ilustrasi berangkat kerja, karyawan, komuter, stasiun kereta, transportasi umum (pexels.com/MART PRODUCTION)
Profesor Elena Simperl dari King's College London menilai perubahan akibat AI perlu dihadapi secara aktif, bukan sekadar dibiarkan berlangsung. Salah satu langkah yang disoroti adalah mempersiapkan program pelatihan ulang atau reskilling bagi pekerja. Perusahaan dan pekerja juga perlu mendapatkan pemahaman mengenai kapan AI sebaiknya digunakan dan bagaimana memanfaatkannya secara tepat. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu manusia beradaptasi ketika kebutuhan dunia kerja terus berubah.
Pemerintah juga perlu memikirkan jaring pengaman sosial apabila tren penurunan lapangan kerja terus berlanjut. Frey menilai sistem kesejahteraan dan pendidikan yang sudah ada dapat menjadi dasar untuk menghadapi perubahan tersebut, meski kemungkinan perlu disesuaikan. Jika porsi pendapatan yang berasal dari tenaga kerja menurun, sistem perpajakan juga berpotensi perlu mengalami perubahan. Dengan persiapan yang lebih matang, transisi menuju dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh AI setidaknya bisa dihadapi dengan lebih terarah.
Perkembangan AI memang menawarkan banyak manfaat, tapi perubahan besar dalam dunia kerja juga membawa risiko yang tak bisa diabaikan. Ancaman tersebut bukan hanya berkaitan dengan hilangnya pekerjaan, tetapi juga kemungkinan turunnya pendapatan, sulitnya anak muda mendapatkan pekerjaan pertama, hingga perubahan identitas dan tujuan hidup seseorang.
Menurut Frey, jutaan pekerjaan terancam AI beserta kehilangan pekerjaan secara bersamaan akan menjadi perubahan sosial yang sangat besar serta gak mudah dilalui. Karena itu, kemampuan beradaptasi, pelatihan ulang, pendidikan, serta kebijakan perlindungan pekerja menjadi semakin penting ketika AI terus berkembang.