Fakta Katedral Santo Andreas, Simbol Warisan Kristen Singapura

- Katedral Santo Andreas di dekat MRT City Hall merupakan gereja Anglikan tertua Singapura, dinamai santo pelindung Skotlandia dan ditetapkan sebagai monumen nasional pada 1973.
- Gereja pertama berdiri pada 1836, tetapi ditutup lalu dirobohkan setelah kerusakan akibat sambaran petir; bangunan kini dibangun 1856–1864 dan menjadi katedral pada 1870.
- Rancangan Neo-Gotik Inggris karya Ronald MacPherson menampilkan menara runcing, plester madras chunam, kaca patri, serta monumen untuk tokoh kolonial, Pemberontakan Sepoy 1915, dan korban Perang Dunia II.
Katedral Santo Andreas terletak di 11 St Andrew’s Road, di samping Stasiun MRT City Hall di Singapura. Katedral ini merupakan gereja Anglikan yang dinamai menurut nama santo pelindung Skotlandia. Sebagai tempat ibadah Anglikan tertua di Singapura, dinyatakan sebagai monumen nasional pada tahun 1973. Dirancang oleh Letnan Kolonel Ronald MacPherson, katedral ini dibangun dengan bantuan tenaga kerja dari kalangan narapidana asal India.
Katedral Santo Andreas memiliki sejarah panjang dan mencerminkan penyebaran Anglikanisme di seluruh kawasan. Katedral ini juga menyoroti peran komunitas Skotlandia, Inggris, dan India dalam membentuk Singapura pada masa kolonial. Menjadi bagian penting dari warisan keagamaan dan budaya negara kota tersebut. Yuk, simak fakta unik tentang Katedral Santo Andreas berikut ini, guys!
1. Versi aslinya dibangun pada tahun 1835

Pemandangan Katedral Santo Andreas dari UOB Plaza. (commons.wikimedia.org/Zairon) Batu fondasi gereja pertama diletakkan pada tahun 1835, dengan rancangan yang dibuat oleh George D. Coleman. Bangunannya rampung pada tahun 1836 dan dinamai sebagai bentuk penghormatan kepada komunitas Skotlandia setempat yang memberikan dana awal untuk pembangunannya, info NLB. Ibadah pertama berlangsung pada tahun 1837 dan dipimpin oleh pendeta pertamanya, Reverend Edmund White. Pada tahun 1838, Uskup Daniel Wilson dari Kalkuta memimpin upacara konsekrasi resmi gereja.
Gereja pertama memiliki sebuah lonceng yang disumbangkan oleh istri Konsul Amerika Serikat, Joseph Balestier. Lonceng yang dikenal sebagai "Lonceng Revere" ini memiliki tulisan "Revere Boston 1843" pada permukaannya. Pada tahun 1842, JT Thomson menambahkan menara dan puncak menara (spire), namun puncak menara tersambar petir dua kali. Akibat kerusakan yang terjadi, gereja ditutup pada tahun 1852 karena dianggap tidak lagi aman dan kemudian dirobohkan.
2. Versi masa kininya dibangun pada tahun 1856

Pemandangan Katedral Santo Andreas di malam hari. (commons.wikimedia.org/Dietmar Rabich) Batu fondasi katedral yang ada saat ini diletakkan pada tahun 1856 oleh Daniel Wilson, Uskup Kalkuta. Pembangunannya berlangsung hingga tahun 1864. Bangunan ini dirancang oleh MacPherson, seorang insinyur sekaligus kepala Departemen Pekerjaan Umum, yang menerapkan gaya Gotik Inggris. Detail-detail yang rumit diselesaikan oleh John Bennet, seorang insinyur sipil yang juga merancang Mercusuar Raffles.
Ibadah pertama di bangunan baru dilaksanakan pada tahun 1861. Bangunan itu diberkati secara resmi setahun kemudian oleh George EL Cotton. Pada tahun 1870, gereja ini ditetapkan sebagai katedral. Upacara ini dipimpin oleh Arkidiakon JA Beckles sebagai bagian dari pembentukan Keuskupan Bersatu.
3. Arsitektur Katedral Santo Andreas

Pemandangan panti umat di dalam Katedral Santo Andreas. (commons.wikimedia.org/Chainwit.) Katedral Santo Andreas merupakan salah satu dari sedikit gereja di Singapura yang masih menampilkan gaya Neo-Gotik Inggris. Menara loncengnya memiliki jendela-jendela berujung runcing dan puncak menara yang tinggi, sangat mirip dengan Katedral Salisbury di Inggris, lapor National Heritage Board. Di bawah puncak menara terdapat serambi tertutup yang memberikan perlindungan bagi jemaat gereja dan pengunjung dari panasnya iklim tropis.
Madras chunam adalah sejenis plester yang sering digunakan pada bangunan era kolonial awal. Memberikan hasil akhir yang cerah dan halus pada dinding katedral. Campurannya terdiri dari kapur cangkang, putih telur, gula kasar yang disebut jaggery, serta air yang direndam bersama sabut kelapa. Terkadang, bubuk batu sabun halus turut ditambahkan, sementara batu atau kristal batuan digunakan untuk menggosok dinding kering hingga permukaannya menjadi mengilap.
4. Memuat sejumlah monumen peringatan

Tampilan plakat peringatan di dalam Katedral Santo Andreas. (commons.wikimedia.org/Chainwit.) Katedral beserta area di sekelilingnya menampilkan sejumlah monumen peringatan untuk menghormati tokoh-tokoh penting dari masa lalu Singapura. Jendela kaca patri di bagian apsis didedikasikan untuk Raffles, John Crawfurd, dan Mayor Jenderal WB Butterworth. Jendela lain di dekat pintu masuk utama dipasang untuk mengenang perancang sekaligus arsitek katedral, MacPherson.
Beberapa plakat di dinding utara memberikan penghormatan kepada mereka yang gugur dalam Pemberontakan Sepoy tahun 1915 di Singapura. Katedral ini juga memiliki Sayap Peringatan Perang yang dibangun untuk mengenang para anggota militer yang kehilangan nyawa selama Perang Dunia II. Sayap tersebut diresmikan pada tahun 1952 oleh Jenderal Sir Gerald Templer, Komisaris Tinggi untuk Malaya.
Katedral Santo Andreas merupakan contoh menonjol dari desain Neo-Gotik Inggris di Singapura. Menara-menara yang tinggi, jendela kaca patri, serta detail-detail historisnya mencerminkan gaya yang unik dan masa lalu yang kaya. Katedral ini tetap menjadi tempat ibadah yang penting sekaligus bagian tak terpisahkan dari warisan keagamaan dan budaya Singapura.













![[QUIZ] Dari Lagu Galau Pilihanmu, Kamu Cocoknya Healing ke Sini!](https://image.idntimes.com/post/20251028/pexels-bimbim-sindu-96724782-9452081-1_e693edcc-34c2-4e6d-a55e-bb4267e06403.jpg)








