihimpun dari Insight EU Monitoring, sembilan kelompok kriminal dibongkar, 29 orang ditangkap, dan lebih dari 27.000 URL streaming ilegal berhasil dihapus dalam operasi tersebut. Hasil operasi ini menunjukkan bahwa aparat penegak hukum Eropa terus meningkatkan koordinasi untuk menekan penyebaran layanan streaming ilegal.

3. Mengapa Bulgaria sering dikaitkan dengan IPTV Ilegal?

ilustrasi cek koneksi internet saat streaming bola (pexels.com/Stefan Coders)

Ada beberapa alasan mengapa Bulgaria kerap muncul dalam berbagai penyelidikan internasional. Faktor tersebut berkaitan dengan kondisi infrastruktur digital hingga karakter jaringan pembajakan modern yang bersifat lintas negara. Namun, kondisi ini tidak berarti seluruh aktivitas pembajakan berasal dari Bulgaria.

Pertama, Bulgaria memiliki infrastruktur internet yang tergolong maju di kawasan Eropa. Menurut laporan Economic BG, cakupan fiber-to-the-home (FTTP) di negara tersebut telah mencapai 93,53 persen pada 2025, jauh di atas rata-rata Uni Eropa yang sebesar 74,13 persen. Cakupan jaringan 5G juga mencapai 94,83 persen yang menunjukkan ketersediaan konektivitas berkecepatan tinggi di sebagian besar wilayah negara itu.

Infrastruktur digital yang berkembang tersebut membuat Bulgaria menjadi salah satu negara yang memiliki ekosistem internet yang kuat. Meski demikian, tidak ada bukti bahwa kualitas infrastruktur tersebut secara langsung menyebabkan Bulgaria menjadi pusat operasi IPTV ilegal. Para penegak hukum umumnya menjelaskan bahwa jaringan pembajakan memanfaatkan server di banyak negara dengan infrastruktur internet yang memadai untuk meningkatkan keandalan layanan sekaligus mempersulit proses pelacakan.

Kedua, posisi Bulgaria sebagai anggota Uni Eropa menjadikannya salah satu simpul penting lalu lintas data di kawasan Eropa. Jaringan pembajakan modern biasanya menyebarkan server ke berbagai negara agar layanan tetap berjalan meski sebagian domain diblokir oleh otoritas. Strategi ini membuat proses penindakan menjadi lebih rumit karena melibatkan banyak yurisdiksi.

Ketiga, banyak jaringan IPTV ilegal memang beroperasi secara internasional. Operator, reseller, server, domain, hingga sistem pembayaran dapat berada di negara yang berbeda-beda dalam satu jaringan yang sama. Karena itu, kemunculan Bulgaria dalam berbagai penyelidikan tidak berarti negara tersebut menjadi asal seluruh aktivitas pembajakan.

4. Risiko menonton siaran ilegal

ilustrasi streaming pertandingan Piala Dunia menggunakan HP (pexels.com/Bảo Minh)

Selain melanggar hak cipta, situs streaming ilegal juga dinilai berisiko bagi pengguna. Banyak layanan semacam ini tidak memiliki standar keamanan yang memadai sehingga dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan siber. Risiko yang muncul bukan hanya berkaitan dengan kualitas siaran, tetapi juga keamanan perangkat dan data pribadi pengguna.

Eric Weindorf dari Homeland Security Investigations (HSI) menyebut banyak layanan tersebut dapat menjadi sarana penyebaran malware, pencurian data pribadi, hingga penipuan siber. Sejumlah penelitian akademis juga menemukan bahwa situs streaming ilegal cenderung memuat pelacak pihak ketiga, iklan menyesatkan, dan berbagai mekanisme yang dapat membahayakan privasi pengguna. Karena itu, menonton melalui layanan resmi dinilai jauh lebih aman dibanding mengakses situs streaming ilegal.

Pada akhirnya, meski Bulgaria beberapa kali menjadi lokasi penting dalam operasi anti-pembajakan, fenomena siaran ilegal Piala Dunia merupakan kejahatan siber lintas negara yang melibatkan jaringan internasional. Berbagai operasi penegakan hukum menunjukkan bahwa tidak ada satu negara yang menjadi "markas tunggal" pembajakan. Sebaliknya, jaringan tersebut memanfaatkan server, domain, dan infrastruktur digital di berbagai negara sehingga lebih sulit dilacak maupun ditindak oleh aparat penegak hukum.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article