Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Jenis AI Slop yang Beredar di Media Sosial, Apa Saja?

3 min read
5 Jenis AI Slop yang Beredar di Media Sosial, Apa Saja?
ilustrasi AI (pexels.com/@tara-winstead)
  • AI slop adalah konten AI massal berkualitas rendah, termasuk gambar atau video absurd yang repetitif dan dapat memenuhi linimasa, mengurangi ruang bagi karya orisinal.
  • Deepfake tokoh terkenal serta cerita hoaks emosional berisiko menyesatkan pengguna, merusak reputasi, dan mendorong penyebaran informasi palsu sebelum kebenarannya diperiksa.
  • Artikel dangkal, unggahan berulang, dan komentar otomatis berbasis AI mengejar trafik atau interaksi, menyulitkan penyaringan fakta, mengganggu diskusi autentik, serta berpotensi menjadi spam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah kamu melihat video kucing melakukan aksi mustahil, gambar tokoh terkenal yang ternyata palsu, atau adegan tak masuk akal yang terasa janggal? Konten seperti ini bisa termasuk AI slop, istilah untuk konten buatan kecerdasan buatan yang diproduksi secara massal dengan kualitas rendah atau minim nilai tambah.

Fenomena ini semakin mudah ditemukan karena AI generatif mampu menghasilkan gambar, video, dan teks dalam waktu singkat. Konten berkualitas rendah semacam ini dibuat untuk mengejar perhatian tanpa memedulikan orisinalitas dan dampaknya. Berikut lima jenis AI slop yang beredar di media sosial dan dampaknya bagi pengguna internet. 

  1. 1. Gambar dan video absurd buatan AI

    ilustrasi bot AI
    ilustrasi bot AI (pexels.com/@kindelmedia)

    Salah satu jenis AI slop paling mudah dikenali adalah gambar atau video dengan kejadian yang tidak masuk akal. Contohnya, hewan memakai pakaian manusia, manusia memiliki bentuk tubuh tidak wajar, atau bangunan terkenal berubah menjadi sesuatu yang mustahil. Jika muncul sesekali, konten semacam ini bisa menghibur, terutama ketika sengaja dibuat sebagai lelucon. Namun, produksi massal konten serupa dapat memenuhi linimasa dengan materi repetitif dan mengurangi ruang bagi karya yang menawarkan gagasan lebih orisinal. Jika konten seperti ini terlalu banyak, media sosial akan dijejali konten berkualitas rendah.

  2. 2. Deepfake tokoh terkenal

    tulisan deepfake
    tulisan deepfake (pexels.com/@markus-winkler-1430818)

    Deepfake menggunakan AI untuk membuat atau memanipulasi wajah dan suara seseorang agar tampak melakukan atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Konten ini bisa menampilkan selebritas, pejabat publik, maupun tokoh lain dalam situasi yang direkayasa. Dampaknya lebih serius ketika pengguna menganggap konten palsu itu sebagai bukti kejadian nyata. Reputasi seseorang bisa rusak, sementara potongan video atau suara yang menyesatkan berpotensi menyebarkan informasi keliru. Beberapa platform AI saat ini memberikan batasan ketat jika citra yang dimanipulasi adalah tokoh terkenal. 

  3. 3. Cerita hoaks yang memancing emosi

    tulisan fake news
    tulisan fake news (pexels.com/@markus-winkler-1430818)

    Jenis berikutnya berupa video atau gambar yang menyajikan kisah dramatis, seperti hewan menyelamatkan manusia, anak yang mengalami kejadian tragis, atau seseorang yang mendapat pertolongan secara ajaib. Visual dan narasinya sengaja dirancang agar penonton merasa sedih, terharu, atau marah. Konten seperti ini menjadi masalah ketika cerita fiktif disajikan seolah-olah merupakan kejadian nyata. Pengguna media sosial bisa terdorong membagikannya sebelum memeriksa kebenaran informasi. Di sisi lain, pembuat konten berpeluang memperoleh tayangan dan interaksi dari emosi penonton, meskipun kisah yang disampaikan tidak memiliki dasar jelas.

  4. 4. Artikel atau unggahan informatif berkualitas rendah

    ilustrasi menulis artikel
    ilustrasi menulis artikel (unsplash.com/@lukesouthern)

    AI juga bisa menghasilkan artikel, utas di X dan Threads, atau unggahan berisi informasi yang terdengar meyakinkan, tetapi sebenarnya keliru, dangkal, atau berulang. Konten seperti ini kerap dibuat dalam jumlah besar untuk mengejar trafik, bukan memberikan penjelasan akurat dan berguna. Dampaknya, pengguna harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk memilah informasi yang dapat dipercaya. Jika materi keliru terus disalin dan disebarkan, informasi yang salah bisa makin sulit dibedakan dari fakta. Penggunaan AI untuk menulis sebenarnya bukan masalah , selama penulis tetap memeriksa fakta, menambahkan konteks, dan menyunting hasilnya agar memiliki nilai tinggi. Sayangnya, masih banyak kreator yang menyalin teks hasil AI tanpa menyuntingnya sama sekali, sehingga menghasilkan konten yang terasa sama walaupun dibuat oleh kreator berbeda. 

  5. 5. Komentar dan unggahan otomatis untuk mengejar interaksi

    ilustrasi balon komentar
    ilustrasi balon komentar (pexels.com/@cup-of-couple)

    AI slop tidak selalu berupa gambar atau video. Konten ini juga bisa muncul sebagai komentar, unggahan berulang, atau balasan otomatis yang dibuat untuk memancing percakapan dan meningkatkan interaksi sebuah akun. Jika diproduksi dalam jumlah besar, konten jenis ini bisa membuat diskusi tidak autentik dan menenggelamkan tanggapan yang natural. Pada akhirnya, komentar yang dihasilkan oleh AI malah menjadi spam. 

    AI slop merupakan fenomena nyata akibat sebagian pengguna belum mampu memanfaatkan kecerdasan buatan dengan baik. Selain kurang nyaman untuk dilihat, AI slop juga membuat teknologi kecerdasan buatan semakin boros dalam penggunaan sumber daya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More