ilustrasi Palestina (unsplash.com/Ahmed Abu Hameeda)
Temuan Pusat Satelit Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNOSAT) mengugkap jumlah bangunan yang hancur di seluruh Gaza telah meningkat sebesar 9 persen sejak gencatan senjata diberlakukan hampir setahun yang lalu. Secara keseluruhan, ada beberapa wilayah yang paling terdampak signifikan. Melansir Al Jazeera, berikut di antaranya.
Menurut data Kantor Urusan Kemanusiaan PBB, provinsi Gaza Utara punya proporsi lahan pertanian rusak tertinggi di Jalur Gaza dengan perkiraan mencapai 94% persen per Juli 2025. Selama perang, area seperti Beit Lahiya, Jabalia, dan komunitas lain di utara kerap menjadi sasaran operasi militer Israel. Kamp pengungsi Jabalia sebagai penampungan terbesar dari delapan kamp di Gaza telah hancur dengan citra satelit yang menunjukkan seluruh blok telah menjadi puing-puing.
Provinsi Gaza ikut mencatat jumlah bangunan rusak tertinggi kedua dalam temuan UNOSAT pada Oktober 2025. Perkiraan angkanya menunjukan total 51.530 bangunan dengan 41.663 di antaranya berada di Kota Gaza saja. Adapun salah satu lokasi yang paling parah terkena dampaknya adalah pelabuhan Gaza. UN Food and Agriculture Organization menyebut pelabuhan ini telah rusak parah dan sebagian besar kapal penangkap ikannya telah hancur.
Berikutnya ada Khan Younis yang mencatat jumlah bangunan rusak tertinggi dibandingkan provinsi lain dalam temuan UNOSAT per Oktober 2025 dengan total 51.885 bangunan. Wilayah yang juga menjadi salah satu pusat pertanian utama Gaza ini ikut mencatat total kerusakan lahan pertanian terbesar di Jalur Gaza.
Rafah adalah kota paling selatan Gaza yang sebelumnya jadi tempat pengungsian utama warga Palestina. Sebagian besar telah pindah beberapa kali karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk ditinggali. Di Rafah bagian barat, lingkungan Tal as-Sultan yang dulunya padat penduduk kini hampir sepenuhnya lenyap. Citra satelit menunjukkan hanya hamparan pasir di tempat bangunan-bangunan yang dulu pernah berdiri.