Rekam Jejak Connected Ball Technology di Turnamen FIFA

- Connected Ball Technology pertama kali debut di Piala Dunia 2022 Qatar lewat bola Al Rihla, menghadirkan sensor IMU yang kirim data real-time untuk bantu VAR ambil keputusan lebih akurat.
- Teknologi ini lanjut digunakan di Piala Dunia Wanita 2023 dan FIFA Club World Cup 2025, memperkaya analisis pertandingan serta mempercepat deteksi offside dengan dukungan kecerdasan buatan.
- Pada Piala Dunia 2026, bola Trionda akan melanjutkan inovasi ini bersama sistem offside semi-otomatis generasi baru, menegaskan peran penting data real-time dalam sepak bola modern.
Pertandingan sepak bola dunia terus mengalami transformasi seiring perkembangan teknologi. Setelah kehadiran Goal-Line Technology dan Video Assistant Referee (VAR), FIFA kembali memperkenalkan inovasi baru berupa Connected Ball Technology, sebuah teknologi yang memungkinkan bola pertandingan mengirimkan data secara real-time kepada perangkat pertandingan.
Teknologi ini menjadi salah satu terobosan terbesar dalam dunia sepak bola karena mampu membantu wasit dan VAR mengambil keputusan secara lebih cepat dan akurat. Sejak pertama kali diperkenalkan pada Piala Dunia 2022 di Qatar, Connected Ball Technology terus digunakan dan dikembangkan di berbagai turnamen FIFA hingga menjadi bagian penting dari Piala Dunia 2026. Nah, sebelum menyaksikan teknologi ini kembali merumput di World Cup 2026, mari simak rekam jejak penggunaannya di berbagai turnamen FIFA selama beberapa tahun terakhir.
1. Debut di Piala Dunia Qatar 2022
Connected Ball Technology pertama kali diperkenalkan secara resmi pada ajang Piala Dunia 2022 di Qatar melalui bola Adidas Al Rihla. Kehadiran teknologi ini menandai babak baru dalam pemanfaatan data real-time untuk membantu perangkat pertandingan. FIFA melihat inovasi tersebut sebagai langkah penting untuk meningkatkan akurasi pengambilan keputusan di lapangan.
Di dalam bola Al Rihla tertanam sensor gerak inertial measurement unit (IMU) yang mampu mengirimkan data hingga 500 kali per detik. Data tersebut digunakan untuk mendeteksi momen tepat ketika bola disentuh pemain dan kemudian dikombinasikan dengan sistem Semi-Automated Offside Technology (SAOT). Berkat kombinasi kedua teknologi tersebut, VAR dapat menentukan titik umpan dengan tingkat presisi yang jauh lebih tinggi dibanding metode sebelumnya.
2. Berlanjut di Piala Dunia Wanita 2023
Setelah sukses digunakan di Qatar, FIFA kembali menerapkan Connected Ball Technology pada FIFA Women's World Cup 2023 yang digelar di Australia dan Selandia Baru. Bola resmi OCEAUNZ menjadi bola pertama dalam sejarah Piala Dunia Wanita yang dilengkapi teknologi sensor canggih tersebut. Langkah ini menunjukkan komitmen FIFA untuk menghadirkan standar teknologi yang sama di berbagai kompetisi utama.
Pemanfaatan Connected Ball Technology tidak hanya membantu proses perwasitan, tetapi juga memperkaya pengalaman penonton. Sensor di dalam bola mampu menghasilkan berbagai data pertandingan, mulai dari kecepatan tembakan hingga karakteristik pergerakan bola. Informasi tersebut kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan siaran, analisis pertandingan, dan penyajian statistik yang lebih menarik bagi penggemar sepak bola.
3. Ambil bagian juga dalam FIFA Club World Cup 2025
Setelah hadir di dua ajang Piala Dunia, perjalanan Connected Ball Technology belum berhenti. Perjalanan Connected Ball Technology berlanjut pada FIFA Club World Cup 2025 yang digelar di Amerika Serikat. Turnamen ini menjadi salah satu ajang penting bagi FIFA untuk menguji berbagai inovasi menjelang Piala Dunia 2026.
Pada turnamen tersebut, sensor di dalam bola dipadukan dengan sistem deteksi offside yang semakin canggih. Teknologi berbasis kecerdasan buatan membantu mempercepat proses identifikasi situasi offside sebelum diverifikasi oleh VAR. Hasilnya, proses pengambilan keputusan dapat berlangsung lebih efisien tanpa mengurangi tingkat akurasi yang dibutuhkan dalam pertandingan level tertinggi.
4. Connected ball technology akan menjadi bagian dari Piala Dunia 2026
Connected Ball Technology dipastikan tetap menjadi bagian dari perangkat teknologi yang digunakan pada FIFA World Cup 2026. Bola resmi bernama Trionda akan melanjutkan penggunaan sensor gerak berfrekuensi tinggi yang telah diterapkan sejak Qatar 2022. Kehadiran teknologi tersebut menjadi bukti bahwa FIFA semakin mengandalkan data untuk mendukung jalannya pertandingan.
Pada edisi 2026, teknologi bola pintar akan bekerja bersama generasi terbaru Semi-Automated Offside Technology. Kombinasi keduanya memungkinkan sistem mendeteksi sentuhan bola, posisi pemain, hingga potensi handball secara lebih akurat. FIFA juga menyiapkan berbagai peningkatan visualisasi agar keputusan yang dihasilkan teknologi dapat lebih mudah dipahami oleh pemain, pelatih, dan penonton.
Dalam empat turnamen FIFA yang berbeda, Connected Ball Technology telah berkembang dari sebuah inovasi baru menjadi bagian penting dari ekosistem sepak bola modern. Teknologi ini digunakan secara konsisten mulai dari Piala Dunia Qatar 2022, Piala Dunia Wanita 2023, Club World Cup di Amerika Serikat, hingga persiapan menuju Piala Dunia 2026. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan data real-time kini semakin diterima dalam dunia sepak bola profesional.
Meski demikian, teknologi hanyalah alat yang membantu menjaga keadilan pertandingan. Sensor di dalam bola memang mampu melacak pergerakan hingga detail terkecil, tetapi tidak dapat menggantikan emosi, kreativitas, dan semangat yang ditunjukkan para pemain di lapangan. Pada akhirnya, teknologi dan unsur manusia akan terus berjalan berdampingan untuk menjaga sepak bola tetap menarik sekaligus semakin adil bagi semua pihak.


















