Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

⁠Apa Itu Bali Belly yang Sering Dirasakan Bule saat ke Bali?

Potret bule sakit perut
Potret bule sakit perut (pexels.com/cottonbro studio)
Intinya sih...
  • Bali Belly adalah istilah untuk diare akut, sakit perut, mual, dan muntah yang dialami wisatawan di Bali.
  • Penyebab utama Bali Belly adalah konsumsi makanan dan minuman terkontaminasi bakteri, virus, atau parasit.
  • Wisatawan asing lebih rentan mengalami Bali Belly, karena sistem pencernaan mereka belum terbiasa dengan mikroorganisme lokal.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pulau Bali dikenal sebagai salah satu destinasi wisata favorit wisatawan mancanegara. Namun, di balik keindahan pantai dan budayanya, ada satu istilah yang cukup sering dibicarakan para turis asing, yakni Bali Belly. Istilah ini merujuk pada gangguan pencernaan yang kerap dialami wisatawan, terutama bule, selama atau setelah berlibur di Pulau Dewata.

Meski terdengar unik, Bali Belly bukanlah kondisi yang bisa dianggap sepele. Gangguan ini dapat mengganggu kenyamanan liburan dan bahkan membuat wisatawan harus membatalkan agenda perjalanan.

Table of Content

1. Apa yang dimaksud dengan Bali Belly?

1. Apa yang dimaksud dengan Bali Belly?

Bali Belly adalah istilah non-medis yang digunakan untuk menggambarkan kondisi diare akut, sakit perut, mual, hingga muntah yang dialami wisatawan saat berada di Bali. Dalam dunia medis, kondisi ini lebih dikenal sebagai traveler’s diarrhea atau diare akibat perjalanan.

Gangguan ini biasanya muncul secara tiba-tiba dan dapat berlangsung selama beberapa hari. Pada kasus tertentu, Bali Belly juga disertai dengan kram perut, demam ringan, dan tubuh yang terasa lemas akibat kehilangan cairan.

2. Penyebab Bali Belly

Potret sakit perut
Potret sakit perut (pexels.com/Polina Zimmerman)

Penyebab utama Bali Belly umumnya berkaitan dengan konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi bakteri, virus, atau parasit. Wisatawan yang tidak terbiasa dengan kondisi lingkungan setempat lebih rentan mengalami gangguan pencernaan ini.

Air yang tidak dimasak dengan baik, es batu dari air mentah, serta makanan yang kurang higienis menjadi pemicu paling umum. Selain itu, perbedaan kebiasaan makan, penggunaan rempah yang kuat, serta konsumsi makanan jalanan tanpa adaptasi juga dapat membuat sistem pencernaan wisatawan mengalami “kejutan” yang berakibat pada gejala sakit perut dan diare.

3. Kenapa bule lebih rentan mengalami Bali Belly?

Wisatawan asing, khususnya bule atau dari Negeri Barat, cenderung lebih rentan, karena sistem pencernaan mereka belum terbiasa dengan mikroorganisme lokal. Tubuh mereka belum memiliki kekebalan terhadap bakteri yang mungkin sebenarnya aman bagi penduduk setempat.

Selain itu, gaya liburan yang cenderung ingin mencoba berbagai kuliner lokal, termasuk makanan kaki lima, turut meningkatkan risiko terpapar penyebab Bali Belly. Kurangnya perhatian terhadap kebersihan tangan sebelum makan juga menjadi faktor pendukung. Terlebih lagi aneka rempah dan makanan pedas di Indonesia menambah alasan mengapa bule rentan mengalami Bali Belly.

4. Gejala yang umum dirasakan

Potret bule di Bali
Potret bule di Bali (unsplash.com/Nick Fewings)

Gejala Bali Belly bisa berbeda pada setiap orang, tetapi umumnya meliputi diare berulang, nyeri perut, perut kembung, mual, dan muntah. Pada beberapa kasus, penderita juga mengalami demam ringan dan kelelahan.

Gejala tersebut biasanya muncul dalam waktu 6-48 jam setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi, terutama pada wisatawan yang tetap beraktivitas di tengah cuaca panas Bali.

5. Cara mencegah Bali Belly

Pencegahan Bali Belly sebenarnya cukup sederhana. Wisatawan disarankan untuk hanya mengonsumsi air minum dalam kemasan, menghindari es batu yang tidak jelas sumber airnya, serta memilih makanan yang dimasak hingga matang sempurna.

Mencuci tangan sebelum makan, membawa hand sanitizer, dan tidak sembarangan jajan juga menjadi langkah penting. Wisatawan sebaiknya memberi waktu bagi tubuh untuk beradaptasi dengan makanan lokal Indonesia yang cenderung berminyak, pedas, dan kaya rempah secara bertahap.

6. Kapan harus ke dokter?

Potret konsultasi dengan dokter
Potret konsultasi dengan dokter (pexels.com/Lucas Guimarães Bueno)

Jika gejala Bali Belly berlangsung lebih dari tiga hari, disertai demam tinggi, atau terdapat darah dalam feses, penderita disarankan segera mencari bantuan medis. Penanganan yang tepat diperlukan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Bali Belly memang kerap menjadi pengalaman tidak menyenangkan bagi wisatawan. Namun, dengan kewaspadaan dan kebiasaan makan yang lebih hati-hati, risiko gangguan pencernaan ini dapat diminimalkan, sehingga liburan di Bali tetap berjalan nyaman dan menyenangkan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dewi Suci Rahayu
EditorDewi Suci Rahayu
Follow Us

Latest in Travel

See More

7 Tempat Honeymoon di Bogor yang Romantis dan Bernuansa Alam

29 Jan 2026, 20:30 WIBTravel