Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Konten AI Makin Sulit Dibedakan, Ini 5 Tips TikTok agar Lebih Aman
campaign #Pikir2Kali dari TikTok (IDN Times/Fatkhur Rozi)
  • Konten AI semakin realistis, sehingga kreator perlu mempertahankan kreativitas manusia dan bertanggung jawab atas hasil yang dibuat.

  • Transparansi melalui label AI membantu audiens memahami proses pembuatan konten dan menjaga kepercayaan di media sosial.

  • TikTok mendorong pengguna memeriksa konten, memilih fitur sesuai kebutuhan, serta meningkatkan literasi AI secara berkelanjutan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
dua tahun lalu

TikTok menyebut telah menerapkan standar Kredensial Konten C2PA untuk mendukung transparansi konten digital.

November 2025

TikTok meluncurkan program literasi AI yang membantu berbagai organisasi mitra memperoleh lebih dari 200 juta penayangan melalui konten edukasi.

Hingga saat ini

TikTok mengklaim telah memberikan label pada lebih dari 3 miliar video buatan AI di seluruh dunia melalui sejumlah teknologi dan alat pelabelan.

kini

Siapa pun dapat menghasilkan gambar maupun video yang terlihat realistis dalam hitungan detik, sementara pengguna menghadapi konten AI yang semakin sulit dibedakan dari materi asli.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    TikTok membagikan lima tips agar pengguna memanfaatkan AI dalam pembuatan konten secara lebih bijak dan bertanggung jawab.
  • Who?
    TikTok, kreator, pengguna media sosial, Alfons Tanujaya, Theresa, Evelyn Hutani, dan Tommy Teja terlibat dalam pembahasan penggunaan AI.
  • Where?
    Penggunaan dan pengelolaan konten AI dibahas dalam ekosistem media sosial TikTok.
  • When?
    Program literasi AI TikTok diluncurkan pada November 2025, sementara standar Kredensial Konten C2PA telah diterapkan sejak dua tahun lalu.
  • Why?
    Konten buatan AI semakin sulit dibedakan dari materi asli, sehingga pengguna perlu memahami konteks, memeriksa informasi, dan menjaga transparansi.
  • How?
    TikTok mendorong penggunaan AI sebagai asisten, pelabelan konten, pemilihan fitur sesuai kebutuhan, penerapan prinsip 3C, dan peningkatan literasi AI.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Konten AI sekarang bisa terlihat seperti dibuat manusia dalam waktu sangat cepat. Kreator TikTok boleh memakai AI untuk mencari ide dan mengedit video, tetapi tetap harus memeriksa hasilnya. TikTok memberi lima tips, seperti memakai label AI, mengecek informasi, dan belajar mengenali konten yang dibuat AI agar orang tidak mudah tertipu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

AI dapat membantu kreator mencari ide, mengembangkan konsep, dan mempercepat penyuntingan video tanpa harus menggantikan kreativitas manusia. Dukungan label, fitur pengelolaan konten, serta program literasi yang dikembangkan TikTok juga memberi ruang bagi pengguna untuk memahami proses pembuatan konten dan menggunakannya secara lebih bertanggung jawab.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat proses pembuatan konten digital semakin mudah dilakukan. Kini, siapa pun dapat menghasilkan gambar maupun video yang terlihat realistis hanya dalam hitungan detik, sesuatu yang sebelumnya membutuhkan proses produksi cukup panjang. Namun, kemampuan tersebut juga menghadirkan tantangan baru karena konten buatan AI semakin sulit dibedakan dari materi asli.

Kondisi ini menjadi perhatian bagi pengguna media sosial, termasuk kreator TikTok yang mulai memanfaatkan AI dalam berbagai tahapan produksi konten. Teknologi tersebut dapat membantu mencari ide, mengembangkan konsep, hingga mempercepat proses penyuntingan video. Meski menawarkan banyak kemudahan, penggunaan AI tetap membutuhkan tanggung jawab agar konten yang dihasilkan tidak menyesatkan atau menghilangkan unsur kreativitas manusia.

Untuk membantu pengguna menghadapi perkembangan tersebut, TikTok membagikan lima tips menggunakan AI secara lebih bijak dan bertanggung jawab. Panduan ini mencakup pemanfaatan AI sebagai asisten kreatif, transparansi penggunaan teknologi, pemilihan fitur yang sesuai, hingga cara mengenali konten yang mencurigakan. TikTok juga mengungkap sejumlah teknologi pelabelan dan program literasi digital yang dikembangkan untuk membantu pengguna memahami konten buatan AI.

1. AI sebaiknya menjadi asisten, bukan menggantikan kreativitas manusia

ilustrasi logo TikTok di smartphone (pixabay.com/Antonbe)

AI generatif menawarkan berbagai kemudahan bagi kreator, terutama ketika mencari inspirasi atau mengembangkan konsep konten. Teknologi ini mampu mengolah informasi dan menghasilkan berbagai ide berdasarkan pola dari data yang tersedia. Namun, kreativitas manusia tetap dibutuhkan untuk memberikan konteks, pengalaman, serta sudut pandang yang membuat sebuah karya memiliki karakter tersendiri.

