Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi Gunung Fuji saat musim dingin
ilustrasi Gunung Fuji saat musim dingin (unsplash.com/Filiz Elaerts)

Biasanya kalau kita liburan ke Jepang, kita hanya menyaksikan Gunung Fuji dari kejauhan. Padahal sebetulnya kalau kamu suka mendaki, mendaki Gunung Fuji bisa jadi aktivitas seru untuk mengisi momen liburan. Gunung Fuji merupakan gunung tertinggi di Jepang. Memiliki ketinggian 3.776 mdpl, gunung ini terletak di antara dua prefektur, yakni Prefektur Yamanashi dan Shizuoka. 

Untuk musim pendakian Gunung Fuji sendiri, dimulai dari awal Juli hingga pertengahan September, serta saat anak-anak sekolah sedang libur. Lalu bagaimana dengan pendakian di bulan-bulan lain? Bisakah mendaki Gunung Fuji di musim dingin? Berikut penjelasannya!

1. Kondisi Gunung Fuji saat musim dingin

ilustrasi jalur pendakian bersalju (unsplash.com/Randy Yip)

Mendaki gunung bukanlah aktivitas yang mudah dilakukan. Semakin tinggi gunungnya, semakin sulit juga pendakian yang akan kita lakukan. Hal itu juga berlaku saat kamu mendaki Gunung Fuji. Di hari-hari pendakian biasa, cuaca berubah-ubah dengan cepat. Langit yang cerah bisa mendadak berubah gelap dan hujan. Di musim dingin, Gunung Fuji jadi semakin sulit untuk ditaklukkan.

Pasalnya dari bulan November hingga Maret, suhu di jalur pendakian sampai ke puncak bisa turun hingga ke -30 derajat Celcius. Ditambah lagi dengan tumpukan salju dan es di jalur, membuat pendakian ke puncak jadi lebih sulit dari biasanya. Seolah belum cukup, kamu juga harus menghadapi hebusan angin dingin yang kencang. Di puncak terutama, angin bisa bertiup hingga kecepatan 40-50 meter per detiknya. 

2. Risiko pendakian Gunung Fuji di musim dingin

ilustrasi pendaki di jalur pendakian bersalju (unsplash.com/Tom Cleary)

Di musim panas, jalur pendakian Gunung Fuji memang sangat ramai. Namun suasananya berubah seratus delapan puluh derajat ketika musim dingin tiba. Pertama, jalur pendakian landai dipenuhi oleh tumpukan salju. Gak jarang papan petunjuk juga hilang tertimbun salju atau tertiup angin sehingga membuat pendaki rawan tersesat. Seolah belum cukup, lereng gunung yang miring akan berubah menjadi seperti seluncur es yang licin.

Akibatnya sekali terjatuh, pendaki malang itu akan meluncur ke bawah dengan kecepatan mematikan. Lebih parahnya lagi adalah, semua fasilitas dan bangunan sepanjang jalur juga akan ditutup sementara waktu. Alhasil jika terjadi kecelakaan, atau badai salju, akan sulit bagi pendaki untuk mencari pertolongan maupun tempat berlindung. 

3. Bisakah mendaki Gunung Fuji selama musim dingin?

ilustrasi pendaki terjatuh (unsplash.com/Luka Senica)

Berbeda dengan pendakian gunung di Indonesia yang buka hampir sepanjang tahun, pendakian ke Gunung Fuji hanya buka selama waktu tertentu, yakni awal bulan Juli hingga pertengahan September. Setelah bulan September, pendakian Gunung Fuji sangat tidak dianjurkan karena kondisi jalur yang berbahaya. Sayangnya kadang masih aja ada orang nekat yang melakukan pendakian.

Namun karena semua pos ditutup, pendakian di luar musim yang ditentukan akan dianggap ilegal. Jika terjadi hal-hal yang gak diinginkan, pihak pengelola akan lepas tangan dan risiko ditanggung sepenuhnya oleh pendaki. Gak jarang pendakian ilegal ini berakhir dengan kecelakaan fatal dan membuat pihak kepolisian turun tangan untuk melakukan evakuasi. 

Mendaki Gunung Fuji memang gak sama dengan gunung-gunung di Indonesia. Namun tetap saja, yang namanya mendaki gunung, bukan aktivitas yang mudah untuk dilakukan. Terutama di musim dingin, di mana kondisi gunung berubah jadi ekstrim untuk dilalui. Daripada nekat dan berakhir buruk, lebih baik kalau dari awal kamu gak mencoba mendaki sama sekali. Tenang, ada banyak aktivitas wisata lain kok yang bisa kamu coba di Jepang. Gak kalah seru dan tentu aja lebih aman!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team