Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Ciri Novel yang Dihasilkan Sepenuhnya oleh AI
ilustrasi teks AI (unsplash.com/@markuswinkler)
  • Novel yang sepenuhnya dibuat AI cenderung memakai diksi repetitif, metafora dangkal, dan ungkapan klise, sehingga gaya narasinya monoton serta kehilangan ciri personal penulis.
  • AI sering dominan memaparkan emosi secara langsung, menghasilkan dialog terlalu formal tanpa subteks, serta kesulitan menjaga konsistensi karakter, relasi tokoh, dan detail latar dalam naskah panjang.
  • Konflik dalam novel buatan AI kerap diselesaikan instan dan terlalu rapi; AI dinilai lebih berguna sebagai asisten penulisan atau mitra brainstorming daripada pengganti penulis manusia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika pertama kali viral, AI seperti ChatGPT hanya bisa menghasilkan artikel singkat, itu pun dengan bahasa yang terbatas. Beberapa tahun setelahnya, kecerdasan buatan kini sudah bisa menghasilkan novel secara utuh walaupun ditulis secara bertahap. Sekilas, ini bisa membantu para penulis mengerjakan naskah lebih cepat. 

Sayangnya, masih banyak penulis yang belum bisa memanfaatkan AI dengan bijak. AI penulisan novel yang saat ini ada sebenarnya hanyalah alat bantu, bukan pengganti. Jika keseluruhan penulisan novel digantikan oleh AI, maka kualitasnya akan jauh dari kata memuaskan. Bahkan, konten yang dihasilkan mungkin akan jadi Ai slop. Lalu, apa saja ciri-ciri novel yang ditulis secara utuh oleh AI tanpa sentuhan kreatif alami manusia? 

1. Pilihan diksi repetitif dan klise berlebihan

ilustrasi menulis (pixabay.com/deeezy)

Model bahasa kecerdasan buatan memiliki kecenderungan bawaan untuk mengulang kosakata tertentu secara tidak wajar di setiap bab cerita. Frasa-frasa melodramatis seperti napas yang tertahan, rasa dingin di punggung, wajah mengeras, atau tatapan tajam kerap muncul berkali-kali tanpa variasi majas yang segar. Penggunaan metafora terkadang sangat dangkal karena hanya meniru kumpulan sampel data pelatihan.

Menurut para pengguna yang mencoba menghasilkan novel dengan AI, karakter dalam cerita sering dideskripsikan menggunakan adjektiva klise yang seragam di berbagai babak cerita. Keberadaan ungkapan metafora yang identik ini membuat suasana narasi terasa monoton dan mudah diprediksi sejak bab awal. Pembaca berpengalaman akan segera menyadari hilangnya keunikan gaya penulisan personal yang biasanya menjadi ciri khas seorang novelis manusia.

2. Pendekatan telling yang dominan ketimbang showing

ilustrasi menulis di PC (unsplash.com/@sambourke)

Tulisan mesin biasanya terjebak dalam metode memaparkan perasaan tokoh secara gamblang tanpa membangun dinamika adegan yang emosional. Pembaca langsung diberi tahu bahwa seorang tokoh sedang marah atau bersedih lewat narasi datar, alih-alih ditunjukkan melalui bahasa tubuh atau getaran suara. Salah satu contohnya adalah adegan konflik yang seharusnya menegangkan malah berjalan sangat mekanis bagaikan laporan berita formal. Hal ini otomatis membuat cerita menjadi kehilangan jiwa estetis karena seluruh peristiwa hanya disampaikan sebagai rangkaian fakta peristiwa layaknya jurnal ilmiah.

3. Inkonsistensi logika karakter dan detail latar cerita

ilustrasi menulis (pexels.com/@vlada-karpovich)

Model komputasi AI kerap mengalami amnesia kontekstual ketika menangani naskah fiksi berskala panjang puluhan ribu kata. Karakter utama bisa mendadak berubah kepribadian, lupa terhadap motivasi awalnya, atau salah penyebutan nama pada karakter lain. Relasi antartokoh juga bisa berubah drastis secara mendadak tanpa melalui proses perkembangan emosi yang runtut. Contohnya, tokoh pendukung yang sebelumnya menjadi musuh bebuyutan bisa tiba-tiba berbicara akrab tanpa ada adegan rekonsiliasi yang melatarbelakanginya. Kelemahan struktural ini terjadi akibat AI punya keterbatasan jendela konteks algoritma dalam mengingat seluruh detail mikro cerita dari awal hingga akhir.

4. Dialog yang terlalu formal dan ketiadaan subteks

ilustrasi menulis (unsplash.com/@kaitlynbaker)

Karakter buatan mesin cenderung berbicara menggunakan struktur tata bahasa yang terlalu baku dan sempurna untuk situasi santai. Percakapan antar tokoh dalam novel biasanya minim jeda natural, dialek lokal, atau ungkapan tersirat yang biasanya mencerminkan dinamika hubungan manusia di dunia nyata. Semua tokoh dalam cerita terdengar berbicara dengan satu nada suara yang sama. Tak hanya itu, karakter juga sering mengungkapkan isi kepala mereka secara harfiah dan transparan. Dengan kata lain, dialog karakter pada novel yang dihasilkan oleh AI sepenuhnya biasanya punya kedalaman emosi yang dangkal.

5. Penyelesaian konflik yang terlalu rapi dan instan

ilustrasi menulis (unsplash.com/@christinhumephoto)

Ini adalah hal yang paling disorot. Resolusi konflik yang dihasilkan oleh AI cenderung seperti deus ex machina atau terlalu instan. AI cenderung menggiring alur cerita menuju konklusi moral yang serba teratur dan menghindari ambiguitas moral yang rumit. Masalah besar antartokoh kerap diselesaikan secara ajaib hanya melalui satu percakapan singkat yang penuh nasihat klise. Akibatnya, klimaks cerita jadi terasa membosankan karena terlalu didikte oleh moral. 

Ketegangan dramatis runtuh begitu saja karena mesin diprogram untuk memberikan resolusi yang aman dan memuaskan secara matematis. Plot cerita jarang menyajikan kejutan organik atau konsekuensi pahit yang mengubah cara pandang hidup para karakternya. Tahapan klimaks terasa begitu terburu-buru dan serba kebetulan demi segera menuntaskan kerangka cerita yang diperintahkan. 

Laman AI Write Book menyebut novel yang ditulis AI sepenuhnya memiliki kualitas lebih buruk dibandingkan dengan novel yang masih mendapatkan campur tangan manusia. Hal ini berarti kecerdasan buatan bukanlah pengganti penulis manusia dalam pembuatan novel. AI akan sangat berguna sebagai asisten penulisan dan menjadi mitra brainstroming

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article