Pengamat Teknologi Informasi dan Ahli Keamanan Siber, Alfons Tanujaya, menilai perkembangan AI generatif berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan masyarakat untuk mengenali hasilnya. Kondisi tersebut membuat tanggung jawab pengguna menjadi semakin penting, terutama ketika teknologi dapat menghasilkan konten yang hampir tidak dapat dibedakan dari materi asli.

"Kecepatan perkembangan AI generatif jauh melampaui kecepatan masyarakat beradaptasi mengenalinya. Dulu, membuat sebuah video kreatif butuh waktu yang cukup lama, tapi sekarang, siapa pun bisa menghasilkan gambar atau video yang nyaris tidak terbedakan dari aslinya hanya dalam hitungan detik. Di titik inilah tanggung jawab pengguna dan transparansi dari platform menjadi lini pertahanan utama, bukan lagi pilihan tambahan," ujar Alfons.

Menurut Alfons, keterlibatan manusia tetap menjadi bagian penting dalam proses pembuatan konten menggunakan AI. Teknologi dapat membantu mengolah informasi, tetapi manusia memiliki kemampuan untuk memahami konteks dan memberikan perspektif yang lebih luas. Karena itu, kreator sebaiknya tidak menyerahkan seluruh proses kreatif kepada AI maupun menggunakan teknologi tersebut untuk sekadar meniru karya orang lain.

"Di balik setiap informasi atau konten yang dihasilkan dengan bantuan AI, tetap dibutuhkan campur tangan manusia. Nilai tambah yang sesungguhnya lahir ketika kita memberikan perspektif, empati, serta keahlian analitis untuk mengubah data mentah dari AI menjadi solusi yang bermakna dan berdampak positif bagi publik," tambah Alfons.

2. Transparansi penggunaan AI penting untuk menjaga kepercayaan audiens

Kemampuan AI menghasilkan konten realistis membuat transparansi semakin penting dalam ekosistem media sosial. Pengguna perlu memahami apakah gambar atau video yang mereka lihat merupakan hasil rekaman asli atau telah dibuat maupun dimodifikasi menggunakan AI. Informasi tersebut dapat membantu audiens menilai konteks konten sebelum mempercayai atau membagikannya kepada orang lain.

Kreator TikTok Theresa (@theresalearns) menekankan bahwa AI dapat menjadi alat pendukung kreativitas selama digunakan secara bertanggung jawab. Salah satu langkah yang dapat dilakukan kreator adalah memberikan keterangan ketika menggunakan AI dalam proses pembuatan konten. TikTok menyediakan fitur Label AI yang dapat diaktifkan sebelum video diunggah untuk memberikan informasi kepada penonton mengenai penggunaan teknologi tersebut.

TikTok juga mengembangkan sejumlah teknologi untuk membantu mengenali konten yang dibuat atau diedit secara signifikan menggunakan AI. Platform ini menyebut telah menerapkan standar Kredensial Konten C2PA sejak dua tahun lalu untuk mendukung transparansi konten digital. Hingga saat ini, TikTok mengklaim telah memberikan label pada lebih dari 3 miliar video buatan AI di seluruh dunia melalui kombinasi Content Credentials, Creator Labeling Tools, dan Invisible Watermarking.

Penggunaan label menjadi salah satu cara untuk menjaga kepercayaan antara kreator dan audiens. Kreator tetap dapat memanfaatkan AI untuk mempercepat proses produksi, tetapi hasil akhirnya perlu diperiksa agar sesuai dengan konteks dan kebutuhan penonton. Transparansi juga membantu pengguna memahami bagaimana sebuah konten dibuat tanpa harus menebak hanya berdasarkan tampilan visualnya.

3. Pilih fitur AI sesuai kebutuhan pembuatan konten

Tidak semua perangkat berbasis AI memiliki fungsi yang sama dalam proses produksi konten. Sebagian teknologi dirancang untuk membantu mencari ide, sementara yang lain berfokus pada penyuntingan gambar atau video. Karena itu, TikTok menyarankan kreator memilih alat AI berdasarkan kebutuhan agar hasilnya lebih optimal dan tidak bergantung pada satu teknologi untuk seluruh pekerjaan.

Salah satu fitur yang disediakan TikTok adalah Kerangka AI atau AI Outline. Fitur ini dapat membantu kreator mengembangkan ide awal menjadi kerangka konten yang lebih terstruktur, termasuk menyusun judul, hashtag, hingga hook untuk menarik perhatian penonton. Kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan ketika kreator ingin merancang konsep video sebelum masuk ke tahap produksi.

Selain AI Outline, TikTok juga memiliki fitur Pemotongan Cerdas atau Smart Split yang tersedia melalui TikTok Studio. Fitur ini memungkinkan pengguna mengubah video berdurasi panjang menjadi beberapa klip pendek secara otomatis. Kemampuan tersebut dapat membantu kreator mengolah materi yang sudah tersedia menjadi beberapa konten dengan durasi lebih singkat.

