Comscore Tracker

7 Fakta Menarik Shenzhen-China, Desa Nelayan Jadi Kota Desain UNESCO

Ramah wisatawan dan bebas visa bagi masyarakat Indonesia

Shenzhen merupakan salah satu kota di bagian China selatan di Provinsi Guangdong. Kota metropolitan ini dapat dengan mudah dikunjungi dari Hongkong. Meski termasuk wilayah China daratan; tapi bahasa, dialek, dan bahkan kuliner Kanton lebih populer di sini.

Sebelum menjadi salah satu kota terkaya di China, ternyata Shenzhen merupakan desa nelayan. Penasaran dengan kota satu ini? Yuk, simak ulasan berikut!

1. Berawal dari desa nelayan menjadi kota metropolitan

7 Fakta Menarik Shenzhen-China, Desa Nelayan Jadi Kota Desain UNESCOShenzhen (instagram.com/averagetraveller_ac | instagram.com/china.travels)

Shenzhen sebelumnya merupakan desa kecil di perbatasan kota. Semasa kepemimpinan Deng Xiaoping, desa nelayan ini berubah menjadi kawasan ekonomi khusus sejak 1979. Perkembangan dan pembangunan yang pesat, menjadikan Shenzhen salah satu kota dengan pertumbuhan tercepat di dunia dalam 40 tahun terakhir.

Sejak saat itu, Shenzhen menjadi pelabuhan inti perdagangan ekspor dan impor internasional. Sejumlah perusahaan terkemuka di bidang teknologi lahir di Shenzhen, seperti Huawei, Tencent, Xunlei, dan masih banyak lagi. Gak heran kalau menjadikannya sebagai pusat distribusi produk elektronik terbesar di China, bahkan Asia dan dijuluki Silicon Valley of China.

Kamu bisa berkunjung ke Pasar Elektronik Huanqiangbei untuk membeli komponen posel atau komputer, kemudian merakitnya. Selain itu, kota ini dihiasi gedung pencakar langit dengan tinggi ratusan meter bernama Ping An Financial International Center di Distrik Futian yang tingginya mencapai 592 meter dengan 118 lantai.

2. Dinobatkan sebagai Kota Desain UNESCO

7 Fakta Menarik Shenzhen-China, Desa Nelayan Jadi Kota Desain UNESCOShenzhen, China (unsplash.com/darmau)

Shenzhen telah dinobatkan sebagai Kota Desain oleh UNESCO dan menjadi anggota sejak tahun 2008. Kota ini telah menjadi basis produksi pakaian terbesar di China. Gak hanya itu, bidang desain juga mencakup desain grafis, industri, interior, mainan, perhiasan, dan lainnya.

Kota ini pun pernah menyelenggarakan Shenzhen Design Award for Young Talents, menargetkan desainer muda di bawah 35 tahun. Penghargaan ini berfokus pada kontribusi kreativitas terhadap kelestarian lingkungan, pembangunan sosial ekonomi, dan kualitas hidup. Tujuannya untuk mendorong talenta muda untuk menginspirasi dan bertukar ide dalam mengembangkan industri keratif dan budaya.

3. Destinasi wisata yang berlimpah dan bikin betah

7 Fakta Menarik Shenzhen-China, Desa Nelayan Jadi Kota Desain UNESCOWindow of the World (instagram.com/candiceppp5)

Kalau kamu mengira kota metropolitan hanya dihiasi gedung dan area industri, tidak berlaku untuk Shenzhen. Kota ini memiliki destinasi wisata yang terbilang lengkap. Kamu bisa menikmati keindahan alamnya atau sekadar di taman hiburan yang bikin betah.

Shenzhen dikelilingi oleh pegunungan dan laut, kamu pun bisa menikmati keindahan pantai, pulau, dan rangkaian panorama alamnya. Ada Pantai Dameisha dan Pantai Xiaomeisha yang masuk dalam daftar pantai terindah di China.

Sejumlah taman hiburan populer yang bisa kamu kunjungi seperti Splendid China, Window of the World, Happy Valley, dan Overseas Chinese Town East.

Wisata alam lainnya yang bisa kamu kunjungi, yakni Gunung Wutong. Ini merupakan sumber Sungai Shenzhen dan kamu bisa melihat pemandangan kota dari atas gunung ini. 

Baca Juga: 5 Tempat Wisata di Kota Xi'an-China, Ada Terracotta Army, lho

4. Sistem transportasi yang memudahkan pelancong untuk menjelajah sudut kota

7 Fakta Menarik Shenzhen-China, Desa Nelayan Jadi Kota Desain UNESCOBullet train di Stasiun Futian (instagram.com/kapildobal)

Kota metropolitan dengan sistem transportasi yang baik, menjadi salah satu idaman pelancong. Sistem transportasi di Shenzhen juga terhubung ke Hongkong dan Guangzhou. Khususnya untuk moda transportasi kereta api.

