Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara Mengenali Penipuan Voice Cloning AI sebelum Terlambat
Ilustrasi penggunaan smartphone untuk mengakses layanan digital (unsplash.com/Ali Pli)
  • Teknologi voice cloning AI dapat meniru suara keluarga atau rekan dari rekaman daring, sehingga suara familier bukan bukti identitas penelepon; serangan deepfake meningkat 1.400 persen pada 2024–2025.
  • Waspadai cerita darurat yang memicu panik dan desakan bertindak cepat, terutama jika penelepon memakai nomor baru, meminta pindah aplikasi, atau melarang korban menghubungi pihak lain.
  • Jangan berikan transfer, OTP, PIN, kata sandi, atau data perbankan. Tutup panggilan dan verifikasi identitas melalui nomor tersimpan atau anggota keluarga sebelum memenuhi permintaan tidak biasa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kemajuan kecerdasan artifisial atau AI membuat suara seseorang dapat ditiru dengan semakin meyakinkan. Rekaman suara yang tersedia dalam video atau unggahan di internet dapat dimanfaatkan untuk menciptakan suara sintetis yang menyerupai keluarga, teman, atau rekan kerja. Teknologi tersebut dikenal sebagai voice cloning.

Dilansir Otoritas Jasa Keuangan pada 15 November 2025, Satgas PASTI mengingatkan bahwa teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk merekam dan meniru suara teman, kolega, atau anggota keluarga yang berujung pada penipuan. Suara yang telah dipelajari tersebut kemudian dapat digunakan pelaku untuk berbicara seolah-olah dirinya merupakan orang yang dikenal sebagai korban. Karena itu, suara yang terdengar familier tidak boleh langsung dijadikan bukti bahwa identitas penelepon benar. Agar kamu terhindar dari hal-hal buruk, berikut cara mengenali penipuan voice cloning AI.

1. Suaranya familier, tetapi identitasnya belum tentu benar

ilustrasi suara (pexels.com/Karolina Grabowska)

Suara yang terdengar sama tidak lagi cukup untuk membuktikan identitas penelepon. Perhatikan pilihan kata, sapaan, nada bicara, serta cara orang tersebut menjawab pertanyaan. Meski demikian, jangan hanya mengandalkan kejanggalan suara karena teknologi voice cloning dapat menghasilkan suara yang sangat meyakinkan.

Dilansir BPSDM Komdigi Yogyakarta pada 31 Januari 2026, CEO Cyberkarta Ismail Hakim menyampaikan bahwa serangan deepfake berupa pemalsuan wajah dan suara menggunakan AI meningkat 1.400 persen secara tahunan dari 2024 ke 2025. Dalam kegiatan yang sama, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyoroti bahwa AI memungkinkan pelaku meniru wajah dan suara secara meyakinkan untuk melakukan penipuan bermotif finansial.

2. Penelepon membawa cerita darurat agar kamu panik

Seorang perempuan tampak cemas saat menerima panggilan telepon (pexels.com/MART PRODUCTION)

Pelaku biasanya mengaku sedang mengalami kecelakaan, ditahan polisi, kehilangan dompet, atau membutuhkan biaya pengobatan. Cerita tersebut sengaja dibuat mendesak agar korban tidak mempunyai waktu untuk berpikir dan memeriksa kebenarannya. Kehadiran suara yang mirip dengan anggota keluarga membuat skenario tersebut terasa lebih nyata.

Dilansir Federal Trade Commission pada 20 Maret 2023, pelaku dapat menggunakan potongan rekaman suara dari konten daring untuk meniru suara anggota keluarga korban. Tiruan suara tersebut kemudian digunakan dalam cerita keadaan darurat agar korban panik dan segera mengirimkan uang. Ketika penelepon terus mendesakmu untuk bertindak saat itu juga, anggaplah hal tersebut sebagai tanda bahaya.

3. Ada permintaan uang atau informasi rahasia

Ilustrasi pembayaran digital menggunakan smartphone dan kartu bank (unsplash.com/CardMapr.nl)

Waspadai penelepon yang meminta transfer ke rekening baru, kode OTP, PIN, kata sandi, atau informasi perbankan. Permintaan membeli kartu hadiah, mengirim mata uang kripto, atau menggunakan metode pembayaran yang sulit dibatalkan juga patut dicurigai. Satgas PASTI menyarankan masyarakat tidak memberikan informasi pribadi maupun keuangan sebelum memastikan identitas orang yang menghubungi. Suara yang familier tidak pernah menjadi alasan untuk menyerahkan akses akun atau data rahasia.

4. Nomor atau saluran komunikasinya tiba-tiba berubah

Ilustrasi panggilan masuk dari nomor yang belum dikenali (Magnific.com/rawpixel.com)

Penipu dapat memakai nomor baru lalu beralasan bahwa ponsel orang yang ditirunya rusak, hilang, atau kehabisan baterai. Pelaku juga mungkin meminta percakapan dipindahkan ke aplikasi lain agar lebih sulit diperiksa. Perubahan nomor sebenarnya bisa terjadi, tetapi menjadi mencurigakan ketika langsung disertai permintaan uang atau informasi sensitif. Jangan mengandalkan nama dan nomor yang muncul pada layar karena identitas penelepon juga dapat dipalsukan.

5. Penelepon menghindari verifikasi dan meminta percakapan dirahasiakan

Seorang pria memeriksa informasi melalui laptop saat melakukan panggilan telepon (unsplash.com/David Hahn)

Pelaku biasanya tidak ingin korban menghubungi keluarga, teman, bank, atau lembaga yang disebutkan dalam ceritanya. Ia mungkin melarangmu menutup telepon, meminta masalah tersebut dirahasiakan, atau terus mendesak agar uang segera dikirim. Sikap menolak verifikasi merupakan tanda yang lebih kuat daripada sekadar suara yang terdengar aneh. Tutup telepon, kemudian hubungi orang yang bersangkutan melalui nomor yang sudah kamu simpan atau tanyakan kepada anggota keluarga lainnya. FTC dan Satgas PASTI sama-sama menganjurkan pemeriksaan melalui saluran komunikasi lain sebelum memenuhi permintaan yang tidak biasa.

Teknologi voice cloning membuat penipuan semakin sulit dikenali hanya dengan mengandalkan pendengaran. Oleh sebab itu, cara mengenali penipuan voice cloning AI bisa kamu jadikan panduan untuk menghindari hal-hal buruk. Selain itu, saat menerima panggilan yang mendesak, berhentilah sejenak, periksa pola permintaannya, dan lakukan verifikasi secara mandiri. Suara dapat ditiru, tetapi kebiasaan untuk tidak terburu-buru dapat melindungi uang dan data pribadimu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article