ilustrasi China atau Tiongkok (pexels.com/Abderrahmane Habibi)
China sebenarnya sudah membangun sejumlah aturan untuk mengawasi perkembangan AI. Negara tersebut telah memiliki sistem pendaftaran algoritma sejak 2022 dan mulai mengarahkan perhatian pada bagaimana AI bertindak, bukan hanya pada apa yang dikatakannya. Tahun ini, Beijing juga mengeluarkan aturan nasional yang berkaitan dengan upaya membatasi ketergantungan emosional terhadap AI pendamping.
Leia Wang dari Carnegie Endowment for International Peace menilai regulasi China memiliki sifat iteratif karena pemerintah dapat dengan cepat menyesuaikan aturan ketika teknologi baru muncul. Namun, ia juga mencatat bahwa perusahaan China melakukan pemantauan dan evaluasi sukarela lebih sedikit dibandingkan perusahaan AS. Artinya, China memiliki mekanisme regulasi yang aktif, tapi pendekatan tersebut tetap memiliki tantangan ketika berhadapan dengan risiko AI yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pada akhirnya, penolakan China terhadap seruan untuk memperlambat pengembangan AI gak bisa dipahami sebagai sikap bahwa semua risiko AI dianggap sepele. Beijing justru terlihat berusaha mencari keseimbangan antara keselamatan, kendali negara, dan kebutuhan untuk tetap mengembangkan teknologi. AI sudah diposisikan sebagai bagian penting dari strategi ekonomi dan kemampuan strategis China, sehingga memperlambatnya dapat dianggap berisiko bagi posisi negara tersebut dalam persaingan teknologi global.
Bagi kamu yang mengikuti perkembangan AI, perbedaan pendekatan China dan AS ini menunjukkan bahwa perdebatan soal masa depan AI bukan hanya tentang seberapa cepat teknologinya berkembang, tapi juga tentang siapa yang menentukan batas dan aturan perkembangannya.