Kenapa Xiaomi Batal Rilis HP Tipis ala iPhone Air?

- Xiaomi membatalkan proyek smartphone ultra tipis mirip iPhone Air karena terlalu banyak kompromi pada baterai, sistem pendingin, dan performa yang menurunkan pengalaman penggunaan.
- Lu Weibing menjelaskan bahwa desain super tipis membuat kapasitas baterai dan stabilitas performa sulit dijaga, sehingga produk dianggap belum memenuhi standar flagship Xiaomi.
- Sebagai gantinya, Xiaomi fokus ke seri Max dengan peningkatan kamera, performa, dan baterai besar seperti pada Xiaomi 17 Max yang dirilis Mei 2026.
Detik-detik terakhir menjelang peluncuran, Xiaomi justru mengambil keputusan mengejutkan. Perusahaan itu memilih membatalkan proyek smartphone ultra tipis yang disebut-sebut memiliki konsep mirip iPhone Air. Keputusan tersebut diambil karena Xiaomi merasa terlalu banyak kompromi yang harus dilakukan demi menghadirkan desain super tipis.
Presiden Xiaomi, Lu Weibing, mengungkap bahwa proyek tersebut sebenarnya sudah melewati tahap riset dan pengembangan yang cukup serius. Bahkan, perangkat itu disebut hampir masuk tahap produksi massal sebelum akhirnya dibatalkan. Xiaomi menilai pengalaman penggunaan yang dihasilkan belum sesuai standar yang mereka inginkan, terutama dari sisi baterai dan performa. Berikut alasan mengapa Xiaomi akhirnya membatalkan rencana merilis HP tipis ala iPhone Air versi mereka.
1. Xiaomi sudah hampir produksi massal

Mengutip Gizmochina (17/5/2026), Lu Weibing menjelaskan dalam siaran langsungnya bahwa Xiaomi sebenarnya sudah melakukan berbagai persiapan untuk perangkat ultra tipis tersebut. Tim internal disebut telah menyelesaikan perencanaan produk, penelitian awal, hingga tahap mendekati produksi massal. Hal ini menunjukkan bahwa proyek tersebut benar-benar hampir diluncurkan ke pasar.
Namun, semakin tipis bodi smartphone, semakin sulit pula perusahaan menempatkan berbagai komponen penting di dalamnya. Xiaomi menemukan adanya keterbatasan ruang untuk baterai, sistem pendingin, hingga komponen performa tinggi. Kondisi itu membuat perusahaan teknologi satu ini harus melakukan banyak kompromi pada spesifikasi inti perangkat. Pada akhirnya, Xiaomi merasa hasil akhirnya belum mampu memberikan pengalaman penggunaan yang ideal.
2. Baterai dan performa jadi masalah utama

Menurut Lu Weibing, masalah terbesar dari desain ultra tipis terletak pada daya tahan baterai dan performa perangkat. Ketika ukuran bodi dipangkas terlalu ekstrem, kapasitas baterai otomatis ikut berkurang karena keterbatasan ruang di dalam smartphone. Selain itu, sistem pendingin juga menjadi lebih sulit dirancang secara optimal untuk menjaga suhu perangkat tetap stabil.
Hal tersebut dapat berdampak langsung pada kenyamanan penggunaan sehari-hari, terutama saat menjalankan aplikasi berat atau bermain game dalam waktu lama. Xiaomi menilai pengguna flagship tetap membutuhkan performa stabil dan daya tahan baterai panjang dibanding sekadar desain tipis yang menarik secara visual. Perusahaan tidak ingin merilis produk yang terlihat modern tetapi mengorbankan pengalaman penggunaan nyata. Karena alasan itu, proyek HP tipis ala iPhone Air akhirnya dibatalkan sebelum resmi dipasarkan.
3. Xiaomi banting setir dan fokus ke seri Max

Alih-alih melanjutkan proyek smartphone ultra tipis, Xiaomi kini lebih fokus mengembangkan lini perangkat “Max”. Lu Weibing menjelaskan bahwa seri Max berbeda dari seri Plus yang biasanya hanya menawarkan ukuran layar lebih besar dibanding model standar. Seri Max dirancang untuk menghadirkan peningkatan di berbagai aspek penting secara menyeluruh.
Peningkatan tersebut mencakup sektor kamera, performa, kapasitas baterai, hingga pengalaman penggunaan flagship secara keseluruhan. Karena itu, Xiaomi merasa nama Max lebih tepat disematkan daripada Plus untuk menggambarkan posisi produk tersebut di pasaran. Strategi ini sekaligus menunjukkan arah baru Xiaomi yang lebih mengutamakan kemampuan perangkat dibanding sekadar desain tipis. Perusahaan tampaknya ingin menghadirkan smartphone yang lebih kuat untuk penggunaan jangka panjang.
4. Xiaomi 17 Max segera dirilis bulan ini

Keputusan Xiaomi meninggalkan proyek HP ultra tipis terlihat jelas lewat kehadiran Xiaomi 17 Max yang segera dirilis Mei 2026 ini. Smartphone tersebut disebut membawa kamera Leica 200 MP pertama milik Xiaomi lengkap dengan lensa telefoto periskop 3x. Kehadiran spesifikasi itu memperlihatkan bahwa Xiaomi kini lebih fokus pada peningkatan kemampuan kamera dan pengalaman fotografi pengguna.
Selain sektor kamera, Xiaomi 17 Max juga dibekali baterai Jinshajiang berkapasitas 8000mAh yang diklaim memiliki daya tahan paling kuat di seri smartphone Xiaomi saat ini. Kapasitas baterai besar tersebut menjadi kebalikan dari tren smartphone ultra tipis yang biasanya memiliki keterbatasan daya tahan. Xiaomi tampaknya ingin menegaskan bahwa baterai besar dan performa stabil masih menjadi prioritas utama perusahaan.
Pernyataan Lu Weibing muncul di tengah tren industri smartphone yang mulai kembali menghadirkan perangkat tipis dan ringan. Banyak perusahaan mencoba menarik perhatian pasar lewat desain ramping yang terlihat futuristis dan premium. Namun, Xiaomi tampaknya melihat bahwa mayoritas pengguna masih lebih memprioritaskan fungsi dibanding sekadar tampilan fisik perangkat.
Menurut Xiaomi, daya tahan baterai panjang dan performa stabil tetap menjadi faktor penting dalam penggunaan harian. Pengguna flagship saat ini juga cenderung menginginkan kamera berkualitas tinggi dan hardware yang mampu digunakan dalam jangka panjang. Karena itu, Xiaomi memilih fokus pada perangkat dengan spesifikasi lebih lengkap dibanding mengejar desain setipis mungkin.















![[QUIZ] Dari Selera Humor Kamu, Ini HP yang Cocok untuk Kamu](https://image.idntimes.com/post/20240129/daniel-romero-br-r3fju-vk-unsplash-440e9f377cf52c337391cfc586f95cbf.jpg)


