Gimana Pelaku Bisa Menemukan Identitas Seseorang dari Jejak Digital?

Jejak digital terbentuk dari aktivitas daring, seperti unggahan, komentar, foto, dan informasi teknis.
Pelaku dapat menghubungkan nama pengguna, surel, foto, dan informasi lintas platform untuk menemukan identitas asli seseorang.
Risiko penyalahgunaan jejak digital dapat dikurangi dengan memperketat privasi, membatasi informasi pribadi, dan memeriksa data yang tersebar di internet.
Setiap kali menggunakan internet, kamu sebenarnya sedang meninggalkan jejak di dunia digital. Mulai dari mengunggah foto, berkomentar di media sosial, berbelanja online, sampai sekadar membuka sebuah situs. Berbagai aktivitas tersebut bisa menghasilkan data yang tersimpan atau dikumpulkan oleh layanan digital.
Masalahnya, potongan informasi yang terlihat sepele belum tentu benar-benar tidak berarti. Jika dikumpulkan dari berbagai sumber, data tersebut dapat membentuk gambaran yang cukup lengkap tentang seseorang, termasuk identitas, lokasi, kebiasaan, hingga informasi pribadi tertentu. Lantas, bagaimana pelaku bisa menghubungkan jejak-jejak digital tersebut dengan identitas asli seseorang?
1. Apa itu jejak digital

ilustrasi unggahan media sosial (pexels.com/Lisa) Jejak digital adalah rekaman aktivitas seseorang saat menggunakan internet. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari unggahan di media sosial, komentar, riwayat interaksi, akun yang dibuat, situs yang dikunjungi, hingga informasi yang diberikan ketika menggunakan aplikasi atau layanan tertentu. Jejak ini dapat terbentuk secara aktif maupun pasif. Jejak aktif muncul ketika pengguna memang sengaja membagikan sesuatu, misalnya foto, nama, lokasi, atau informasi pekerjaan. Sementara itu, jejak pasif dapat tercipta ketika situs atau aplikasi mengumpulkan informasi, seperti alamat IP, jenis perangkat, lokasi, dan pola aktivitas pengguna.
Menghapus sebuah unggahan tidak selalu berarti seluruh informasi yang berkaitan dengan aktivitas tersebut ikut hilang. Data tersebut mungkin sudah tersimpan di layanan lain atau muncul dalam bentuk tangkapan layar. Informasi itu juga bisa terhubung dengan data lain yang sebelumnya sudah dibagikan.
2. Bagaimana jejak digital bisa mengungkap identitas

ilustrasi media sosial (pexels.com/Pixabay) Jejak digital dapat mengungkap identitas seseorang melalui informasi yang tersebar di berbagai platform. Sebagai contoh, profil publik dapat memuat nama, pekerjaan, pendidikan, hingga kota tempat tinggal. Foto juga dapat memberikan petunjuk melalui metadata, seperti lokasi dan waktu pengambilan gambar, atau detail di latar belakang, seperti nama jalan, landmark, dan seragam kantor atau sekolah. Informasi teknis, seperti alamat IP, jenis browser, dan perangkat yang digunakan juga dapat memberikan gambaran mengenai lokasi serta kebiasaan seseorang saat online.
Jejak digital juga semakin mudah dikaitkan ketika seseorang menggunakan username, alamat email, atau gaya menulis yang sama di beberapa platform. Detail-detail kecil tersebut mungkin terlihat tidak berbahaya jika berdiri sendiri. Namun, saat dikumpulkan, semuanya dapat membentuk pola yang membantu menghubungkan akun anonim dengan identitas asli seseorang.
3. Mengapa hal ini perlu diwaspadai?

ilustrasi nama pengguna dan kata sandi (unsplash.com/Zulfugar Karimov) Ketika tidak dikelola dengan baik, jejak digital dapat menjadi celah pencurian identitas dan phishing. Penjahat siber dapat memanfaatkan informasi terbuka untuk menjawab pertanyaan keamanan. Mereka juga bisa membuat pesan penipuan lebih meyakinkan atau menyamar sebagai korban.
Jejak digital juga dapat diperiksa oleh perusahaan dan kampus sebelum mengambil keputusan. Pemilik properti pun mungkin mempertimbangkan informasi yang tersedia di internet. Unggahan lama atau data yang bocor dapat menimbulkan dampak dalam jangka panjang.
4. Cara mengurangi jejak digital

ilustrasi media sosial (unsplash.com/Austin Distel) Jumlah informasi pribadi yang tersebar di internet bisa dibatasi dengan mulai memperketat pengaturan privasi media sosial dan menonaktifkan fitur berbagi lokasi. Selain itu, gunakan username yang berbeda-beda di berbagai platform, seperti Instagram, email, Facebook, TikTok, LinkedIn, dan sebagainya. Cara ini dapat membuat akun di berbagai platform tidak terlalu mudah dikaitkan.
Kebiasaan lain yang bisa dilakukan adalah menghapus cookies secara berkala, menggunakan mode private browsing, atau menggunakan VPN untuk menjaga privasi alamat IP. Tak kalah penting, periksa jejak digital secara rutin dengan mencari nama, alamat email, atau nomor telepon sendiri di internet untuk mengetahui informasi apa saja yang masih dapat ditemukan secara publik. Jika memungkinkan, hapus informasi untuk meminimalkan jejak digital.
Akhir kata, jejak digital ternyata bisa memberikan banyak informasi tanpa kita sadari. Dengan memahami bagaimana aktivitas sehari-hari di internet dapat membentuk gambaran mengenai identitas seseorang, kamu bisa mengambil langkah sederhana untuk menjaga privasi dan mengurangi risiko penyalahgunaan data.





















