ilustrasi listrik, lampu, energi (magnific.com/jplenio1)
Meningkatnya kebutuhan energi gak selalu bisa langsung diimbangi dengan penambahan pasokan. Pembangunan pembangkit listrik dan jaringan transmisi membutuhkan waktu, perencanaan, pendanaan, serta proses perizinan. Jika pusat data tumbuh lebih cepat daripada kesiapan infrastruktur, penyedia listrik bisa menghadapi kesulitan memenuhi permintaan pada waktu tertentu. Situasi ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap harga energi sekaligus keandalan jaringan listrik.
North American Electric Reliability Corporation (NERC) dalam laporan tahunannya memperingatkan bahwa fasilitas untuk perusahaan AI dan mata uang kripto berkembang lebih cepat daripada pembangunan pembangkit dan jalur transmisi yang mendukungnya. Ketimpangan tersebut dapat menurunkan stabilitas sistem kelistrikan. Sementara itu, operator jaringan listrik PJM dalam laporan proyeksi jangka panjang yang diterbitkan pada Januari 2025 memperkirakan permintaan listrik akan meningkat tajam hingga 2030, terutama akibat pertumbuhan pusat data. Lonjakan permintaan tersebut juga menimbulkan kekhawatiran mengenai kemampuan pasokan listrik untuk memenuhi kebutuhan di masa mendatang. Kedua hal ini menunjukkan bahwa persoalan AI gak hanya berkaitan dengan besarnya konsumsi listrik, tapi juga dengan kesiapan infrastruktur untuk melayaninya.
Meski begitu, kenaikan tarif listrik bukan disebabkan oleh AI semata. Harga gas alam, inflasi, peningkatan penggunaan kendaraan listrik, dan elektrifikasi bangunan turut memengaruhi biaya energi. Pertumbuhan pusat data menjadi faktor tambahan yang dapat memperbesar tekanan tersebut, terutama di wilayah dengan konsentrasi fasilitas komputasi tinggi. Karena itu, dampaknya terhadap tagihan listrik bisa berbeda-beda, tergantung pada kondisi pasokan energi dan kebijakan tarif di setiap wilayah.
Selain membawa banyak kemudahan, ledakan AI bikin tagihan listrik naik dalam skala besar. Pembangunan pusat data, proses komputasi yang intensif, sistem pendingin, investasi infrastruktur, dan keterbatasan pasokan menjadi lima faktor yang dapat mendorong kenaikan biaya energi.
Di Amerika Serikat, tekanan tersebut sudah masuk dalam pembahasan tarif listrik dan perencanaan kapasitas jaringan. Namun, besarnya dampak terhadap rumah tangga tetap bergantung pada kondisi energi dan kebijakan masing-masing wilayah. Bagi Indonesia, perkembangan ini juga layak diperhatikan karena pertumbuhan layanan AI dan pusat data perlu diimbangi dengan perencanaan energi yang memadai agar manfaat teknologi bisa dinikmati tanpa mengabaikan keterjangkauan listrik.