Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tren Slow Communication Viral, Gen Z Kirim Chat Lewat Merpati Virtual
ilustrasi pengguna sedang mengetik pesan di smartphone (pixabay.com/truyentranhmoi123)
  • Tren slow communication di kalangan Gen Z AS memakai aplikasi seperti Carrier Pidge dan Roost, yang sengaja memperlambat pengiriman pesan lewat hewan virtual.
  • Carrier Pidge, diluncurkan April 2026, melampaui 75.000 pengguna; pesan dibawa merpati virtual dan berpeluang 0,2 persen hilang jika merpatinya tersesat atau “mati”.
  • Roost mencatat sekitar 650.000 unduhan pada Agustus 2026, menawarkan lebih dari 1.000 hewan pengantar untuk memberi jeda dari komunikasi instan dan notifikasi berlebihan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gen Z di Amerika Serikat mulai mencoba cara berkomunikasi yang tidak selalu mengandalkan kecepatan. Di tengah derasnya pesan instan dan notifikasi, sebagian pengguna memilih aplikasi yang sengaja memperlambat pengiriman pesan hingga membutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai kepada penerima. Tren ini dikenal sebagai slow communication atau komunikasi lambat dan menjadi bagian dari konsep slow tech.

Berbeda dari WhatsApp, Telegram, dan layanan pesan instan lain yang memungkinkan pesan diterima dalam hitungan detik, aplikasi dalam tren ini membuat pengguna menunggu proses pengiriman. Pesan bahkan dapat diantarkan oleh hewan virtual seperti merpati, siput, hingga penguin. Dua aplikasi yang mengusung konsep tersebut adalah Carrier Pidge dan Roost.

1. Carrier Pidge bawa konsep kirim pesan ala merpati pos

aplikasi Carrier Pidge (carrierpidge.app)

Carrier Pidge merupakan aplikasi yang memungkinkan pengguna mengirim pesan melalui merpati virtual. Aplikasi tersebut diluncurkan pada April 2026 dan mengalami lonjakan pengguna setelah pengembangnya, Noah Iarrobino, membagikan unggahan tentang aplikasi tersebut di media sosial pada Agustus. Menurut laporan The New York Times, jumlah pengguna Carrier Pidge kini telah melampaui 75.000.

Sebelumnya, aplikasi tersebut hanya memiliki beberapa ratus pengguna. Lonjakan itu terjadi ketika konsep komunikasi lambat mulai menarik perhatian di tengah kebiasaan berkirim pesan secara instan. Kecepatan merpati digital dalam aplikasi ini dapat mencapai sekitar 110 mil per jam atau 177 kilometer per jam.

Pengguna juga dapat memantau perjalanan merpati melalui peta hingga pesan tiba di tujuan. Konsep tersebut dibuat menyerupai pengiriman pesan menggunakan merpati pos, tetapi seluruh prosesnya berlangsung secara digital. Waktu tempuh pesan bergantung pada jarak antara pengirim dan penerima.

2. Pesan bisa hilang jika merpatinya "mati"

aplikasi Carrier Pidge (carrierpidge.app)

Carrier Pidge tidak hanya memperlambat pengiriman pesan, tetapi juga membuat pesan memiliki kemungkinan tidak sampai ke tujuan. Setiap merpati digital memiliki peluang sekitar 0,2 persen untuk tersesat atau "mati" selama perjalanan. Jika hal itu terjadi, pesan yang dibawa merpati tersebut tidak akan sampai kepada penerima. Pengguna yang kehilangan merpati dapat membeli penggantinya dengan harga 0,99 dolar AS atau sekitar Rp17 ribuan.

Mekanisme tersebut menjadi bagian dari pengalaman menggunakan Carrier Pidge yang berbeda dari aplikasi pesan instan pada umumnya. Pengguna tidak sekadar menekan tombol kirim dan menunggu pesan diterima. Mereka dapat memantau perjalanan merpati melalui peta hingga mencapai tujuan. Waktu yang dibutuhkan untuk mengirim pesan pun menjadi bagian dari proses komunikasi.

3. Roost punya lebih dari 1.000 hewan pengantar pesan

aplikasi Roost (rootsocial.app)

Konsep serupa ditawarkan Roost, aplikasi ini memungkinkan pengguna memilih berbagai hewan digital untuk mengantarkan pesan, termasuk burung, siput, kura-kura, dan penguin. Pilihan yang tersedia mencapai lebih dari 1.000 hewan dengan kecepatan pengiriman yang berbeda-beda. Jika memilih siput, pesan bergerak dengan kecepatan sedikit lebih dari 1 mil per jam atau sekitar 1,6 kilometer per jam. Sementara itu, burung hantu dapat membawa pesan dengan kecepatan sekitar 20 mil per jam atau 32 kilometer per jam.

Roost juga mencatat pertumbuhan jumlah unduhan. Pada Agustus 2026, aplikasi tersebut dilaporkan telah mencatat sekitar 650.000 unduhan. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan Roost di tengah munculnya minat terhadap layanan komunikasi yang tidak mengandalkan pengiriman pesan secara instan.

4. Tren slow communication muncul di tengah kelelahan digital

ilustrasi seorang perempuan sedang memegang smartphone (pexels.com/cottonbro studio)

Popularitas Carrier Pidge dan Roost muncul di tengah perhatian terhadap cara berkomunikasi yang lebih lambat. Logan Mendelsohn, pengembang Roost, mengatakan aplikasinya dibuat dengan pendekatan slow tech untuk memberi kesempatan kepada pengguna menjauh sejenak dari komunikasi serba instan di smartphone. "Kami berfokus pada gerakan teknologi lambat, yang memungkinkan orang untuk melepaskan diri dari sifat instan ponsel pintar," ujar Mendelsohn, seperti dikutip The Asia Business Daily, Selasa (22/9/2026).

Profesor Georgetown University Carl Newport menjelaskan, arus informasi yang terlalu cepat dapat membuat seseorang kesulitan memusatkan perhatian pada satu hal. Menurutnya, aplikasi seperti Carrier Pidge dan Roost dapat mendorong pengguna berpikir lebih dulu sebelum mengirim pesan dan memberi perhatian lebih pada isi komunikasi. Carrier Pidge dan Roost menawarkan cara berbeda dalam berkirim pesan. Alih-alih membuat pesan sampai dalam hitungan detik, kedua aplikasi tersebut menjadikan waktu perjalanan sebagai bagian dari proses komunikasi.

Tren mengurangi paparan digital juga terlihat dari meningkatnya minat terhadap dumbphone di Amerika Serikat. Perangkat tersebut menawarkan fungsi dasar seperti panggilan dan SMS tanpa berbagai layanan yang tersedia pada smartphone. Axios melaporkan pada Mei 2026 bahwa dorongan untuk menggunakan teknologi yang lebih sederhana turut berkembang di kalangan Gen Z.

Tren komunikasi lambat menunjukkan adanya ruang bagi cara berkomunikasi yang tidak selalu mengutamakan kecepatan. Carrier Pidge dan Roost menjadi contoh layanan yang menjadikan proses menunggu sebagai bagian dari pengalaman berkomunikasi secara digital.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article