Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Agentic AI Lebih Berisiko daripada Chatbot Biasa?

3 min read
Kenapa Agentic AI Lebih Berisiko daripada Chatbot Biasa?
ilustrasi ChatGPT (pexels.com/@sanketgraphy)
  • Agentic AI dapat menjalankan tugas dan mengambil tindakan secara mandiri.

  • Risiko meningkat ketika agentic AI terhubung dengan sistem dan tools eksternal.

  • Pembatasan akses dan pengawasan manusia penting untuk menjaga keamanan agentic AI.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Perkembangan akal imitasi (AI) mulai bergerak dari chatbot yang hanya menjawab pertanyaan menjadi sistem yang mampu menjalankan tugas secara mandiri. Teknologi itu dikenal sebagai AI agen (agentic AI). Model ini dirancang untuk mengambil keputusan dan melakukan serangkaian tindakan berdasarkan tujuan yang diberikan.

Kemampuannya menjadikan agentic AI punya fungsi lebih luas dibanding chatbot biasa. Namun, semakin besar akses AI terhadap sistem lain, semakin besar pula risiko yang muncul ketika AI salah memahami perintah atau mengambil tindakan di luar skenario yang diharapkan. Berikut merupakan penjelasan kenapa agentic AI lebih berisiko dibanding chatbot biasa. 

  1. 1. Chatbot berfungsi memberikan jawaban, agentic AI bisa langsung eksekusi

    ChatGPT di smartphone
    ChatGPT di smartphone (pexels.com/@airamdphoto)

    Chatbot konvensional biasanya bekerja dengan cara menerima perintah, memproses data, lalu mengeluarkan jawaban berupa teks. Pada akhirnya, pengguna sendiri yang harus mengambil tindakan setelah mendapatkan informasi dari AI tersebut. Semetara, agentic AI memiliki ruang gerak jauh lebih luas karena dirancang untuk menyelesaikan tujuan melalui beberapa tahapan. AI jenis ini bisa menentukan langkah selanjutnya berdasarkan hasil dari langkah sebelumnya agar interaksi tidak berhenti pada pemberian informasi semata.

  2. 2. Agentic AI berisiko karena dapat terhubung ke sistem eksternal

    ilustrasi teks AI
    ilustrasi teks AI (unsplash.com/@markuswinkler)

    Risiko agentic AI otomatis meningkat ketika diberi akses ke aplikasi, layanan, pangkalan data, dan jaringan eksternal. AI tidak lagi hanya berinteraksi di ruang percakapan secara statis. Mereka bisa langsung mengambil tindakan secara mandiri pada sistem yang terhubung. Mengutip National Institute of Standards and Technology (NIST), lembaga pemerintah Amerika Serikat yang berfokus pada standar dan teknologi, agentic AI dapat menggunakan tools untuk melakukan tindakan selain menghasilkan teks. NIST mencatat bahwa akses read-only memiliki karakteristik risiko berbeda dari akses write yang memungkinkan AI mengubah kondisi pada sistem eksternal.

  3. 3. Jika AI salah memahami konteks, dampaknya bisa lebih panjang

    ilustrasi AI
    ilustrasi AI (magnific.com/iuriimotov)

    Salah satu masalah utama agentic AI ialah caranya mengambil keputusan berdasarkan interpretasi terhadap suatu perintah. Jika sampai salah memahami konteks, tindakan yang diambil AI bisa berbeda jauh dari maksud awal pengembang atau penggunanya. Pada chatbot biasa, jika terjadi kesalahan respons, dampaknya hanya sebatas jawaban yang salah. Namun, bagi agentic AI, kesalahan interpretasi bisa berlanjut menjadi tindakan nyata karena sistem memiliki kemampuan untuk berjalan sendiri secara mandiri.

  4. 4. Semakin luas aksesnya, semakin besar pula dampak kesalahannya

    ilustrasi AI
    ilustrasi AI (unsplash.com/@omilaev)

    Agentic AI dirancang untuk mengakses berbagai tools demi menyelesaikan pekerjaan. Sayangnya, semakin banyak sistem yang terhubung, semakin luas pula ruang bertindak yang dimiliki AI, termasuk potensi untuk membuat kesalahan. Oleh karena itu, pengembangan agentic AI wajib dibatasi aksesnya dan melewati pengujian yang sangat ketat. Insiden Gemini menjadi contoh nyata bahwa sistem AI masih bisa terkecoh dan gagal membedakan lingkungan simulasi dengan sistem nyata saat koneksi eksternal tersedia. Para pengembang agentic AI tampaknya harus belajar dari pengalaman tersebut agar teknologi ini dikembangkan dengan lebih hati-hati. 

  5. 5. Pengamanan ekstra ketat menjadi harga mati bagi agentic AI

    ilustrasi seseorang memegang kertas bertuliskan AI
    ilustrasi seseorang memegang kertas bertuliskan AI (unsplash.com/@hiteshchoudhary)

    Perbedaan paling mencolok antara agentic AI dan chatbot biasa terletak pada konsekuensi dari kesalahan masing-masing. Chatbot biasa yang melakukan kesalahan biasanya hanya memberikan informasi yang keliru, sementara agentic AI dapat membawa kesalahan tersebut ke tahap tindakan krusial jika memiliki akses yang sesuai. Perkembangan pesat agentic AI mendorong isu AI safety menjadi semakin penting, terlebih saat teknologinya mulai digunakan untuk tugas-tugas yang berhubungan langsung dengan sistem yang krusial. Pembatasan izin, pengawasan manusia, dan pemisahan lingkungan pengujian menjadi hal yang sangat penting demi menciptakan AI lebih aman.

    Singkatnya, agentic AI menawarkan kemampuan yang jauh lebih canggih. Itu karena agentic AI dapat menyelesaikan rangkaian tugas secara mandiri. Di sisi lain, justru kemampuan bertindak inilah yang membuat dampak kesalahannya jauh lebih besar dibandingkan chatbot yang hanya memberikan respons.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More