Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bukan Sekadar Festival Panen, Ini 3 Makna di Balik Chuseok

3 min read
Bukan Sekadar Festival Panen, Ini 3 Makna di Balik Chuseok
ilustrasi Chuseok (Pexels.com/Brian Phetmeuangmay)
  • Chuseok dirayakan pada hari ke-15 bulan kedelapan kalender Lunar sebagai festival panen, dengan makanan seperti songpyeon yang melambangkan syukur, pertumbuhan, dan harapan masa depan.
  • Libur tiga hari Chuseok menjadi momen keluarga pulang ke kampung halaman, menikmati hidangan, serta mempererat kebersamaan melalui permainan Yut Nori dan tarian Ganggangsullae.
  • Perayaan ini juga menghormati leluhur lewat ritual Charye dan ziarah Seongmyo, sementara bulan purnama serta isian kastanye songpyeon melambangkan kemakmuran, keturunan, dan kesejahteraan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Chuseok menjadi salah satu perayaan penting bagi masyarakat Korea. Perayaan yang berlangsung pada tanggal 15 bulan kedelapan kalender Lunar ini identik dengan bulan purnama, hidangan khas, dan momen berkumpul bersama keluarga. Namun, Chuseok bukan hanya tentang libur panjang atau festival panen.

Di balik berbagai tradisinya, terdapat nilai tentang rasa syukur, keluarga, leluhur, hingga harapan untuk masa depan. Hal tersebut diperkenalkan oleh staf King Sejong Institute Jakarta (KSIJ), Nabilah, dalam Festival Budaya Korea: Hangeul Day & Chuseok di Hall KW, Unika Atma Jaya Kampus Semanggi, Minggu (11/10/2026). Lantas, apa saja makna di balik perayaan Chuseok?

  1. 1. Bentuk rasa syukur atas hasil panen

    ilustrasi panen padi (Pexels.com/Ahmad Nafik Mundzir)
    ilustrasi panen padi (Pexels.com/Ahmad Nafik Mundzir)

    Chuseok dikenal sebagai festival panen raya. Bagi masyarakat Korea pada masa lalu yang banyak bergantung pada pertanian, perayaan ini menjadi momen untuk bersyukur setelah bekerja keras sepanjang tahun. Hasil bumi yang melimpah menjadi simbol berkah alam yang patut disyukuri. Karena itu, berbagai makanan yang disajikan saat Chuseok juga memiliki makna tersendiri.

    Salah satu yang paling populer adalah songpyeon, kue berisi kacang atau wijen yang dibentuk menyerupai bulan sabit. Ada pula jeon (gorengan tepung khas Korea yang dilapisi telur), pir Korea atau bae, dan apel yang menjadi bagian dari sajian Chuseok. Menariknya, bentuk bulan sabit pada songpyeon juga mengandung filosofi tentang kehidupan. Bulan purnama dianggap sudah mencapai puncaknya dan kemudian akan mengecil, sedangkan bulan sabit masih akan terus tumbuh hingga menjadi penuh. Karena itu, bulan sabit menjadi simbol pertumbuhan, harapan, perkembangan, dan masa depan yang terus bersinar.

  2. 2. Jadi momen berkumpul bersama keluarga

    ilustrasi mudik (Pexels.com/Dapur Melodi)
    ilustrasi mudik (Pexels.com/Dapur Melodi)

    Chuseok juga identik dengan tradisi pulang ke kampung halaman. Libur selama tiga hari memungkinkan anggota keluarga berkumpul dan mempererat hubungan satu sama lain. Selain menikmati makanan bersama, keluarga juga dapat menghabiskan waktu dengan berbagai permainan tradisional. Salah satunya Yut Nori, permainan yang menggunakan empat batang kayu khusus yang dilempar ke udara sebagai pengganti dadu.

    Selain itu, ada Ganggangsullae, tarian yang dilakukan sekelompok perempuan dengan mengenakan hanbok. Mereka bergandengan tangan membentuk lingkaran sambil menari dan menyanyikan lagu Ganggangsullae dengan tempo yang semakin cepat. Kedua tradisi tersebut menunjukkan bahwa Chuseok tidak hanya berisi ritual, tetapi juga menjadi ruang untuk menikmati waktu bersama keluarga.

  3. 3. Bentuk penghormatan kepada leluhur dan harapan masa depan

    Staf KSIJ Nabilah memandu acara Festival Budaya Korea: Hangeul Day & Chuseok di Hall KW, Unika Atma Jaya Kampus Semanggi (Dok. Pribadi/Indiana Malia)
    Staf KSIJ Nabilah memandu acara Festival Budaya Korea: Hangeul Day & Chuseok di Hall KW, Unika Atma Jaya Kampus Semanggi (Dok. Pribadi/Indiana Malia)

    Chuseok juga menjadi waktu untuk mengingat dan menghormati leluhur. Masyarakat Korea mengenal Charye, yakni ritual memberikan persembahan makanan, serta Seongmyo, tradisi berziarah dan membersihkan makam leluhur. Menariknya, makna tentang keluarga dan leluhur juga dapat ditemukan dalam makanan Chuseok. Menurut Nabilah, isian kastanye atau Bam pada songpyeon berkaitan dengan keturunan, kemakmuran, dan hubungan kuat antara leluhur dengan generasi penerus.

    Sementara itu, Boreum Dal, atau bulan purnama penuh, menjadi bagian penting dalam perayaan Chuseok. Bulan yang bulat dan terang melambangkan kemakmuran, kelimpahan, harapan, dan kesejahteraan. Dengan demikian, berbagai tradisi Chuseok sebenarnya membawa pesan yang saling berkaitan. Ada rasa syukur atas apa yang telah diperoleh, kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga, penghormatan kepada leluhur, serta harapan agar kehidupan generasi berikutnya terus berkembang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More