ilustrasi seorang perempuan sedang memegang smartphone (pexels.com/cottonbro studio)
Popularitas Carrier Pidge dan Roost muncul di tengah perhatian terhadap cara berkomunikasi yang lebih lambat. Logan Mendelsohn, pengembang Roost, mengatakan aplikasinya dibuat dengan pendekatan slow tech untuk memberi kesempatan kepada pengguna menjauh sejenak dari komunikasi serba instan di smartphone. "Kami berfokus pada gerakan teknologi lambat, yang memungkinkan orang untuk melepaskan diri dari sifat instan ponsel pintar," ujar Mendelsohn, seperti dikutip The Asia Business Daily, Selasa (22/9/2026).
Profesor Georgetown University Carl Newport menjelaskan, arus informasi yang terlalu cepat dapat membuat seseorang kesulitan memusatkan perhatian pada satu hal. Menurutnya, aplikasi seperti Carrier Pidge dan Roost dapat mendorong pengguna berpikir lebih dulu sebelum mengirim pesan dan memberi perhatian lebih pada isi komunikasi. Carrier Pidge dan Roost menawarkan cara berbeda dalam berkirim pesan. Alih-alih membuat pesan sampai dalam hitungan detik, kedua aplikasi tersebut menjadikan waktu perjalanan sebagai bagian dari proses komunikasi.
Tren mengurangi paparan digital juga terlihat dari meningkatnya minat terhadap dumbphone di Amerika Serikat. Perangkat tersebut menawarkan fungsi dasar seperti panggilan dan SMS tanpa berbagai layanan yang tersedia pada smartphone. Axios melaporkan pada Mei 2026 bahwa dorongan untuk menggunakan teknologi yang lebih sederhana turut berkembang di kalangan Gen Z.
Tren komunikasi lambat menunjukkan adanya ruang bagi cara berkomunikasi yang tidak selalu mengutamakan kecepatan. Carrier Pidge dan Roost menjadi contoh layanan yang menjadikan proses menunggu sebagai bagian dari pengalaman berkomunikasi secara digital.