Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi robot kecerdasan buatan (unsplash/alex knight)
ilustrasi robot kecerdasan buatan (unsplash/alex knight)

Intinya sih...

  • Generasi Z dan millenial menunjukkan minat tinggi pada penggunaan AI selama liburan, dengan 74% berencana untuk menggunakannya.

  • Lebih dari separuh responden berencana menggunakan AI untuk mencari resep, restoran, akomodasi, ide hadiah, dekorasi Natal, dan cara menghabiskan waktu luang.

  • 29% pengguna AI mempertimbangkan untuk berbicara dengannya ketika merasa tidak bahagia, dengan persentase lebih tinggi (31%) di Indonesia.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Penelitian terbaru dari Kaspersky telah mengungkap pergeseran signifikan dalam penggunaan akal imitasi (artificial intellignce/AI) selama musim liburan. Jauh dari sekadar asisten belanja atau perencanaan yang andal, kecerdasan buatan telah muncul sebagai pendamping digital multifaset yang mampu memberikan dukungan emosional–sebuah fenomena yang sangat menonjol di kalangan Generasi Z dan millenial.

Popularitas AI pada musim liburan 2025/2026 cukup tinggi, dengan 74 persen peserta survei menunjukkan bahwa mereka berencana untuk memasukkan AI ke dalam aktivitas liburan mereka. Generasi muda menunjukkan antusiasme terkuat terhadap penggunaan AI, dengan 86 persen responden berusia 18-34 tahun menyatakan niat untuk menggunakannya selama masa liburan.

Pemanfaatan AI oleh responden

Menurut survei, lebih dari separuh pengguna AI berencana menggunakan alat tersebut selama liburan untuk mencari resep (56 persen) atau restoran dan akomodasi (54 persen), menggarisbawahi penggunaan AI secara berkelanjutan dalam menyederhanakan proses riset dan mengurangi waktu terkait pencarian.

Namun, AI sebagai penghasil ide juga mendapat respons yang bagus dari audiens. Survei tersebut mengungkapkan bahwa 50 persen pengguna mencari bantuan AI untuk bertukar pikiran tentang ide hadiah, cara merayakan, atau kiat-kiat dekorasi Natal dan Tahun Baru. Jumlah responden yang sama berencana untuk mempercayai AI untuk menghasilkan ide tentang cara menghabiskan waktu luang mereka.

Selama liburan, separuh responden menganggap AI sebagai asisten belanja, yang dapat membantu mereka membuat daftar belanja, menemukan penawaran terbaik, atau menganalisis ulasan. Generasi muda menunjukkan minat yang tinggi pada AI sebagai perencana anggaran (50 persen).

Sementara orang yang lebih tua (55+) kurang antusias menggunakannya mengelola pengeluaran mereka (31 persen), lebih memilih untuk mencari resep (59 persen) dan menghasilkan ide hadiah (41 persen).

DIgunakan untuk bantuan emosional

ilustrasi kecerdasan buatan (unsplash.com/@cgower)

Selain kemampuannya untuk mengatasi berbagai tantangan dan menghasilkan ide-ide baru, AI mengambil peran baru yakni berfungsi sebagai pendamping virtual yang mampu menawarkan bantuan emosional. Secara global, 29 persen dari mereka yang menggunakan AI selama liburan mempertimbangkan untuk berbicara dengannya ketika mereka merasa tidak bahagia, dengan pengguna di Indonesia memiliki persentase lebih tinggi (31 persen) untuk hal ini.

Generasi Z dan millenial menunjukkan minat terbesar pada dukungan berbasis AI di antara semua usia, dengan 35 persen responden memilih opsi tersebut. Sedangkan generasi yang lebih tua menunjukkan minat yang sangat terbatas pada bidang AI ini–hanya 19 persen responden berusia 55 tahun ke atas yang mempertimbangkan untuk berbicara dengan AI ketika mereka kesal.

Studi ini dilakukan oleh Kaspersky’s market research center pada November 2025. Terdapat 3000 responden dari 15 negara (Argentina, Chili, Cina, Jerman, India, Indonesia, Italia, Malaysia, Meksiko, Arab Saudi, Afrika Selatan, Spanyol, Turki, Inggris, Uni Emirat Arab) ikut serta dalam survei tersebut.

Meskipun komunikasi dengan layanan AI mungkin tampak personal dan pribadi, penting untuk diingat bahwa sebagian besar chatbot dimiliki oleh perusahaan komersial dengan kebijakan pengumpulan dan pemrosesan data mereka sendiri. Para ahli Kaspersky memperingatkan bahwa terlalu banyak mengandalkan AI dapat mengancam keamanan data.

Editorial Team