Ada 8 jalur kereta api bawah tanah dengan panjang sekitar 286 km. Dilengkapi 5 stasiun kereta api utama yang memungkinkan untuk perjalanan menggunakan bullet train atau kereta cepat semacam Shinkansen di Jepang. Gak ketinggalan, sejumlah terminal bus besar tersebar di berbagai distrik.

Sedangkan jalur laut, ada Dermaga Shekou dan Dermaga Fuyong, sebagian besar menghubungkan antara Shenzhen dengan Hongkong, dan Makau. Masing-masing dermaga terletak di Distrik Nanshan dan Baoan.

Bandara Internasional Baoan Shenzhen, menjadi penghubung untuk jalur udara. Ini merupakan bandara tersibuk kelima di China. Bandara yang terletak di Distrik Futian ini memiliki tiga terminal (Terminal A, B, dan C), jadi kamu perlu memeriksa di terminal mana akan tiba dan berangkat. 

Kabar baik untuk pelancong, sudah diberlakukan kebijakan perjalanan bebas visa selama 144 jam di Guangdong. Hal ini memudahkanmu menikmati sebagian besar wilayah di provinsi tersebut, termasuk Shenzhen. Namun, kamu perlu menggali informasi terbaru sebelum ke sana, bisa saja terjadi perubahan kebijakan.

5. Dialek dan kuliner khas Kanton jadi bagian dari budaya

7 Fakta Menarik Shenzhen-China, Desa Nelayan Jadi Kota Desain UNESCOBaiqieji (instagram.com/mamieliao)

Sama seperti Indonesia, China daratan pun memiliki beragam etnis. Shenzhen sedikit berbeda dari kebanyakan wilayah lain di China. Lokasinya yang dekat dengan Hongkong, gak heran kalau budaya Kanton populer di sana.

Bahasa Kanton, salah satu dialek dalam bahasa Tionghoa Yue yang dituturkan di Guangdong, Hongkong, Makau, dan sekitarnya. Jadi, bahasa Kanton merupakan dialek lokal, sedangkan bahasa Mandarin menjadi bahasa lisan resmi. Selain bahasa dan dialek, kuliner di Shenzhen pun berciri khas Kanton.

Kamu bisa berwisata kuliner di sini, hidangan khas Kanton juga gak kalah lezat dan populer. Coba cicipi sup tradisional Kanton, mi wonton atau baiqie ji yang ayam potong putih yang direbus dan menjadi hidangan utama. Dim sum juga populer di sana. Biasanya untuk camilan atau menu makan siang.

6. Salah satu kota dengan kualitas udara terbaik di China

7 Fakta Menarik Shenzhen-China, Desa Nelayan Jadi Kota Desain UNESCOKota Shenzhen dari Tanglangshan Country Park (instagram.com/autismgray)

Polusi udara menjadi salah satu permasalahan sejumlah kota besar di China. Berbeda dari Beijing, Shenzhen dinilai memiliki kualitas udara lebih tinggi dibandingkan tetangganya, Guangzhou. Selain taman kota, di Shenzhen juga terdapat Taman Hutan Nasional Shimen yang berkontribusi terhadap kualitas udara. 

Shenzhen memang berkembang pesat, tapi tetap memerhatikan lingkungannya. Sekitar 50 persen jalanan di sana dipenuhi oleh pepohonan, taman, dan ruang terbuka hijau sehingga lingkungan perkotaan Shenzhen terasa lebih layak huni. 

7. Iklim yang hangat dan agak sepi selama Tahun Baru Imlek

7 Fakta Menarik Shenzhen-China, Desa Nelayan Jadi Kota Desain UNESCOShenzhen Beach dari InterContinental Hotel (instagram.com/naomixiaoyunyun)

Shenzhen memiliki iklim subtropis yang hangat, dipengaruhi monsun, dan lembap. Musim dingin di sini terbilang ringan dan tidak terlalu dingin. Jadi, memudahkan kamu dari daerah tropis untuk beradaptasi.

Musim gugur atau musim panas menjadi waktu yang tepat untuk mengunjungi Shenzhen. Mungkin akan panas dan hujan, tapi iklimnya tergolong ringan. Topan juga jarang terjadi yakni rata-rata sekali dalam dua tahun.

Selama Tahun Baru Imlek, di Shenzhen justru lebih sepi dari biasanya. Sebab, sebagian besar penduduk kota pulang ke kampung halamannya. Layaknya di Indonesia, kerap kali yang tinggal di kota besar merupakan perantau. Kamu pun bisa lebih leluasa menikmati pesona Kota Shenzhen.

Berawal dari desa nelayan di China selatan, kini menjadi kota metropolitan. Apalagi menjadi Kota Desain UNESCO dan menerapkan kebijakan yang ramah wisatawan. Menarik kan? 

Baca Juga: 10 Hidangan Mie Indonesia yang Dipengaruhi China, Ada Favoritmu?

Fatma Roisatin Nadhiroh Photo Verified Writer Fatma Roisatin Nadhiroh

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Dwi Rohmatusyarifah

Berita Terkini Lainnya