Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
PUBG-Shopee Sudah Melakukan Asesmen Mandiri ke Komdigi, Ini Daftarnya
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid (IDN Times/Misrohatun)
  • Komdigi mencatat 175 produk, layanan, dan fitur digital dari 64 PSE telah menyerahkan hasil asesmen mandiri PP TUNAS untuk perlindungan anak, termasuk Netflix, PUBG, dan Shopee.
  • Asesmen mandiri dilakukan untuk menilai risiko terhadap pengguna anak di bawah 16 tahun, mencakup paparan konten berbahaya, sistem verifikasi usia, moderasi konten, serta fitur kontrol orang tua.
  • Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan hasil evaluasi akan menentukan kategori risiko tiap platform dan mengingatkan yang belum melapor agar segera memenuhi kewajiban agar tidak dikategorikan berisiko tinggi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi) mencatat sebanyak 175 Produk, Layanan, dan Fitur (PLF) dari platform digital sudah melakukan self-assessment atau penilaian mandiri PP TUNAS untuk perlindungan terhadap anak.

Beberapa di antaranya seperti Netflix, gim PlayerUnknown's Battlegrounds (PUBG) hingga e-commerce Shopee. Sebelumnya sudah ada delapan platform yang masuk dalam putaran pertama yang dikategorikan berisiko tinggi.

175 yang mendaftar

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyatakan hingga 9 Juni 2026, sudah ada 175 PLF yang dinaungi oleh 64 Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) telah menyerahkan hasil penilaian mandiri kepada Komdigi untuk dievaluasi lebih lanjut.

Sejumlah platform yang telah melaporkan self-assessment diantaranya platform OTT (Over-The-Top) atau layanan streaming:

  • Netflix.

  • Vidio.

  • HBO Max.

  • Disney.

Kategori gim yang telah menyerahkan hasil penilaian mandiri untuk PP TUNAS:

  • Roblox.

  • PUBG Online.

  • Crossfire.

  • Age of Empire Mobile.

  • Valorant.

  • Free Fire.

  • Mobile Legends.

Untuk kategori e-commerce yang sudah melaporkan self-assessment:

  • Shopee.

  • Tokopedia.

  • Lazada.

  • TikTok Shop.

Pada kategori payment system:

  • Dana.

  • Gopay.

  • Flip.id.

Kategori lainnya:

  • ChatGPT.

  • Grab.

Komdigi akan melakukan evaluasi

ilustrasi PUBG Mobile (pexels.com/I'm Zion)

Asesmen mandiri bagi penyelenggara platform digital merupakan bagian dari kewajiban kepatuhan terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS) yang diterapkan secara penuh pada akhir Maret lalu.

Proses pelaporan penilaian mandiri dikatakan sebagai bentuk kepatuhan terhadap PP TUNAS yang dilakukan penyelenggara platform digital dengan cara melakukan penilaian internal terhadap produk, fitur dan layanan atau platform mereka masing-masing. Kemudian dilaporkan hasilnya langsung kepada Komdigi.

Ada beberapa aspek yang wajib dievaluasi, meliputi identifikasi tingkat risiko platform terhadap pengguna anak di bawah usia 16 tahun, potensi paparan konten berbahaya (kekerasan, pornografi, perundungan), kesiapan dan akurasi sistem verifikasi usia serta mekanisme moderasi konten dan ketersediaan fitur kontrol orang tua (parental control).

Setelah seluruh dokumen self-assessment diterima, Komdigi akan melakukan verifikasi dan penilaian berdasarkan antrean laporan yang masuk.

Peringatan Komdigi untuk platform lain

Menkomdigi Meutya mengatakan hasil evaluasi tersebut nantinya menjadi dasar dalam menentukan kategori risiko platform dan kesesuaiannya bagi kelompok usia tertentu.

“Karena menggunakan pendekatan berbasis risiko, setiap risiko harus ditelaah satu per satu, prosesnya memang memerlukan waktu. Kita mengukur setiap risiko. Di antaranya risiko terkait konten, risiko kontak dengan orang yang tidak dikenal, risiko kecanduan, risiko kesehatan, dan berbagai risiko lainnya,” lanjutnya.

Indonesia memilih mekanisme yang tidak hanya berfokus pada perlindungan anak, tetapi juga mendorong platform melakukan perbaikan fitur dan tata kelola agar semakin aman bagi pengguna anak.

“Pendekatan ini berbeda dengan sejumlah negara yang menerapkan pembatasan secara menyeluruh terhadap akses anak ke media sosial, platform juga harus mau berubah menjadi lebih baik. Karena itu kami mengukur perubahan-perubahan yang mereka lakukan, termasuk fitur-fitur yang dibuat agar lebih aman bagi anak-anak,” ucap Meutya.

Dia mengingatkan kepada platform yang belum menyampaikan self-assessment agar segera memenuhi kewajibannya sehingga tidak otomaIs dikategorikan sebagai platform risiko tinggi.

Editorial Team

Related Article