Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Desa Tenun di Lombok untuk Melihat Tradisi Menenun dari Dekat

4 min read
5 Desa Tenun di Lombok untuk Melihat Tradisi Menenun dari Dekat
ilustrasi kain tenun (commons.wikimedia.org/Meithyra Melviana Simatupang)
  • Lombok memiliki lima desa tenun—Sukarara, Sasak Ende, Pringgasela, Bayan, dan Sade—yang memperlihatkan warisan tekstil Sasak melalui proses tradisional dan kehidupan perajin.
  • Sukarara menawarkan songket serta belajar menenun, Sasak Ende memadukan tenun dengan budaya adat, sementara Pringgasela dikenal lewat tenun ikat berpewarna alami.
  • Bayan mempertahankan beragam kain tenun sebagai pelestarian budaya, sedangkan Desa Adat Sade masih relevan dikunjungi dengan memperhatikan pemulihan pascakebakaran 22 Agustus 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lombok tidak hanya dikenal lewat pantai dan kawasan Mandalika, tetapi juga memiliki tradisi tenun yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sasak. Kain tenun Lombok dibuat secara tradisional dengan teknik dan motif yang diwariskan antar generasi. Sejumlah desa wisata bahkan membuka kesempatan untuk melihat proses pembuatan kain hingga mencoba aktivitas menenun secara langsung.

Tradisi tersebut tersebar di beberapa wilayah Lombok, mulai dari sentra songket di Lombok Tengah hingga tenun ikat dan tenun tradisional di Lombok Timur serta Lombok Utara. Setiap desa menawarkan suasana perkampungan dan pengalaman budaya yang berkaitan dengan kehidupan para perajin. Berikut lima desa tenun tradisional di Lombok yang dapat menjadi pilihan untuk mengenal lebih dekat warisan tekstil Sasak.

  1. 1. Desa Sukarara

    ilustrasi menenun
    ilustrasi menenun (commons.wikimedia.org/RaiyaniM)

    Desa Sukarara di Kabupaten Lombok Tengah dikenal sebagai salah satu pusat kerajinan tenun Lombok. Desa ini menjadi pusat kerajinan tenun songket dengan proses pembuatan yang masih dilakukan menggunakan alat tenun tradisional. Aktivitas menenun banyak dilakukan oleh perempuan setempat yang telah mempelajari keterampilan tersebut sejak usia muda.

    Kunjungan ke Sukarara memungkinkan wisatawan untuk melihat proses pembuatan dan belajar langsung. Pengujung dapat berfoto menggunakan pakaian adat Sasak di desa tersebut. Suasana desa dengan rumah tradisional dan aktivitas para penenun membuat Sukarara menjadi salah satu titik yang menarik untuk mengenal kerajinan tekstil Lombok.

  2. 2. Desa Sasak Ende

    ilustrasi menenun
    ilustrasi menenun (commons.wikimedia.org/Trisno Utomo Cibodas)

    Desa Wisata Adat Sasak Ende terletak di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Suasana perkampungan di desa ini masih mempertahankan bangunan tradisional dengan material seperti bambu dan daun ilalang. Lingkungan tersebut memberikan gambaran kehidupan masyarakat Sasak yang masih menjaga tradisi lokal.

    Tenun menjadi salah satu budaya yang dapat ditemukan di Sasak Ende. Di desa ini, wisatawan dapat melihat atraksi menenun kain tradisional sekaligus mengenal makna di balik motif kain yang dibuat oleh para perajin. Selain menenun, suasana desa juga dilengkapi kesenian musik dan tarian tradisional yang menjadi bagian dari pengalaman budaya di kawasan tersebut.

  3. 3. Desa Pringgasela

    ilustrasi menenun
    ilustrasi menenun (commons.wikimedia.org/Suryasriyama)

    Desa Pringgasela berada di Kabupaten Lombok Timur dan dikenal sebagai salah satu sentra tenun di wilayah tersebut. Masyarakat Pringgasela memiliki tradisi tenun yang terus dilestarikan dengan proses pembuatan yang mencakup tahapan memintal benang hingga menenun. Desa ini juga dikenal melalui kegiatan budaya yang menampilkan ratusan penenun.

    Pringgasela dikenal dengan teknik tenun ikat dengan penggunaan pewarna alami. Tradisi tersebut membuat desa ini menawarkan pengalaman wisata tekstil yang berkaitan erat dengan keterampilan masyarakat setempat. Pada 2026, Pringgasela juga menjadi lokasi Alunan Budaya Desa yang menghadirkan pameran budaya, pertunjukan seni, dan pengenalan proses pembuatan tenun.

  4. 4. Desa Bayan

    ilustrasi menenun
    ilustrasi menenun (commons.wikimedia.org/Distifani)

    Desa Bayan di Kabupaten Lombok Utara tercatat sebagai desa wisata yang masih memiliki tradisi tenun Bayan. Kawasan ini menyediakan berbagai hasil tenun, termasuk kain tenun, tas tenun, dan pakaian berbahan tenun. Keberadaannya memperlihatkan bahwa kegiatan menenun menjadi bagian dari pengalaman wisata budaya di Desa Bayan.

    Kain tenun juga memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat Bayan. Penelitian Universitas Mataram menjelaskan bahwa masyarakat Desa Bayan mempertahankan kegiatan menenun sebagai bagian dari pelestarian budaya. Beragam jenis kain seperti Londong Abang, Kereng Poleng, Jong, dan Sapuk menjadi bagian dari tradisi tenun masyarakat setempat.

  5. 5. Desa Adat Sade

    ilustrasi menenun
    ilustrasi menenun (commons.wikimedia.org/Focusfeel)

    Desa Adat Sade di Lombok Tengah selama ini dikenal sebagai salah satu desa penghasil tenun Sasak. Perempuan di Sade mempelajari keterampilan menenun sejak kecil dan aktivitas tersebut menjadi bagian dari pelestarian budaya Sasak. Desa ini juga dikenal dengan rumah tradisional yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

    Namun, kondisi Sade saat ini berbeda setelah kebakaran yang melanda kawasan permukiman adat pada 22 Agustus 2026. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah mencatat kawasan tersebut sedang memasuki proses pemulihan dan pembangunan kembali rumah adat yang terdampak. Karena itu, keberadaan Sade tetap relevan sebagai salah satu desa tenun tradisional Lombok, tetapi kunjungan langsung perlu memperhatikan perkembangan pemulihan kawasan.

    Kelima desa tersebut menawarkan pengalaman berbeda untuk mengenal tradisi tenun Sasak. Sukarara, Ende, Pringgasela, Bayan, dan Sade menjadi pilihan untuk melihat warisan tenun Lombok secara langsung. Kondisi terbaru Sade juga perlu diperhatikan karena masih dalam pemulihan pascakebakaran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More