Meski kedua fitur tersebut dapat mempercepat pekerjaan, kreator tetap perlu melakukan evaluasi terhadap hasil akhirnya. Pemilihan alat yang tepat memang membantu meningkatkan efisiensi, tetapi kualitas konten masih bergantung pada keputusan pembuatnya. Kreator juga perlu memastikan bahwa hasil penyuntingan tidak menghilangkan konteks atau mengubah pesan utama yang ingin disampaikan.

4. Terapkan prinsip 3C sebelum mempercayai konten buatan AI

campaign #Pikir2Kali dari TikTok (IDN Times/Fatkhur Rozi)

Kemampuan AI menghasilkan gambar dan video realistis membuat pengguna perlu lebih berhati-hati ketika menemukan konten yang menarik perhatian. Tampilan visual yang meyakinkan belum tentu menunjukkan bahwa informasi di dalamnya benar atau sesuai dengan kejadian sebenarnya. Karena itu, TikTok mengajak pengguna membiasakan diri memeriksa konten sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.

Kreator TikTok Evelyn Hutani (@hutanhutani) memperkenalkan prinsip 3C yang terdiri dari Cek, Cegah, dan Cegat. Prinsip pertama, Cek, mengajak pengguna mengenali apakah konten dibuat atau dimodifikasi menggunakan AI, memahami konteksnya, serta memeriksa sumber informasi tepercaya apabila diperlukan. Langkah ini penting karena konten AI dapat terlihat sangat realistis meskipun tidak menggambarkan kejadian yang sebenarnya.

Prinsip kedua adalah Cegah, yaitu tidak terburu-buru mempercayai atau membagikan konten yang masih meragukan. Sementara itu, prinsip Cegat mengajak pengguna memanfaatkan fitur pelaporan apabila menemukan konten yang dinilai melanggar aturan platform. Ketiga langkah tersebut menjadi bagian dari kampanye literasi AI TikTok bertajuk #PikirDuaKali.

Selain mendorong pengguna lebih kritis, TikTok juga menyediakan pengaturan untuk menyesuaikan jumlah konten buatan AI yang muncul pada halaman Saran. Kreator Evelyn Hutani dan Tommy Teja (@tommythings) menjelaskan bahwa pengguna dapat membuka menu Pengaturan dan Privasi, kemudian memilih Preferensi Konten, Kelola Topik, dan Konten Buatan AI. Melalui pengaturan tersebut, pengguna dapat menentukan seberapa banyak konten berbasis AI yang ingin mereka temukan ketika menggunakan TikTok.

5. Literasi AI perlu terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi

ilustrasi logo TikTok di HP (unsplash.com/@e33hu)

Perkembangan AI generatif yang berlangsung cepat membuat kemampuan literasi digital perlu terus diperbarui. Teknologi yang sebelumnya membutuhkan keterampilan khusus kini semakin mudah digunakan oleh masyarakat umum, termasuk untuk menghasilkan gambar dan video realistis. Kondisi tersebut membuat pemahaman mengenai risiko, batasan, dan penggunaan AI secara bertanggung jawab menjadi semakin relevan.

Untuk mendukung edukasi pengguna, TikTok bekerja sama dengan sejumlah mitra industri dan pakar, termasuk National Association for Media Literacy Education (NAMLE) dan Henry Ajder. Kolaborasi tersebut ditujukan untuk mengembangkan panduan yang membantu komunitas TikTok menggunakan teknologi AI secara bertanggung jawab. Perusahaan juga mendukung organisasi seperti NoFiltr dan Raspberry Pi Foundation dalam menghadirkan konten edukasi mengenai literasi AI.

TikTok mengungkap bahwa program literasi AI yang diluncurkan pada November 2025 telah membantu berbagai organisasi mitra memperoleh lebih dari 200 juta penayangan melalui konten edukasi. Pengguna juga dapat menemukan informasi tambahan mengenai pengelolaan konten AI melalui halaman khusus yang tersedia di platform.

Untuk mengakses panduan tersebut, pengguna cukup mengetik kata AI pada kolom pencarian TikTok. Halaman informasi yang tersedia memuat penjelasan mengenai konten buatan AI, fitur platform, serta penggunaan teknologi secara bertanggung jawab. Melalui berbagai inisiatif tersebut, TikTok ingin mendorong pengguna agar tidak hanya memanfaatkan AI untuk membuat konten, tetapi juga memahami bagaimana teknologi tersebut memengaruhi pengalaman mereka di media sosial.

Pada akhirnya, penggunaan AI dalam pembuatan konten tidak hanya berkaitan dengan seberapa cepat sebuah karya dapat dihasilkan. Kreator tetap memiliki tanggung jawab untuk memastikan informasi yang disampaikan akurat, memiliki konteks yang jelas, serta tidak menyesatkan audiens. Transparansi, kebiasaan memeriksa informasi, dan peningkatan literasi digital menjadi bagian penting agar AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu kreativitas tanpa mengabaikan kepercayaan pengguna.

Curated For You

Editorial Team

Related Article