ilustrasi liburan di Jepang (unsplash.com/PJH)
Cara paling populer untuk mengatasi Post Japan Syndrome adalah dengan langsung membuka situs booking dan mencari tiket ke Jepang lagi. Jepang adalah salah satu destinasi dengan repeat visitor tertinggi di dunia. Banyak di antaranya datang kembali bukan karena belum puas mengeksplor, tapi karena tidak tahu cara lain untuk mengisi kekosongan itu. Tiap musim di Jepang pun terasa seperti versi berbeda dari negara yang sama, yakni musim semi dengan sakura, musim panas dengan matsuri, musim gugur dengan koyo, dan musim dingin dengan salju dan onsen. Selalu ada alasan valid untuk kembali.
Namun, ada juga yang meresponsnya dengan cara lebih produktif, seperti mulai belajar bahasa Jepang, mendalami budayanya lewat buku atau film, atau bergabung dengan komunitas pencinta Jepang untuk berbagi cerita. Bukan untuk mengganti pengalaman di sana, tapi untuk memperpanjang koneksi dengan sesuatu yang sudah terlanjur terasa seperti rumah kedua. Mungkin di situlah inti dari Post Japan Syndrome, yaitu Jepang tidak terasa seperti destinasi wisata biasa, tapi seperti tempat yang untuk sebagian orang terasa lebih familiar daripada yang seharusnya.
Post Japan Syndrome bukan tanda bahwa kamu terlalu sensitif atau tidak bersyukur dengan kehidupan sendiri. Itu tanda bahwa kamu baru saja mengalami sesuatu yang cukup berkesan. Jepang memang punya cara unik untuk membuat orang merasa sudah mengenal tempatnya, padahal baru pertama kali datang. Apakah kamu sudah pernah merasakannya juga?