Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Di mana Spot Bukber Terfavorit di Kompleks Masjidil Haram?
Masjidil Haram (commons.wikimedia.org/Richard Mortel)

Wisata religi selalu punya cara unik menghadirkan pengalaman yang sulit dilupakan, terutama saat momen Ramadan ketika suasana spiritual bertemu dengan aktivitas sosial yang terasa sangat hidup. Di kawasan Masjidil Haram, tradisi berbuka puasa bukan sekadar makan bersama, melainkan bagian dari pengalaman perjalanan yang sarat makna sekaligus penuh cerita.

Banyak jamaah yang sengaja datang lebih awal demi mendapatkan tempat terbaik, sebab setiap sudut memiliki karakter suasana yang berbeda. Berikut beberapa lokasi bukber di Kompleks Masjidil Haram yang paling sering dipilih jamaah beserta alasan praktis di balik popularitasnya.

1. Jamaah memilih area pelataran dekat King Fahd Gate karena aksesnya paling mudah

King Fahd Gate (commons.wikimedia.org/King Eliot)

Area pelataran dekat King Fahd Gate menjadi pilihan favorit karena lokasinya berada di salah satu pintu utama yang paling ramai digunakan jamaah internasional. Letaknya strategis, sehingga mudah ditemukan oleh rombongan haji atau umrah yang baru pertama kali datang ke Masjidil Haram. Selain itu, petugas biasanya menata jalur masuk dan keluar dengan rapi sehingga pergerakan jamaah tetap lancar menjelang waktu berbuka. Banyak relawan juga membagikan paket iftar di area ini karena lokasinya terbuka dan mudah dijangkau.

Dari sisi waktu, jamaah biasanya mulai menggelar alas duduk sekitar satu jam sebelum adzan Maghrib agar tidak kehabisan tempat. Suasana di pelataran ini cenderung ramai tetapi tetap tertib karena jamaah duduk berbaris mengikuti arah saf. Faktor lain yang membuat area ini diminati ialah pencahayaan yang terang sehingga nyaman digunakan saat makan. Setelah berbuka, jamaah bisa langsung bersiap mengikuti salat berjamaah tanpa perlu berpindah lokasi.

2. Banyak keluarga memilih area lantai marmer sisi timur karena lebih teduh

Masjidil Haram (commons.wikimedia.org/Richard Mortel)

Area lantai marmer di sisi timur Masjidil Haram dikenal lebih teduh terutama menjelang sore hari. Posisi matahari yang tidak langsung menyinari bagian ini membuat suhu terasa lebih sejuk dibanding sisi lain. Karena alasan itu, banyak keluarga atau jamaah lansia memilih duduk di sini agar tidak cepat lelah saat menunggu waktu berbuka. Permukaan marmer yang bersih juga memudahkan jamaah menata makanan tanpa khawatir terkena debu.

Biasanya petugas kebersihan akan menyiram lantai marmer beberapa kali sebelum waktu Maghrib sehingga permukaan terasa lebih dingin. Hal ini membuat jamaah bisa duduk lebih nyaman meskipun tanpa alas tebal. Selain itu, lokasi ini cukup dekat dengan tempat wudu sehingga memudahkan persiapan salat. Kombinasi faktor suhu, akses, dan kenyamanan menjadi alasan utama area ini selalu cepat penuh.

3. Rombongan jamaah sering memilih area dekat dispenser air zamzam karena praktis

Masjidil Haram (commons.wikimedia.org/Mardetanha)

Spot di sekitar dispenser air zamzam menjadi favorit karena memberikan kemudahan logistik saat berbuka. Jamaah tidak perlu membawa air minum dari jauh karena tersedia dalam jumlah banyak dan mudah dijangkau. Biasanya dispenser ini ditempatkan di beberapa titik strategis, termasuk di koridor dan area pelataran. Keberadaan air zamzam juga menjadi daya tarik tersendiri karena dianggap bagian penting dari pengalaman ibadah.

Jamaah biasanya datang lebih awal untuk menandai tempat duduk di sekitar titik air tersebut. Cara ini memudahkan pembagian makanan ketika berbuka, terutama bagi rombongan besar. Selain itu, petugas rutin memastikan kebersihan area sehingga tetap nyaman digunakan. Faktor kepraktisan inilah yang membuat lokasi ini selalu ramai setiap Ramadan.

4. Jamaah yang ingin suasana lebih tenang memilih area lantai atas masjid

Masjidil Haram (commons.wikimedia.org/Tahir mq)

Lantai atas Masjidil Haram menjadi pilihan bagi jamaah yang menghindari keramaian berlebihan. Lokasinya memang tidak sepadat pelataran utama, sehingga suasana terasa lebih tenang. Banyak jamaah memilih area ini karena dapat berbuka sambil menikmati pemandangan Ka’bah dari ketinggian. Selain itu, angin yang berembus di lantai atas membuat udara terasa lebih sejuk.

Akses menuju lantai atas biasanya melalui eskalator atau tangga khusus yang tersebar di beberapa titik. Jamaah yang datang lebih awal bisa mendapatkan tempat duduk strategis di pinggir area. Setelah berbuka, mereka juga lebih mudah menemukan ruang salat tanpa harus berdesakan. Faktor ketenangan dan ruang yang lebih lega menjadi alasan utama popularitas spot ini.

5. Rombongan besar sering memilih area koridor panjang karena mudah berkumpul

Masjidil Haram (commons.wikimedia.org/Tahir mq)

Koridor panjang di dalam kompleks Masjidil Haram sering dipilih rombongan besar karena menyediakan ruang memanjang yang cukup luas. Area ini memudahkan jamaah duduk berjejer tanpa mengganggu jalur utama pergerakan. Biasanya kelompok travel atau komunitas haji memilih lokasi ini agar anggota rombongan tetap terlihat dan mudah dikumpulkan. Selain itu, jarak antar kelompok relatif teratur karena petugas membantu mengatur posisi duduk.

Koridor juga memiliki pencahayaan merata dan ventilasi udara yang baik sehingga tetap nyaman saat dipadati jamaah. Jamaah biasanya membawa alas panjang untuk memudahkan penataan makanan. Setelah berbuka, rombongan dapat langsung bergerak menuju saf salat tanpa harus berpindah jauh. Kemudahan koordinasi menjadi alasan utama area ini selalu diprioritaskan rombongan besar.

Menentukan lokasi bukber di Masjidil Haram bukan hanya soal tempat duduk, melainkan juga strategi agar perjalanan ibadah berjalan nyaman. Setiap spot memiliki keunggulan berbeda, mulai dari akses, suhu, hingga kemudahan fasilitas. Jika suatu saat mendapat kesempatan merasakan wisata religi di sana saat Ramadan, spot mana yang ingin kamu pilih terlebih dahulu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team